KUNCI SURGA

MENCARI KUNCI SURGA DI SEKITAR KITA

Di dalam kehidupan keseharian kita, banyak sekali yang kita lupakan secara tidak sengaja padahal ada di sekitar kita

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
Drs. HM. Daud Rusjdi AW 

MENCARI KUNCI SURGA DI DI SEKITAR KITA
Oleh : Drs. HM. Daud Rusjdi AW
Da'i Bid Tadwin/Pengurus Masjid Al Qodr 5 Ulu
Di dalam kehidupan keseharian kita, banyak sekali yang kita lupakan secara tidak sengaja padahal yang kita lupakan itu ada di sekitar kita.

Memang yang namanya manusia sering lupa apalagi setelah memasuki umur yang cukup tua.

Sudah menjadi hukum alam seperti halnya semua yang baharu akan berubah.

Kalau dulu muda kemudian beranjak tua, yang tadinya segar kemudian layu dan seterusnya.

Lupa, mencari kunci surga disini merupakan kata kiasan karena bermaksud bukan seperti mencari kunci sebuah ruangan yang tercecer.

Tetapi bagaimana kita masuk surga dengan bekal amal-amal kita semasa hidup melalui jalan di sekitar kita.

Banyak amal-amal yang dapat dikerjakan di sekitar kita sebagai kunci untuk masuk surganya Allah SWT.

Apalagi bila dikaitkan dengan sabda Rosulullah SWT yang menyebutkan bahwa barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya seagama, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.

Barang siapa melapangkan suatu kesulitan sesama, maka Allah akan melapangkan dirinya dari kesulitan pada hari kiamat nanti.

Sebagai seorang muslim, tidak diperkenankan membiarkan saudaranya menderita apalagi yang berada di sekitarnya.

Karena sesama hamba Allah SWT hendaklah saling tolong menolong.

Pertolongan ini dapat diwujudkan dalam bentuk harta benda, budi yang baik, petunjuk-petunjuk, ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan lain sebagainya.

Begitu mulianya hakikat tolong menolong sesama manusia dengan memudahkan kesulitan orang lain yang membutuhkan ini, sehingga Allah menjamin kepada mereka yang menolong untuk masuk surga-Nya.

Di Negeri ini masih banyak para fakir miskin dan anak yatim yang memerlukan bantuan dari kita.

Tetapi akibat tidak mengetahui fadhilannya, maka banyak orang mampu yang seharusnya mempunyai kewajiban mengasuh dan membina anak-anak yatim, menyantuni fakir miskin menganggap sepele terhadap mereka.

Bahkan banyak anak-anak yatim dan anak-anak miskin yang tinggal di lingungan sekitar mereka, tetapi hatinya tidak tersentuh sama sekali untuk membantu atau mengasuh dan membinanya.

Padahal jika orang-orang kaya atau mampu benar-benar mengetahui akan fadhilah-fadhilahnya, mereka pasti akan berlomba memperhatikannya dengan berbagai cara.

Karena, dengan membantu para mereka-mereka ini, merupakan kunci untuk masuk ke surganya Allah SWT.

Disamping itu, fadhilah lain keutamaan membantu para fakir, membina dan mengasuh anak-anak yatim dan anak miskin antara lain selain sebuah kunci untuk masuk surga, adalah ;

Pertama, mereka akan senantiasa mendoakan, karena mereka merasa diperhatikan, apalagi diasuh dan dibina dengan diberi kesejahteraan sehingga mereka merasa tertolong dan mampu menjadi anak yang mandiri.

Kedua, harta benda, waktu dan tenaga yang diinfaqkan untuk mereka merupakan shodaqoh jariyah yang pahalanya tidak akan terputus meskipun yang bersangkutan telah tiada.

Lebih besar lagi amal seperti ini merupakan kunci untuk membuka pintunya surga.

Sedangkan fadhilah yang ke tiga, ialah mereka yang membantu fakir miskin bagaikan orang yang berjihat di jalan Allah, sama halnya seperti orang yang tidak pernah berhenti puasa dan sholat malam.

Bahkan orang-orang yang memelihara anak yatim dan menyantuni fakir miskin, kelak di dalam surga akan bersama Rosulullah SAW, sebagaimana sabdanya :"Saya dan orang-orang yang memelihara anak yatim dan menyantuni fakir miskin dengan baik, di dalam surga bagaikan dekatnya jari telunjuk dan jari tengah".

Wajar memang, karena ketidaktahuan dan tidak memahami betapa beratnya ancaman Allah SWT kepada orang-orang yang membiarkan para fakir, anak-anak yatim dan anak-anak miskin terlantar di antara mereka, lantas mereka acuh saja.

Bahkan masih bagus kalau hanya acuh saja, tapi terkadang mereka-mereka yang kaya harta, memiliki jabatan dan kedudukan ini bertindak melampaui batas terhadap mereka karena dianggapnya sampah masyarakat.

Masih mendingan pula tidak mereka usir dari lingkungan tempat tinggalnya.

Orang-orang kaya yang demikian sudah merasa dirinya berkuasa sehingga tinggi hati, karena tidak merasakan bagaimana kalau kemiskinan itu menipa diri mereka.

Jika umat Islam yang berada (kaya) masih banyak yang acuh kepada fakir, anak yatim dan anak-anak miskin, maka wajar kalau mereka banyak yang berkeliaran di jalan, di tempat-tempat umum dengan caranya masing-masing untuk mencari sesuap nasi.

Jangan salahkan sepenuhnya kepada mereka atau orang tuanya, bila kemudian mereka ini dituntun oleh sang "Juru Selamat", karena memang mereka perlu dan membutuhkan asuhan, pembinaan dan kesejahteraan.

Mereka yang mampu tetapi masih membiarkan fakir, anak yatim dan anak miskin serta diperlakukan sewenang-wenang, maka oleh Allah digolongkan sebagai orang pendusta agama.

Dan yang sangat berat siksanya sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Maa'uun/107 : 1-3 : "Tahukah kamu orang yang mendustakan agama ? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.".

Jalan Keluar.

santunan kepada anak yatim dan panti asuhan di hotel Griya Sintesa Muaraenim,
santunan kepada anak yatim dan panti asuhan di hotel Griya Sintesa Muaraenim, (SRIPOKU.COM/ARDANI ZUHRI)

Untuk menanggulangi keberadaan fakir, anak yatim dan anak-anak miskin memang sudah banyak lembaga-lembaga yang sudah menampung dan mengasuh mereka, baik secara perorangan atau mengangkat mereka sebagai anak asuh.

Akan tetapi kenyataannya masih banyak yang berkeliaran di jalan-jalan yang kerjanya hanya meminta-minta.

Berarti lembaga-lembaga itu belum cukup untuk menjangkau mereka semua.

Untuk itu jalan keluarnya antara lain setiap lembaga Islam atau lembaga milik umat Islam seharusnya peduli terhadap mereka untuk menampung dan mengasuh mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Atau bagi yang kaya dan berada mendirikan lembaga khusus yang mengasuh dan mendidik mereka.

Banyak tenaga kita yang berpotensi untuk mengolahnya bila kita tidak berkesempatan untuk terjun langsung.

Setiap Masjid dan Majelis Taklim umumnya banyak terkumpul dana zakat, infak dan sedekah dari para dermawan.

Alangkah besar manfaatnya jika sebagian dananya disalurkan untuk membina dan mengasuh mereka.

Jika semua Lembaga Islam dan Lembaga milik umat Islam, serta orang-orang muslim yang mampu, semua telah memiliki anak asuh, insya Allah anak kita tidak akan ada yang terlantar dan ini merupakan kunci kita untuk memuka pintu surganya Allah swt.

Kita tahu, anak-anak kita ini adalah penerus generasi masa depan, bila mereka menjadi anak-anak maju, baik secara lahir maupun bathin, maka dapat dipastikan cerahnya masa depan agama dan negeri ini.

Banyak kunci surga yang terselip di sekitar kita yang jalannya berlainan seperti yang disebutkan di atas.

Seperti antara lain membantu pembangunan masjid atau musholla di sekitar kita.

Atau, tempat-tempat pendidikan agama, merupakan kunci kita untuk membuka pintu surga, karena dari sana pahala akan mengalir selamanya, walaupun kita sudah tiada.

Bagi mereka yang kaya terutama, mengimfakkan harta di jalan Allah SWT, diibaratkan seperti memberi pinjaman.

Yang bernama pinjaman pasti akan dikembalikan, demikian pula halnya dengan membelanjakan harta di jalan Allah.

Orang yang membelanjakan hartanya tersebut pasti akan memperoleh pahala dan balasan yang juga merupakan kunci untuk membuka pintu surga.

Hendaknya kita dapat menjadi orang kaya di dunia dan kaya di akhirat, dan boleh miskin di dunia tapi kaya di akhirat.

Demikian juga misalnya turut secara patungan membedah rumah tetangga kita yang tidak layak huni dan banyak lainnya yang dapat memperoleh kunci surga ini.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved