Berita PALI

Petani 'Menjerit' Getah Sulit Keluar, Produksi Karet di PALI Menurun, Seminggu Hasilkan 45 Kg

Petani 'Menjerit' Getah Sulit Keluar, Produksi Karet di PALI Menurun, Seminggu Hasilkan 45 Kg

Petani 'Menjerit' Getah Sulit Keluar, Produksi Karet di PALI Menurun, Seminggu Hasilkan 45 Kg
SRIPOKU.COM/REIGAN RIANGGA
Petani karet di Desa Persiapan Jerambah Besi Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI saat mengumpulkan getah karet. 

Petani 'Menjerit' Getah Sulit Keluar, Produksi Karet di PALI Menurun, Seminggu Hasilkan 45 Kg

SRIPOKU.COM, PALI -- Para Petani karet di Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir) nampaknya semakin "menjerit".

Hal ini lantaran, selain harga getah tak kunjung meningkat, kondisi diperparah dengan musim kemarau panjang, sehingga menyebabkan produksi kaget jauh menurun.

Sehingga berimbas semakin berkurangnya penghasilan para Petani karet di Bumi Serapat Serasan.

Petani karet asal Desa Lunas Jaya Kecamatan Tanah Abang Kabupaten PALI, Piko mengatakan, bahwa dari hari ke hari getah yang keluar semakin sedikit.

"Kalau normal penghasilan kami dalam satu hektar lahan bisa mencapai 100 kilogram, namun akibat kemarau panjang ini paling banyak hanya 45 kilogram dalam satu minggunya," ungkap Piko, Selasa (10/9/2019).

Ribuan Pelamar Bersaing Masuk Kerja di 17 Perusahaan di Banyuasin

Keberadaannya Diperlukan, DLHD Empat Lawang Siapkan Lab Lingkungan Hidup

Miliki Jembatan Berlapis Baja, Dua Desa Di Oku Selatan Ini Kini Telah Terhubung

Harga tak kunjung meningkat dan getah mengering tak sebanding dengan kebutuhan pokok yang harganya dirasa semakin memberatkan beban hidup Petani karet.

"Dengan kondisi seperti ini lengkap sudah penderitaan kami, petani hanya bisa pasrah dan berharap hujan cepat turun agar kondisi ini cepat berlalu," ujarnya.

Sementara, Herman, petani karet asal Desa Persiapan Jerambah Besi Kecamatan Talang Ubi berkata, harga getah saat ini hanya dikisaran Rp 7.000/kg untuk kualitas mingguan.

Harga tersebut apabila normal memang sudah bisa menutupi kebutuhan hidup petani.

"Namun akibat kering, pastilah penghasilan kami jauh menurun dan jalan satu-satunya harus mencari tambahan lain. Bahkan banyak diantara petani meninggalkan desa untuk merantau ke kota menjadi kuli bangunan untuk bisa menyambung hidup," jelasnya.

Sebelumnya, Ahmad Jhoni, Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PALI menyarankan untuk mempertahankan produksi getah saat kemarau.

Dimana, petani harus rutin melakukan pemupukan dan perawatan berkala terhadap tanaman karetnya.

"Kalau kemarau pasti produksi getah menurun, itu sudah proses alam tidak bisa kita hindari. Namun agar tidak begitu anjlok produksinya, petani harus merawat tanaman dan rutin memupuk secara berkala," katanya.

Penulis: Reigan Riangga
Editor: adi kurniawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved