Demokrasi
Mengawal Pemimpin
Kepala daerah adalah pemimpin yang mempunyai peran dan tugas tidak ringan sebagai administrator kemasyarakatan,
Jika pengaruh isteri itu hal yang negatif maka bakal malapetaka yang dihadapi suaminya.
Diharapkan dengan aturan hukum yang mengatur peran isteri pejabat dalam mendampingi suaminya menjadi pejabat publik maka akan banyak mencegah suaminya yang sedang berkuasa tidak tersandung kasus hukum khususnya korupsi.
Kedua, pemimpin atau pejabat yang bersangkutan harus sadar bahwa dirinya bisa lupa, kilaf dan sebagainya sehingga sangat perlu menunjuk orang yang dipercaya bisa mengingatkan akan tindak tanduknya yang dinilai bisa menyimpang.
Orang yang dipercaya itu harus orang yang sudah selesai dengan dirinya, yang bermoral tinggi, berani mengritik, menyarankan pada hal-hal yang baik dan mencegah kebijakan atau perilaku yang bakal merugikan dan melanggar hukum.
Pendeknya harus ada orang yang mempunyai kedekatan hati/batin engan pemimpin yang bisa momong dan ngemong.
Dalam dunia pewayangan sosok orang ini seperti Semar dan anak-anaknya Gareng, Petruk dan Bagong. Empat sekawan di bawah pimpinan Semar yang disebut punakawan tersebut sangat setia dengan juragannya yakni para pemimpin Negara Pendawa dan bisa momong dan ngemong serta berani menentang, memberi solusi dan menyarankan jika para bendoronya (juragannya) sebagai pemimpin bakal melakukan hal-hal dinilai keliru.
Dengan kehadiran dan peran Semar tersebut para pemimpin pendawa terbebas dari perilaku melanggar hukum tetapi sebaliknya menjadi pemimpin yang dielu-elukan rakyatnya.
Ketiga, pemimpin mestinya bisa menciptakan iklim komunikasi dengan bawahannya yang terbuka, jujur dan bertanggung jawab dalam semua persoalan yang dihadapi dalam mengurus dan mengatur pemerintahan dan pembangunan.
Pemimpin harus bersikap terbuka dan meminta bawahannya untuk berani melakukan kontrol, kritik, mengawasi dan mengingatkan sebagai usaha preventif agar dirinya tidak melakukan tindakan dan kebijakan yang keliru.
Wibawa pemimpin tidak akan hilang tetapi justru akan disegani dan dihormati jika terbuka dan jujur mau berkomunikasi dua arah dengan bawahannya.
Tetapi umumnya pemimpin, khususnya kepala daerah, lebih cenderung one way communication karena merasa seperti raja, lebih berkuasa, lebih mengerti, lebih menentukan dan lebih lebih yang lain sehingga bawahnnya dianggap sebagai abdi dalem yang harus manut, nurut, patuh, loyal, dan siap menjalankan perintah.
Di lapangan sudah bukan rahasia meskipun sulit dibuktikan bahwa kepala daerah ada yang meminta setoran dari kepala dinas yang mempunyai proyek. Suatu sikap pemimpin yang harus dirubah kalau ingin sukses sebagai pemimpin.
Keempat, dari masyarakat seyogyanya ada yang mempunyai kesadaran perlunya membentuk semacam satuan tugas atau relawan yang mengawal kepala daerah atau pemimpin agar bisa berjalan on the track. Pada umumnya masyarakat setelah melakukan haknya ikut memilih pemimpin (pilkada) melupakan apa yang terjadi selanjutnya.
Siapa yang terpilih pun tidak lagi menjadi perhatian apalagi program kerjanya. Oleh karena itu, kehadiran relawan atau satgas sebagai pengawal kepala daerah menjadi penting karena sebagai perwakilan konstituen mempunyai hak untuk menagih janjinya ketika kampanye dan sekaligus dapat mengontrol/mengawasi perilaku pemimpinnya.
Seperti Relawan Jokowi sampai sekarang masih aktif dan berperan besar mengawal pemerintahan Jokowi-JK agar bisa berjalan sesuai harapan konstituen. Pola ini harus diikuti oleh tim kemenangan kepala daerah sehingga tim tidak bubar setelah pilkada selesai tetapi tetap mengawal jalannya pemerintahan daerah, dengan catatan kepala daerah yang bersangkutan harus menyadari akan hal ini, bukan bersikap seperti raja.