Debat Capres
Menonton Debat Capres
Debat calon presiden sebagai tradisi modern berkampanye yang menyodorkan intelektualitas sebagai sandaran berkomunikasi argumentatatif
Ingat, bahwa debat juga mempunyai kandungan hiburan dan tontonan.
Memang, peserta debat bukan artis sinetron atau pelawak yang bisa menghibur atau orator, tetapi hendaknya peserta debat mempunyai sadar kamera bahwa dirinya ditonton oleh jutaan pasang mata untuk melihat bagaimana pasangan capres bisa acting atau bergaya di depan kamera.
Sebaiknya semua peserta debat harus selalu ingat bahwa perilaku, sikap dan tata kalimat verbal yang emosional kualitatif harus dibuang dan dihindari jauh-jauh.
Kalimat dan cara berfikir harus mengutamakan kalimat argumentatif kuantitatif dalam menjelaskan suatu gagasan atau suatu masalah.
Kalimat yang emosionalitas kualitatif akan memberi citra negatif dalam seluruh proses debat karena pada dasarnya debat identik dengan ilmiah, data dan fakta, intelek dan rasional.
Ketika kecenderungan yang muncul adalah emosionalitas yang non rasional maka debat akan kehilangan maknanya dan ini akan menurunkan atau memberi kesan kurang baik atau citra negatif bagi peserta debat.
Dari sisi penonton, harus diakui, latar belakang penonton yang beragam tidak semua penonton bisa mencerna atau memahami materi debat atau yang didebatkan.
Istilah atau kosa kata baru yang dinilai asing bagi penonton bisa muncul seperti start-up, unicorn, dilan, atau istilah-istilah khusus dalam pemerintahan, hukum, ekonomi dan lain-lain.
Oleh karena itu, setiap penonton mempunyai penilaian dan persepsi yang berbeda dalam melihat debat, tergan-
tung latar belakang sosial ekonomi, pengetahuan dan tingkat pendidikannya.
Untuk itu, debat capres sebagai arena pencerahan penonton, para kandidat hendaknya bisa piawai berkomunikasi dan diharapkan mampu menyuguhkan materi yang bisa menjadikan penonton bergairah untuk menatap masa depan yang lebih cerah dan gemilang melalui program-program yang atraktif, kreatif, imajinatif, inovatif dan solutif dalam menjawab tantangan hidup yang semakin kompetitif.
Untuk itu, kandidat hendaknya tidak sekedar bisa bicara tetapi harus bicara yang efektif dengan pilihan kata yang tepat atau diksi dan rangkaian kalimat yang sesuai dengan tujuan sehingga narasi verbal yang keluar dari kandidat menjadi daya pikat untuk penonton betah menyimak debat dengan program yang disampaikan.
Pendek kata, kandidat harus memahami diksi dalam berbahasa oral.
Tujuan debat adalah mempengaruhi persepsi penonton agar mempunyai penilaian positif dan kemudianmenjatuhkan pilihan kepada kandidat yang dinilai positif tersebut.
Debat capres sebagai bagian dari mekanisme demokrasi mempunyai makna yang dipersepsikan bisa menggambarkan seribu wajah yang antagonistik dan paradok sesuai dengan keinginan dan kepentingan yang ingin diraihnya.
Di sana, dalam debat capres, ada wajah-wajah menahan kecemasan, meregang ketegangan, mengusung kedunguan, membawa kelucuan, membuka kekonyolan, menggandeng kebersamaan, mencibir kompetisi, membuka borok kebodohan, terkuak kebohongan, terbuka kejujuran, terpapar kesolehan dan keramahan, namun juga ada terbesit kejengkelan dan kemarahan.
Namun, sebagai manusia yang berbudaya dan debat capres adalah perilaku beradab dan intelek maka semua wajah buruk dan antagonistik tersebut di akhir debat capres harus dibalut dalam wajah keramahan dan tata laku bersahabat sebagai wujud kekeluargaan untuk saling jabat tangan demi menghapus dan menghilangkan dosa-dosa selama debat berlangsung demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Inilah jiwa ksatria calon pemimpin bangsa.
Bagaimana harapan debat terakhir atau kelima tangal 13 April mendatang?.
Tentu semua berharap akan berlangsung lebih baik dari debat-debat sebelumnya baik dari sisi penyelenggaraan, pertanyaan materi debat yang diajukan panelis dan penampilan serta gaya peserta dalam berdebat.
Dengan demikian, tujuan debat capres sebagai salah satu bentuk kampanye yang menjunjung tinggi nilai ke-
adaban dan intelektualitas benar-benar bisa menjadi senjata pamungkas dan penutup serangkaian kampanye yang cukup panjang dan melelahkan dalam mempengaruhi pemilih yang masih belum memutuskan pilihannya. Terima kasih.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/rektor-unitas-palembang-ki-drs-h-joko-siswanto-msi_20180930_140126.jpg)