Berita PALI

Jumlah Pasien DBD di RSUD Kabupaten PALI Meningkat Hingga 50 Persen, Ini Kata dr Tri Fitrianti

Wabah serangan nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) beberapa minggu terakhir mengancam kesehatan warga masyarakat di Kabupaten PALI.

Jumlah Pasien DBD di RSUD Kabupaten PALI Meningkat Hingga 50 Persen, Ini Kata dr Tri Fitrianti
SRIPOKU.COM/RESHA
dr Hj Tri Fitrianti, Direktur RSUD Kabupaten PALI 

Laporan wartawan sripoku.com, Reigan Riangga

SRIPOKU.COM, PALI -- Wabah serangan nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) beberapa minggu terakhir mengancam kesehatan warga masyarakat di Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), Selasa (2/7/2019).

Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah pasien DBD yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kabupaten PALI, sejak bulan Mei hingga Juni 2019.

"Jumlah pasien DBD di RSUD meningkat hingga mencapai 50 persen," ungkap Direktur RSUD PALI, dr Hj Tri Fitrianti, Selasa.

Pada Bulan Mei, kata dr Fitri pihaknya mencatat ada sebanyak 12 orang pasien yang didiagnosa terserang DBD.

Sementara pada Bulan Juni jumlah pasien terserang DBD sedikit meningkat dengan jumlah pasien 19 orang.

DPRD Minta Kenaikan Nilai PBB Ditunda Sampai Pemerintah Kota Palembang Melakukan Peninjauan Ulang

Jenazah Karoman Korban Mutilasi di Sungai Pinang Ogan Ilir Dimakamkan Tanpa Kepala danTangannya

PLN Putuskan Aliran Listrik Lampu Penerangan Jalan Jembatan Musi IV dan Jalur Kereta LRT Palembang

Menurut dr Fitri, pasien yang ada selain dari pola hidup masyarakat yang kurang bersih, juga merupakan imbas dari puncak kasus DBD pada awal tahun 2019 yang terjadi di setiap lima tahun sekali.

"Sebenarnya kasus DBD ini dampak dari kasus tahunan yang puncaknya di awal tahun ini. Memang jumlah ini tak terlalu signifikan dibanding Bulan Januari hingga Maret," katanya.

Sementara, untuk pasien yang terlalu parah atau menonjol tidak terlalu signifikan, lantaran pasien tidak sampai dirujuk ke Rumah Sakit lain.

Hanya saja, kata dr Fitri, ada satu pasien anak yang dirujuk karena dokter anak di RSUD PALI sedang izin.

"Ada satu pasien anak, yang dirujuk itu sebenarnya karena dia pasien BPJS, dokter anak kita lagi izin. Untuk pasien BPJS kalau tidak dipegang dokter spesialis kita tidak dibayar. Jadi kita rujuk saja, bukan karena penyakitnya yang serius," katanya.

Penulis: Reigan Riangga
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved