Breaking News:

Kopeng di Kaki Gunung Merbabu, Kini Terus Berbenah

TERLETAK di lereng Gunung Merbabu, Andong, dan Telomoyo, Kopeng menyimpan banyak potensi alam dan budaya. Sejak masa kolonial Belanda, daerah dengan s

Editor: Bedjo
Kota Salatiga
Kopeng Treetop merupakan wisata alam dengan kemasan arena outbond. 

Trisno (35) mengatakan, sejak ratusan tahun silam, telah berkembang banyak seni tari keprajuritan di Tanon. Dia hanya menghidupkan dan mengemasnya menjadi daya tarik wisata yang mengangkat derajat warga.

Desa vokasi
Kepala Desa Kopeng Rebo Sarwoto menuturkan, dari berbagai catatan di pemerintah desa, wisata tetirah di Kopeng berawal dari kedatangan seorang Belanda bernama Booh Ma De Boor yang mendirikan tempat peristirahatan NV Huize Dennen Bosch pada 1922.

Tempat ini diperuntukkan untuk tetirah bangsawan Belanda atau ningrat pribumi.

Lambat laun, banyak warga Belanda lain membangun vila dan rumah peristirahatan di Kopeng. Pascakemerdekaan, hampir semua pejabat dan pesohor dari Jakarta pernah ke Kopeng.

Namun, munculnya praktik prostitusi terselubung sejak akhir 1990-an memberi citra buruk bagi Kopeng sehingga kawasan itu mulai ditinggalkan wisatawan.

Di sisi lain, sejak beberapa dekade lalu, warga di ceruk tiga gunung, yakni Merbabu, Andong, Telomoyo, berinisiatif membangun daerahnya dengan memanfaatkan potensi lingkungan hidup.

Ini yang membuat Kopeng pada sekitar 2010 ditetapkan sebagai desa vokasi oleh pemerintah daerah setempat.

Salah satu keunggulan khas Kopeng yang terus bertahan adalah sentra penjual tanaman hias di Dusun Dukuh, Desa Kopeng. Mayoritas penduduk di Dusun Dukuh menanam dan menjual tanaman hias.

”Dari 150 kepala keluarga, 85 keluarga mengembangkan bisnis tanaman hias,” ucap Ketua Kelompok Wanita Tani Tanaman Hias Yustina Lasinah.

Yustina berkisah, budidaya tanaman hias dimulai sejak tahun 1971.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved