Patok Biaya Rp 400 Ribu, Mantan Penghulu Buka Praktek Nikah Siri
Pasca dihapuskan P3N oleh negara sejak 2016 lalu, sempat diprotes sejmlah pihak dan menimbulkan keresahan di eks P3N sendiri.
SRIPOKU.COM , PALEMBANG - Pasca dihapuskan Pembantu Pegawai Pencatat Nikah (P3N) oleh negara sejak 2016 lalu, sempat diprotes sejumlah pihak dan menimbulkan keresahan di eks P3N sendiri. Terlebih, bagi yang menggantungkan "dapur" mereka dari profesi itu. Kini biaya nikah menjadi mahal, alhasil nikah siri pun jadi pilihan. Jasa eks P3N pun dibutuhkan untuk melayani nikah siri, yang dilakukan tertutup jauh dari keramaian.
Berita Lainnya: Begini Nasib Rani Tania, Istri Pendiri Nikah Siri.com. Dikucilkan Warga sampai di Bully
Memang ada sebagian masyarakat berniat merayakan pernikahannya, menyebarkan seluas-luasnya tentang hari bahagia mereka, dan kerap menunjukkan legalitas relasi romantis mereka sebagai suatu institusi. Namun, sebagian masyarakat lain justru memilih menyelubungi pernikahan mereka dari pantauan negara dan khalayak luas alias mengambil opsi nikah siri atau nikah di bawah tangan.
Nikah siri didefinisikan sebagai bentuk pernikahan yang dilakukan hanya berdasarkan aturan agama dan/atau adat istiadat. Pernikahan ini tidak diumumkan kepada khalayak umum dan tidak tercatat resmi di KUA atau Kantor Catatan Sipil.
Berbeda dengan nikah siri yang dihebohkan saat ini, Di Palembang, tidak ada jasa online atau situs nikah siri.com. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui, siapa yang bisa menikahkan. Satu diantaranya adalah eks P3N yang dihapuskan pemerintah.
Tim sripo berhasil mengikuti dua proses nikah siri ini, yang dilakukan sangat sederhana dan dilakukan oleh orang berpengalaman (profesional) menikahkan orang. Tata caranya, mirip seperti petugas KAU atau eks P3N di zamannya.
Kenapa istilah di bawah tangan? "Karena tidak pakai buku nikah. Jadi istilahnya pernikahan ini resmi dan sah secara agama Islam tapi tidak secara negara karena tidak ada buku nikah yang dikeluarkan resmi oleh pemerintah," kata mantan P3NTR, Ab saat menikahkah pasangan pengantin, pada 17 September 2017 lalu di kawasan Plaju Seberang Ulu Palembang.
Prosesi rangkaian pernikahan sangat simpel alias tak berbelit-belit. Jika para proses pernikahan dengan di Kantor KUA, maka harus melalui beberapa rangkaian seperti calon pasangan pengantin harus mengikuti penataran (penyuluhan selama lebih dari satu hari) lalu mengurus administrasi buku nikah. Sebaliknya, pada proses nikah di bawah tangan ini tidak seperti itu. Calon pengantin tidak diminta syarat apa-apa. "Saya tidak diminta syarat apa-apa oleh Ketib. Hanya seminggu lalu saya menghubungi dia (Ketib) mengutarakan niat mau menikah tapi di bawah tangan bae. Jadi, kato Ketib ini. Biso bae, biayanya Rp 400 ribu sudah beres galo. Saya siap datang ke lokasi ijab kabul pada hari H. Dak katek penataran di kantor KUA," kata Sal, calon pengantin pria menjelaskan perihal rencana nikah di bawah tangannya tersebut.
Dari penelusuran di sejumlah tempat, pernikahan siri juga tidak dilakukan di hadapan pria yang memiliki jabatan penghulu atau kerja berstatuskan P3N. Seperti di kawasan Jakabaring, pernah dilaksanakan pernikahan siri di hadapan pria yang dinilai tahu banyak seputar ilmu Islam dan sekaligus dituakan di kampungnya. Pengantin pria menyerahkan uang Rp 50 ribu yang dijadikan sebagai mahar, sementara biaya untuk yang menikahkan bisa dibayar sesuai kemampuan mempelai pria.
Di akhir prosesi, pernikahan yang disaksikan kerabat mempelai pria dan wanita ini, pria yang menikahkan menyatakan keduanya sudah sah menjadi suami isteri karena sudah diakui secara agama. Ia tidak memberikan buku nikah layaknya pernikahan yang dilakukan oleh banyak pasangan lain.
"Jika sudah berkeluarga dan menyatakan mendapat persetujuan dari isteri pertama, maka saya akan menyanggupi permintaan. Tentu saja harus ada saksi. Kalau syarat-syarat ini tidak ada, pasti tidak saya lakukan," kata Remin, nama pria yang sudah sering menerima permintaan menikahkan orang ini. (saf/fly/sin)