Rektor Unsri: Rangking Kelas Bukan Penentu Lulus SNMPTN

Misal ada yang siswa yang juara satu tapi tidak punya prestasi penunjang bisa jadi siswa ini tidak lulus.

Penulis: Siti Olisa | Editor: Sudarwan
ISTIMEWA
Ilustrasi 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sejak 14 Januari lalu, sekolah-sekolah di Indonesia sudah mulai menginput data siswa untuk mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).

Pengisian PDSS ini memerlukan ketelitian dan keakuratan agar tidak terjadi kesalahan fatal yang merugikan siswa.

Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri), Anis Saggaff, Rabu (1/2/2017) mengatakan, tingkat kesalahan pengisian PDSS di Sumsel cukup tinggi, karena berbagai alasan.

"Karena kesalahan ini siswa yang akan dirugikan, karena pusat tidak mau menerima kesalahan yang terkesan disengaja, karena perbedaan antara nilai rapor dengan yang diisikan di PDSS," ujarnya.

Anis juga mengatakan, penentuan lulus atau tidaknya di SNMPTN ini tidak berdasarkan rangking siswa di kelas tetapi yang cukup mempengaruhi kelulusan salah satu adalah adanya prestasi-prestasi lainnya.

"Misal ada yang siswa yang juara satu tapi tidak punya prestasi penunjang bisa jadi siswa ini tidak lulus. Justru sebaliknya, ada siswa yang bukan rangking kelas tapi punya banyak prestasi lainnya, biasanya ini yang menjadi penentu," ujarnya.

Untuk itu, Anis mengharapkan agar petugas PDSS benar-benar teliti dalam pengisian PDSS ini.

Sementara itu, Operator Sekolah SMA Negeri Sumsel, Nurul Fitria, mengatakan, untuk pengisian PDSS ini pihaknya juga melibatkan siswa.

"Saat ini kami sudah hampir selesai menyelesaikan pengisian PDSS meskipun deadline hingga 10 Februari, tinggal 20 persen lagi. Setelah itu kami akan menyuruh siswa untuk mengeceknya sesuai dengan rapor masing-masing," ujarnya.

Nurul mengatakan, akses jaringan yang lambat atau down server ini membuat pengisian ini cukup lambat, sehingga pengisian PDSS yang bisa diselesaikan dalam dua sampai tiga hari harus memakan waktu yang lebih lama.

"Kendala utama dalam pengisian PDSS adalah pada down servernya, mengingat pengisian data tersebut harus dilakukan secara online. Biasanya downserver itu dari pagi sampai siang, baru di jam 15.00-17.00 sudah bisa diakses meskipun jaringannya masih merayap (lamban)," ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 5 Palembang, Sumin Eksan menyatakan, pengisian PDSS dilakukan oleh pihak sekolah melalui operator sekolah dan lain sebagainya.

Setelah diisi maka siswa yang bersangkutan akan diberikan kesempatan untuk melihat data yang akan dikirim tersebut untuk melihat apakah ada kekeliruan atau tidak.

"Sebenarnya jika dilakukan dengan teliti kesalahan sangat kecil sekali bisa terjadi. Namun, tidak bisa dipungkiri akan terjadinya human eror karena data yang diisi terlalu banyak," ujarnya.

Ditambahkan Sumin, kuota yang dimiliki oleh setiap sekolah akan berbeda satu dengan yang lainnya karena disesuaikan dengan akreditasi sekolah yang bersangkutan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved