Kaum Terdidik
Menyoal Tentang Kaum Terdidik di Indonesia
Para intelektual telah turut membentuk kehidupan politik di Negara-negara sedang berkembang.
Menyoal Tentang Kaum Terdidik di Indonesia
Oleh: Alip D. Pratama, MH.
Direktur Eksekutif CDCS, Center for Democracy and Civilization Studies
“Para intelektual telah turut membentuk kehidupan politik di Negara-negara sedang berkembang; merekalah para inisiator, para pemimpin, dan para pelaksana dari kehidupan politik itu.—Edward Shils (1972)”
Indonesia adalah sebuah negara yang didirikan dengan pikiran-pikiran yang kuat lagi jernih oleh para pendirinya.
Hal itu bisa kita lihat pada adanya konsep ‘Pancasila’-yang oleh para Pendiri Bangsa, telah disepakati sebagai staatsfundamentalnorm bagi negeri ini.
Pancasila adalah konsep yang mengakomodir fikiran-fikiran besar yang tengah berkecamuk di benak para Pendiri Bangsa.
Makanya, jika kita dengan cermat mau untuk memahami dan mendalami tentang sejarah Pancasila, kita akan menyadari sebuah fakta bahwa sila-sila pada Pancasila itu secara berturut-turut merupakan saripati dari pikiran besar dunia, seperti Islamisme, Humanisme, Nasionalisme, Sosialisme, hingga demokrasi.
Jejak-jejak pikiran tersebut menandakan bahwa para Pendiri Bangsa ini adalah kelompok yang berasal dari jenis masyarakat yang terdidik.
Sebuah jenis masyarakat yang mengenyam pendidikan (baik pendidikan a la Barat, maupun pendidikan a la pesantren), dan dengan keterdidikannya itu, kelompok ini mampu, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Edward Shils di atas, memberikan pengaruhnya yang positif dalam mendesain kehidupan politik yang lebih baik.
Jika kita merumuskan apa itu kaum terdidik, maka akan ada beberapa konsep mengenai ‘kaum terdidik’ yang telah di elaborasi dengan cukup baik oleh Antonio Gramsci, dan juga Julien Benda.
Jika kita melacak karya agung kedua pejuang cum intelektual tersebut, yakni “Catatan dari penjara”-nya Gramsci serta “Pengkhianatan Kaum Intelektual”-nya Benda.
Bagi keduanya, intelektual tidak mesti individual atau kelompok yang secara eksklusif berada ‘di luar’ atau ‘di atas’ masyarakat awam.
Mereka adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Dan intelektual itu tidaklah terikat dengan profesi atau pekerjaan tertentu.
Dalam buku “Genealogi Intelegensia: Pengetahuan dan Kekuasaan Intelegensia Muslim” yang di tulis Yudi Latif, Intelektual itu bisa saja seorang Guru, atau Dokter, atau pekerja buruh sekalipun, sepanjang dia memiliki pengetahuan yang bermanfaat bagi lingkungannya sehingga dengan pengetahuan itu kelompok ini mampu menjadi ‘pengarah’, ‘pembimbing’, atau ‘penuntun’ bagi masyarakat menuju gerbang kesejahteraan dan keberdayaan (Yudi Latif : 2005).
Peran Kaum Terdidik di Indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/alip.jpg)