Ramadhan

Ramadhan Bulan Pendidikan Ruhani

Ibadah puasa (shaum) setiap tahun dihadirkan dan dikunjungi manusia beriman dengan tradisi menahan diri di siang hari

Editor: Salman Rasyidin
ist
DR. Abdurrahmansyah 

Seiring dengan bertambahnya usia fisik manusia seharusnya berbanding lurus dengan kedewasaan emosional dan kematangan spiritual.

Sehingga nilai-nilai kearifan dan contoh perilaku moralis akan semakin mudah ditemukan di tengah-tengah masyarakat modern dengan penetrasi dampak global yang cenderung destruktif.

Suasana politik nasional di Indonesia yang akhir-akhir ini dipertontonkan dengan penggunaan media sosial yang lintas batas, cukup membuat miris dan semakin membuat kita bertanya dimanakah kedewasaan dan kematangan spiritual di bangsa ini. Masih bermaknakah ritual puasa yang setiap tahun kita jalankan.

Kemanakah didikan rasionalitas puasa kita selama ini.

Puasa Mendidik Rasionalitas sebagai Buah Tarbiyah Ruhiyyah

Praktik ibadah puasa di sisi lain juga dapat melatih rasionalitas kemanusiaan sebagai buah dari pendidikan ruhani.

Dengan berpuasa yang benar diiringi dengan pamahaman terhadap hakikat puasa, pelaku puasa seharusnya semakin jernih dalam melihat realitas dan fenomena sosial yang ada disekitarnya.

Seseorang akan terlatih menahan diri dari memandang suatu peristiwa dari sudut pandang sempit.

Jika dalam berpuasa kita diajarkan untuk patuh pada aturan dan syariat puasa yang mengatur kapan mulai imsyak dan kapan tiba saat ifthar.

Maka ini merupakan nilai-nilai moral untuk mendidik manusia agar taat azas dan konsekwen terhadap aturan.

Tanpa mengikuti aturan dan mengabaikan kaidah-kaidah dalam berpuasa, akan membuat ibadah puasa menjadi tidak bermakna (meaningless).

Orang yang berpuasa akan menarik diri dari berkomentar yang tidak bermanfaat, karena akan mengurangi pahala dan menghilangkan susbtansi puasa.

Sekujur tubuh orang yang berpuasa adalah susunan organ fisik dan aktivitas jaringan syaraf yang penuh makna.

Aliran darah dan tarikan napas para pelaku puasa adalah hikmah dan ke- baikan universal.

Oleh karena itu, sangat kontradiktif dan bertolak belakang jika di bulan Ramadhan ini justru setiap detik pikiran dan rasionalitas kita dikorbankan dengan bergelimang prasangka dan bahkan fitnah yang bersifat merusak substansi ibadah puasa.

Sumber:
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved