Keterwakilan Perempuan Hanya Ecek-ecek

Di Pemilu 2014 lalu, terdapat 8 perempuan dari 50 kursi tersedia. Namun di pemilu 2019 hanya 4 perempuan yang terpilih di DPRD Palembang.

Keterwakilan Perempuan Hanya Ecek-ecek
ISTIMEWA
Ilustrasi - Seorang perempuan

PALEMBANG, SRIPO -- Pimpinan DPRD Kota Palembang, Sri Wahyuni mengaku prihatin dengan keterwakilan perempuan di lembaga legislatif ibukota Provinsi Sumsel periode 2019-2024. Jumlahnya mengalami penurunan hingga 50 persen keterwakilan perempuan dibanding hasil pemilu 2014 lalu. Parpol dinilia kurang serius menempatkan caleg perempuan, bahkan terkesan hanya ecek-ecek, hanya sebagai pelengkap persyaratan KPU.

Di Pemilu 2014 lalu, terdapat 8 perempuan dari 50 kursi tersedia. Namun di pemilu 2019 hanya 4 perempuan yang terpilih di DPRD Palembang. Padahal dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik dan UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, telah mewajibkan quota minimal 30 persen keterwakilan perempuan, baik dalam susunan kepengurusan partai politik, maupun dalam daftar calon anggota legislatif.

Diakui Sri, pemilu serentak 2019 dianggapnya luar biasa, karena digabungnya pemilu presiden dan pemilu legislatif, sehingga banyak dicurahkan. Baik tenaga, pikiran maupun materi untuk bisa memenangkannya.

"Pemilu 2019 luar biasa sulit, dan allhamdulillah kita terpilih lagi," kata Sri Wahyuni yang menjabat unsur pimpinan atau Wakil Ketua DPRD Palembang," Selasa (20/8).

Ketua DPC Gerindra Palembang ini tak menampik, turunnya keterwakilan perempuan di DPRD Palembang saat ini karena masih belum ada keseriusan partai politik yang ada, untuk benar- benar mengusung kader perempuannya yang berkualitas, dan cenderung hanya pelengkap saja untuk mendaftar di KPU.

"Saya juga bingung, kadang- kadang parpol itu menempatkan kader perempuan sebagai caleg hanya pelengkap saja, bukan diharapkan perempuan itu duduk diparlemen (DPRD)," jelasnya.

Ditambahkan Sri, jikapun kader perempuan itu dimasukan dalam daftar caleg oleh parpol, biasanya perempuan itu dipastikan tidak akan menang nantinya.

"Jadi ecak- ecaklah dimasukan saja asal memenuhi saja," bebernya.

Menurutnya, di Partai Gerindra sudah dilakukan dengan menempatkan kader perempuan yang tangguh, namun kalah bertarung dengan incumbent laki- laki.
Ia berharap ke depannya, ada keseriusan parpol untuk memasukan kader perempuannya yang memang berkualitas, tangguh, handal dan siap bersaing dilapangan.

"Perempuan juga banyak tokoh- tokoh masyarakat, dosen, birokrat, aktivis dan sebagainya. Jangan dijadikan pelengkap penderitaan saja caleg perempuan, karena caleg perempuan yang diusung belum siap dan setengah hati saja," tandasnya.

Meski ada penurunan keterwakilan perempuan di DPRD Palembang nantinya, Sri Wahyuni mengaku tetap akan berjuang semaksimal mungkin untuk memperjuangkan hak- hak perempuan, meski lembaga legislatif mayoritas diisi kaum laki- laki.

"Tetaplah berjuang meski berat. Namanya berjuang bisa lobi-lobilah ke bapak- bapak, dan tidak mungkinlah bapak- bapaknya tidak punya ibu, istri atau anak perempuan. Apalagi undang- undang mengisyaratkan begitu, untuk memperjuangkan hak perempuan," ungkap Sri. (ts-arf)

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved