Kepemimpinan

Pemimpin Ideal Menurut Islam

Masalah kepemimpinan (leadership) merupakan pembahasan yang paling menarik dan tidak pernah ada habisnya.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Oleh Havis Aravik S.H.I., M.S.i 

Pemimpin Ideal Menurut Islam

Oleh Havis Aravik S.H.I., M.S.i

Dosen Perbankan Syariah STEBIS IGM Palembang

Masalah kepemimpinan (leadership) merupakan pembahasan yang paling menarik dan tidak pernah ada habisnya.

Sebab, ia adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi berhasil atau gagalnya suatu organisasi.

Memang harus diakui bahwa suatu organisasi akan dapat mencapai tujuannya manakala sumber permodalan mencukupi, struktur organisasinya akurat, dan tenaga trampilnya tersedia.

Sekalipun faktor tersebut berkaitan erat dengan berhasil atau tidaknya organisasi, namun kepemimpinan juga merupakan faktor penting yang pantas dipertimbangkan.

Dua sosok pemimpinan negara Presiden SBY dan presiden terpilih Joko Widodo melakukan silaturrtahmi/Ilustrasi
Dua sosok pemimpinan negara Presiden SBY dan presiden terpilih Joko Widodo melakukan silaturrtahmi/Ilustrasi (abror/presidenri.go.id)

Tanpa pemimpin yang baik, maka roda organisasi tidak akan berjalan lancar. Pemimpin dalam manhaj Islam merupakan hal yang sangat final dan funamental.

Pemimpin menempati posisi tertinggi dalam bangunan masyarakat Islam. Kecakapan dalam memimpin mengarahkan umatnya pada tujuan yang ingin dicapai, yaitu kejayaan dan kesejahteraan umat dengan iringan ridha Allah SWT.

Imamah atau kepemimpinan Is lam adalah konsep yang tercantum dalam al-Qur'an dan as-Sunnah, yang meliputi kehidupan manusia dari pribadi, berdua, keluarga bahkan sampai umat manusia atau kelompok, serta interaksi manusia dengan manusia, alam dan Tuhan.

Konsep ini mencakup baik cara-cara memimpin maupun dipimpin demi terlaksana ajaran Islam yang menjamin kehidupan lebih baik di dunia dan akhirat.

Secara etimologi, kepemimpinan atau leadersip artinya kekuatan untuk menggerakkan dan mempengaruhi orang (Rivai, 2003).
Kepemimpinan (leadership) sering diartikan juga sebagai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dalam upaya mencapai keadaan yang lebih baik lagi.

Dilaksanakan bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi untuk kepentingan pencapaian tujuan organisasi.
Menurut Nawawi (2011), kepemimpinan Islam dibagi menjadi dua pengertian, yakni secara spiritual Islam dan empiris.

Dalam perspektif spiritual Islam, kepemimpinan Islam dimaknai sebagai kemampuan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT, baik dilakukan secara bersama-sama maupun perseorangan, dengan kata lain kepemimpinan adalah kemampuan mewujudkan semua kehendak Allah SWT, yang telah diberitahukan-Nya melalui Rasul-Nya Muhammad SAW.

Sedangkan secara empiris, kepemimpinan Islam adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan suatu masyarakat sebagai usaha mewujudkan kebersamaan (sosialitas).

Kepemimpinan adalah fakta sosial yang tidak bisa dihindarkan untuk mengatur hubungan antar individu yang tergabung dalam satu masyarakat.
Di mana masing-masing individu memiliki tujuan kolektif yang ingin diwujudkan bersama dalam masyarakat.
Kepemimpinan merupakan gejala universal yang ada pada setiap kelompok manusia sebagai sebuah sistem sosial, mulai dari kelompok kecil yang terdiri dari beberapa orang sampai pada kelompok besar yang dinamakan bangsa.

Gejala kepemimpinan telah banyak dikaji oleh para ahli sehingga tersedia cukup banyak teori-teori sebagai alat analisis untuk membahasnya.

Dalam Islam, pemimpin sering diartikan yang mengarah kepada istilah seperti Umara dan Ulil Amri yang berarti pemimpin negara atau pemerintahan.

Amirul Mukminin, yang berarti pemimpin umat. Al-Qiyadah, yang berarti ketua atau pemimpin kelompok.

Al-Masauliyah, yang berarti penanggung jawab, dan Khadimul Ummah yang berarti pelayan umat.

Pemimpin menjadi salah satu pilar penting dalam upaya kebangkitan umat Islam yang telah dikenal memiliki manhajul hayat (konsep hidup) paling teratur dan sempurna dibandingkan konsp-konsep buatan dan olahan hasil rekayasa dan imajinasi otak manusia.

Eksistensi kepemimpinan memiliki landasan syar'i dan 'aqli sebagaimana tercermin dalam surah Al-Furqan [25]: 74, dan An-Nisa' [4]: 59.
Islam telah memberikan panduan yang sangat lengkap tentang karakter pemimpin ideal yang dibutuhkan umat. Panduan tersebut secara jelas dan tegas telah praktekkan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupannya, baik ketika di Makkah maupun di Madinah.

Keteladanan diberikan Rasulullah SAW merupakan model kepemimpinan yang dapat dijadikan patokan dalam memimpin bagi seluruh umat manusia.

Adapun karakter pemimpin ideal tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, cerdas dalam berkomunikasi. Buchari Alma dan Donni Juni Prinsa (2009) menyatakan bahwa komunikasi merupakan sesuatu yang sangat penting.

Dalam Islam kepandaian berkomunikasi (ability to communicate) sama dengan silaturahmi.

Dengan seringnya berkomunikasi, maka akan terjadi banyak komunikasi.

Pandai berkomunikasi secara baik, jujur, menarik akan sangat membantu seorang pemimpin dalam membangun relasi dengan orang yang dipimpinnya.

Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang mampu memberikan pemahaman dan ketenangan bagi pendengarnya.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh bagaimana dalam berkomunikasi antara lain;

a). Harus dengan perkataan mulia (qaulan kariimah), tidak boleh berkata-kata hina, menjelek-jelekkan, mengolok-olah hingga menyakiti orang lain (QS. Al-Isra' [17]: 23).
b). Harus dengan perkataan yang baik (Qaulan Ma'rufan) artinya seorang pemimpin pantang berkata sia-sia, tidak bermanfaat dan menimbulkan mudharat (QS. An-Nisa [4]: 8, Al-Baqarah [2]: 263).
c). Harus dengan perkataan yang lurus dan benar (Qaulan Sadidan), artinya seorang pemimpin harus selalu berada pada koridor kebenaran, tidak berbohong, tidak menipu apalagi merekayasa atau memanipulasi fakta untuk kepentingan-kepentingan sempit dirinya (QS. Al-Ahzab [33]: 70-71).

d). Harus dengan perkataan yang tepat (Qaulan Balighan) artinya seorang pemimpin harus berkomunikasi dengan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, mudah dimengerti dan langsung ke pokok permasalahan.

Tidak boleh seorang pemimpin menjadikan bawahannya bingung menerjemahkan apa yang disampaikannya (QS. An-Nisa' [4]: 63).

e). Harus dengan perkataan yang mudah dimengerti (Qaulan Maysura), artinya seorang pemimpin dalam berkomunikasi harus mampu menyampaikan informasi yang mudah dicernah, dipahami dan dimengerti orang yang dipimpinnya (QS. Al-Isra' [17]: 28).

f). Harus dengan perkataan yang lemah lembut (Qaulan Layyinan), artinya seorang pemimpin harus mampu berkata lemah lembut dan menyejukkan tidak boleh membentak terutama ketika sedang memberikan arahan dan wejangan kepada bawahannnya (QS. Thoha [20]: 44).

Kedua, sebagai agen perubahan (change agent). Seorang pemimpin merupakan agen perubahan sosial di dalam masyarakat.
Maka setiap pemimpin harus mampu mengusahakan segala aktivitas kepemimpinan demi tercapainya kemaslahatan bagi manusia, dan menghindarkan diri dan masyarakatnya dari berbagai mafsadah (kerusakan).

Oleh karena itu, seorang pemimpin harus membuat rule of game yang tepat dan rule of law yang mampu menjadikan masyarakat baik dan ikut pada aturan-aturan ilahiah.

Ketiga, sebagai pembina (coach).

Seorang pemimpin merupakan motor penggerak bagi seluruh aktivitas masyarakat dalam mencapai tujuan-tujuan yang ingin dicapai.

Untuk itu, tugas utama seorang pemimpin adalah memberikan contoh dan suri teladan yang baik untuk para bawahannya dalam menjalankan tugas-tugasnya (QS. Al-Shaff [61]: 2-3, Al-Ahzab [33]: 21, Al-Qalam [68]: 4).

Dengan kata lain, seorang pemimpin harus dapat bekerja keras memerankan fungsinya agar dapat menjadi yatafaqqohu fiddin (penyebar ilmu dan kepahaman kepada masyarakat) dan yunziro qoumahum, (memberikan arahan kepada masyarakat dan bawahan agar mengerti dan paham dengan perintah yang disampaikan).

Selanjutnya, sebagai pembina seorang pemimpin harus mampu membimbing dan menunjukkan jalan kebahagiaan kepada bahawan/rakyatnya sesuai dengan petunjuk Allah S.W.T (QS. al-Anbiya’ [21]: 73) dengan cara mewarnai kehidupan diri dengan kebajikan dan menjadikan hal tersebut dalam budaya dalam hidupnya (QS.  al-Anbiya’ [21]: 7, dan Al-Nahl [16] 125).

Keempat, bervisi pengabdian. Seorang pemimpin harus mampu menjadi sosok panutan yang visioner.

Pengabdian merupakan jalan hidupnya dalam menjalankan amanah kepemimpinan.

Maka untuk itu, pemimpin harus memiliki sifat sabar (QS. As-Sajadah [32]: 24), mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan segala-galanya, dan mau bekerja sama dengan orang lain secara konsisten.

Melalui bahasa yang diucapkannya dan melalui tindakan yang dilakukannya, sehingga membantu orang lain untuk memperoleh hasil yang telah ditetapkan sebelumnya serta menyelesaikan masalah dengan musyawarah mufakat untuk mendapatkan solusi ideal, sebagaimana praktek dalam kepemimpinan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin.

Kelima, berjiwa kharismatik.

Seorang pemimpin harus memiliki energi lebih, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa agar dapat mempengaruhi orang lain, sehingga setiap orang mau dan rela tanpa paksaan menjadi followernya.

Jiwa kharismatik tidak akan muncul jika seorang pemimpin tidak memiliki akal al-muktasab dan mustafad yang mampu menghasilkan ilmu-ilmu keutamaan Allah SWT, dan memperhatikan segala sesuatu yang berkembang di dalam dunia empirik berikut segala hal yang menjadi akibatnya (mura'at ma fi al-kharij wa ma yalhaquha min al-ahwal wa yatba'uha).

Kelima karakter pemimpin ini sangat penting tidak saja karena maju mundurnya kehidupan sebuah masyarakat tergantung pada kemampuan pemimpin dalam mengendalikan orang-orang, peralatan, sumber daya dan sumber-sumber lainnya.

Melainkan lebih dari itu, kesejahteraan yang menjadi cita-cita ideal hidup bermasyarakat, sedikit banyak terletak pada pundak para pemimpinnya.

Untuk itu, kelima karakter pemimpin tersebut, harus tersosialisasi dan termanifestasikan dalam kehidupan masyarakat. Jangan lagi muncul pemimpin yang hanya berorientasi pada kehidupan “perut” dirinya, mengorganisir massa keluarga dan dinastinya untuk mengeruk seluruh sumber daya demi kesejahteraan pribadi dan kroni-kroninya.

Dalam konteks Kota Palembang dan Sumatera Selatan, yang sebentar lagi akan melaksanakan Pemilukada memilih pemimpin-pemimpin terbaik.

Sudah saatnya karakteristik tersebut menjadi acuan dan barometer sebelum menentukan pilihan.

Sehingga cita-cita Kota Palembang dan Sumatera Selatan yang bervisi ketauhidan dan berprospek kesejahteraan dan kedamaian bukan lagi harapan dan khayalan belaka. Wallahu a'lam bishawab

Sumber:
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved