Bocah Penggemar Kartun Naruto dan Upin Ipin Ini Raih Nilai Tertinggi UN SD se-PALI. Rahasianya. . .

"Hampir seluruh koran beritanya sama. Kecuali kalau ada peristiwa besar, data setiap koran justru berbeda-beda.

Tayang:
Editor: Darwin Sepriansyah
Ikbal Zahid Abdullah Haris‎ 

SRIPOKU.COM, PALI - Anak yang terbiasa akrab dengan gadget biasanya lebih banyak menghabiskan hari-harinya dengan bermain gadget.

Tapi berbeda dengan sosok satu ini, Ikbal Zahid Abdullah Haris‎.

Ia tidak terlalu terpengaruh dengan gadget.

Setiap hari ia justru lebih senang bermain sepeda dan menyantap berita-berita di koran.

Hampir seluruh koran dibaca setiap hari.

Saking hobi membaca koran, ia tidak segan mengkritik isi berita yang ia baca.

"Hampir seluruh koran beritanya sama. Kecuali kalau ada peristiwa besar, data setiap koran justru berbeda-beda.

Disitu kadang aneh, isi koran tidak bisa dipercaya sepenuhnya," ujar Ikbal Zahid Abdullah Haris‎.

Hampir setiap ada berita hangat, ia selalu mengikuti.

"Misal berita siswa disambar petir tempo hari, ada koran menulis berangkat menggunakan sepeda motor.

Ada lagi yang menulis berangkat menggunakan mobil. Tiap koran berbeda-beda" kritiknya.

Sangat wajar bila bocah kelahiran 3 Desember 2004 ini mengeluarkan kritik.

Setiap sore, ia selalu menunggu ayahnya untuk membaca seluruh koran yang dibawa dari kantor.

Ayahnya yang jurnalis dan bekerja sebagai staf humas setiap hari selalu membawa pulang koran yang terbit hari itu.

Dasar hobinya membaca, seluruh koran yang berisi berita politik pun ia santap.

"Dulu waktu Abi aktif di koran, saya baca tulisan Abi terlebih dahulu. Tapi sekarang Abi sudah jarang nulis berita jadi saya baca berita olahraga terlebih dahulu" celotehnya.

Maka tak mengherankan bila kebijakan pemerintah pun ia soroti.

Seperti saat perubahan kurikulum yang ia alami beberapa waktu lalu.

"Seharusnya presiden itu kalau ganti kurikulum jangan ditengah tahun.

Awal tahun pakai kurikulum 2013 pas semester ganti 2007.

Kan kasihan guru jadi bingung mengajar. Guru saja bingung apalagi kami," celoteh anak yang bercita-cita jadi insinyur ini.

Kegemarannya membaca bukan hanya sebatas koran, setiap hari bocah ini selalu membawa dua buku dari perpustakaan sekolahnya.

Bila teman sekelasnya menghabiskan waktu istirahat dengan bermain di halaman sekolah atau jajan di kantin, ia justru sebaliknya.

Saat lonceng istirahat dibunyikan ia justru menuju perpustakaan.

Watak hobi membaca inilah akhirnya membuahkan hasil nyata.

Penggemar kartun Naruto dan Upin Ipin ini berhasil meraih nilai tertinggi pada Ujian Nasional Sekolah Dasar se-Kabupaten PALI.

Dengan nilai total 269, ia berada diperingkat pertama raihan nilai UN.

Bahkan nilai Matematika nya mencapai 95, artinya hanya dua soal yang dijawab salah dan sisanya benar semua.

Keunggulan nilai matematika ini tidaklah mengherankan, penggemar Sriwijaya FC ini pernah mewakili kabupaten PALI dalam Olimpiade Sain Nasional Bidang Matematika tahun 2015 lalu.

Raihan nilai tertinggi se-kabupaten saat OSN tingkat kecamatan membawanya dipercaya mengharumkan nama kabupaten PALI.

Alasan olimpiade ini juga yang membuat Iqbal menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke SMPIT Raudhatul Ulum.

Ia masih ingin meneruskan keinginannya untuk kembali mengikuti ajang olimpiade matematika.

"Untuk SMP, Abi menyarankan masuk pesantren atau sekolah islam.

Makanya pilih SMPIT-RU, saya pernah baca beritanya tahun kemarin sekolah itu juara OSN Matematika tingkat kabupaten" ujarnya memberi alasan.

Atas prestasinya ini, bukan berarti Iqbal tidak mempunyai waktu bermain.

Setiap hari ia selalu mengayuh sepeda kesayangannya dan bermain bersama teman-teman di lingkungan tempat ia tinggal.

Bahkan waktu sholat pun ia selalu berada di masjid.

Saat sore ia tidak pernah meninggalkan momen mengaji di musholla dekat rumahnya.

"Kami tidak pernah mengekang anak.

Kami beri kebebasan dalam menentukan pilihan tapi tetap dalam pengawasan kami.

Termasuk dalam urusan memilih sekolah," ujar Indra Setia Haris, orang tua nya.

"Akun facebook nya pun kami kuasai. Jadi kami tahu apa saja yang dibacanya dan ditontonnya.

Sebisa mungkin kami dampingi. Sebisa mungkin, kita berdiskusi tentang apa yang dibaca dan dilihatnya.

Agar anak tahu mana yang pantas dan tidak pantas untuk seumuran mereka dan mendapat informasi yang seimbang," ujarnya. (Ari Wibowo/TS)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved