Buya Menjawab

Bagaimana Sejarah Gerakan Wahabi?

Bagaimana sejarahnya sampai ada gerakan wahabi yang berseberangan dengan faham Ahlussunnah wal jamaah. Kami masih belum faham betul Buya,

Editor: Bedjo
Cyber Dakwah
Wahabi. 

SRIPOKU.COM - Assalamualaikum.Wr.Wb.
BUYA, bagaimana sejarahnya sampai ada gerakan wahabi yang berseberangan dengan faham Ahlussunnah wal jamaah. Kami masih belum faham betul Buya, mohon dijelaskan. Terimakasih.
0812789XXXX

Berita Lainnya:  Mencermati Konsep-konsep Modernisasi Agama

Jawab:
Wassalamualaikum.Wr.Wb
PEMBANGUN gerakan wahabi ini adalah Muhammad bin Abdul Wahab lahir di Desa 'Ainiyah di Nejdi tahun 1115 H. Wafat 1206 H./1787 M (91 Tahun).

Belajar agama kepada bapaknya Abdul Wahab, seorang ulama Ahlussunnah wal jamah. Pada waktu remaja, Muhammada bin Abdul Wahab menunaikan ibadah haji, kemudian ketika kembali lagi ke Mekkah untuk melanjutkan pelajarannya ia tinggal di Mekkah dan Madinah sebagai pelajar.

Ia tertarik kepada kitab-kitab Ibnu Taimiyah yang mengharamkan Tawassul dan Istighotsah, mengharamkan ziarah ke makam Nabi dan wali, terpengaruh juga dengan faham Ibnu Taimiyah tentang "Tuhan di Atas" boleh ditunjuk ke atas, Tuhan "duduk bersela" seperti Ibnu Taimiyah duduk bersela. Maka jadilah ia seorang pemuja Ibnu Taimiyah.

Muhammad bin Abdul Wahab menjadi ulama yang menyatakan bid'ah dan mengharamkan, ziarah ke kubur Nabi Muhammad Saw., kubur Saidina Hamzah di Uhud, kubur Siti Khadijah di Mu'ala dan lain-lain kuburan merujuk pada faham Ibnu Taimiyah.

Muhammad bin Abdul Wahab menjadi terkenal dengan pemahamannya yang bertolak belakang dengan faham Ahlussunnah wal jamaah, maka dipanggillah beliau dengan Wahabi dinamakan dengan nama bapaknya, padahal bapaknya Abdul Wahab berfaham Ahlussunnah wal jamaah.

Muhammad bin Abdul Wahab paling tidak suka melihat di Madinah orang-orang yang berbondong-bondong berziarah ke makan Rasulullah Saw dan berdoa menghadap kuburan Rasulullah Saw. Bukan menghadap ke Ka'bah ini juga dinyatakannya Syirik.

Jengkel melihat kondisi ummat Islam di Madinah seperti itu, Ibnu Taimiyah pulang ke desanya 'Ainiyah di Nejdi. Dia memulai membuka pengajian dan memfatwakan bahwa bepergian ziarah ke makam Nabi adalah ma'siat.

Penduduk desanya tidak menerima fatwa tersebut, maka ia di usir oleh penguasa desanya bernama Utsman bin Hamad bin Ma'mar.

Muhammad bin Abdul Wahab diusir dari 'Ainiyah bahkan Utsman bin Hamad memerintahkan kepada pengawalnya supaya ia dibunuh di dalam perjalanan. Tetapi takdir dan iradat Allah belum berlaku, ia kemudian pergi ke Basrah (kasfus Syubhat, hlm.5).

Di Basrah dia mengeluarkan fatwa yang ganjil-ganjil itu, maka iapun di usir dari Basrah. Ia pergi ke Hassa yang tidak berapa jauh jaraknya dari Basrah di Irak.

Pada awalnya di Hassa ia berlindung pada penguasa Hassa Syeikh Abdullah bin Abdul Lathif, tetapi kemudian penguasa ini mengusirnya karena tidak setuju dengan pengajian-pengajiannya yang bertentangan dengan fatwa-fatwa ulama yang lazim di negeri itu.

Kemudian Muhammad bin Abdul Wahab pergi ke sebuah negeri "Dur'iyah". Raja Dur'iyah itu bernama Muhammad bin Sa'ud. Maka bertemulah di Dur'iyah "dua Muhammad", yaitu Muhammad bin Abdul Wahab dan Muhammad bin Sa'ud yang saling membutuhkan.

Muhammad bin Abdul Wahab sebagai ulama membutuhkan seorang penguasa yang dapat melindungi da'wahnya karena ia tidak mau terulang pengalamanya dimusuhi oleh penguasa yang tidak setuju dengan faham yang anutnya. Sedangkan Muhammad bin Sa'ud penguasa Dur'iyah membutuhkan pula seorang ulama yang dapat mengisi rakyatnya dengan pelajaran-pelajaran agama yang dapat meperkukuh wibawa kerajaannya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved