Ramadan

Ramadan Dari “Sertifikat “ Menuju Prestasi

Sekarang umat Islam telah menapaki anak tangga ujian sesungguhnya dari madrasah Ramadan yang sudah berlalu.

Editor: Salman Rasyidin

Ramadan Dari “Sertifikat “ Menuju Prestasi

Oleh : Otoman, S.S., M.Hum

Dosen Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri  Raden Fatah Palembang

Sekarang umat Islam telah menapaki anak tangga ujian sesungguhnya dari madrasah Ramadan yang sudah berlalu.

Banyak nilai-nilai pendidikan Ramadan yang akan teruji dalam rentang waktu sebelas bulan mendatang. Sesungguhnya hasil dari segala proses yang telah dilalui idealnya akan mewujud dalam setiap gerak kehidupan seorang muslim dengan pelbagai dimensi dan profesinya.

Madrasah Ramadan telah mengeluarkan ‘sertifikat’ takwa bagi mereka yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan selama satu bulan penuh.

Namun miris dalam realitas sosial yang sering kali kita saksikan jauh panggang dari api.

Coba kita tinjau kembali tentang nilai-nilai yang terkandung dalam madrasah ramadan.

Diantaranya adalah ketaatan, kejujuran, kesabaran, kekuatan, dan kedermawanan.

Dengan kata lain, ramadan akan membangun dan membentuk pribadi yang memiliki kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan sosial.

Dapat dikatakan bahwa insan yang bertakwa itu adalah insan yang berprestasi.

Tetapi sering kali kita lalai, dan tidak mau berbenah diri sembari menggali potensi.

Allah yang Maha Rahman dan Rahim berfirman: ”Dan sesungguhnya telah Kami mu­lia­kan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka re­zeki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami telah ciptakan” (QS. Al-Isra (17):70).

Di balik yang tersurat, bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia, ayat di atas mengisyaratkan makna dan pentingnya menjadi manusia prestatif, yang berakhlak terpuji, sehat jasmani dan rohani, berwawasan luas, selalu memelihara dan menjaga diri dari segala larangan-larangan Allah dan melaksanakan perintah-perintahnya, dan di atas segalanya selalu merasakan kehadiran Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang di mana saja dia berada.

Madrasah Ramadan adalah endless process, khususnya bagi seorang shaim (yang ber­pu­a­sa), guna mematangkan fardiyyatuhu (egonya) kemudian meleburkannya dalam self less­ness-nya (ghairiyyatuhu) untuk membangun humanisme universal yang penuh dengan ri­dha dan anugerah Allah SWT.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved