Dari Uang Jajan, Ajari Anak Kelola Keuangan

Banyak orangtua kelimpungan saat membimbing anak-anaknya merencanakan keuangan. Padahal, pengenalan bisa dimulai saat memberikan uang saku harian alia

Editor: Bedjo

SRIPOKU.COM - Banyak orangtua kelimpungan saat membimbing anak-anaknya merencanakan keuangan. Padahal, pengenalan bisa dimulai saat memberikan uang saku harian alias duit jajan.

Berita Lainnya:  Pencitraan Konyol Putra Jokowi, Uang Jajan Rp 5 Miliar Sebulan hingga Fasilitas Jet Pribadi

“Pemberian uang saku akan membiasakan anak memegang uang, mengambil keputusan keuangan, dan mengelola keuangan sendiri,” ujar Diana Sandjaja, perencana keuangan Tatadana Consulting dikutip dari Kontan, Kamis (14/1/2016).

Maka dari itu, kata Diana, hendaknya para orangtua berpikir pemberian uang saku bukan didasarkan pada memenuhi kebutuhan pribadi sang buah hati di sekolah saja, melainkan pembelajaran mengenai perencanaan keuangan juga.

Meski demikian, Diana mengingatkan bahwa pelajaran mengenai pengelolaan keuangan ini mesti bertahap.

“Seperti pelajaran di sekolah, (pembelajaran pengelolaan keuangan) ini harus bertahap. Pelajaran anak SD tentu berbeda dengan anak SMA. Begitu pula pemberian uang saku,” imbuhnya.

Bukan hanya nilai atau besar uang saku yang berbeda, Diana bilang, sistem dan tanggung jawab anak pada beda tingkatan juga mempengaruhi tahapan pembelajaran.

“Untuk anak kelas satu SD, misalnya, belum bisa membedakan nominal uang dan cara transaksi yang benar,” ujar Diana memberi contoh.

Pada usia itu, menurut Diana, orangtua bisa sesekali memberikan uang pada buah hati untuk sekali transaksi. “Tahap ini lebih bersifat pengenalan,” tambahnya.

Seiring kenaikan jenjang sekolah, anak juga bakal semakin pintar berhitung. Pada saat itulah, orangtua bisa mempercayakan pemberian uang saku sesuai kebutuhan anak. Misalnya, menyerahkan pengelolaan uang transportasi selain uang jajan harian.

Bahkan, bagi anak-anak di tingkat SMP, perlu juga diberikan uang saku untuk kebutuhan sosialisasi. Anak-anak pada usia ini umumnya sedang senang-senangnya berkumpul bersama teman, termasuk makan bersama atau menonton bioskop.

Biaya pulsa telepon bisa juga dimasukkan sebagai komponen uang saku. Pastikan saja, orangtua telah menakar masing-masing biaya yang dihitung sebagai bagian uang saku, agar pemberian duit ini cukup tanpa perlu berlebihan juga.

Jika kelihatannya anak bisa menganggarkan dengan tepat dan mampu mempertanggungjawabkan penggunaannya, orangtua sudah bisa memulai mengatur ulang frekuensi pemberian uang saku.

Perencana keuangan mengingatkan, pengaturan frekuensi pemberian uang saku juga harus bertahap dan disesuaikan dengan usia dan kesiapan anak dalam mengelola keuangan.

“Pemberian uang saku harian merupakan langkah awal bagi anak untuk belajar. Jika anak bisa mempertanggungjawabkan, berarti ia bisa naik tingkat ke sistem mingguan,” ujar Diana.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved