Buya Menjawab

Hari Sial

Apakah ada hari sial di dalam agama Islam? Lalu kalau bulan Zul Qaidah (Apit) tidak ada yang menikahkan, kenapa Ustadz, tolong jelaskan. Terimakasih.

Editor: Bedjo
http://dmaarif.blogspot.co.id/
Ilustrasi, Hari sial. 

SRIPOKU.COM - Assalamu'alaikum.Wr.Wb.
PAK Ustadz, apakah ada hari sial di dalam agama Islam? Lalu kalau bulan Zul Qaidah (Apit) tidak ada yang menikahkan, kenapa Ustadz, tolong jelaskan. Terimakasih.
0816 322 1xxxx

Berita Lainnya:  Hari Baik dan tidak Baik dalam Usaha, Kawin dan Perjalanan Jauh. Boleh Percaya Boleh Tidak

BUYA MENJAWAB:
Assalamu'alaikum.Wr.Wb.
ANANDA, hari sial tidak ada di dalam ajaran agama Islam, setiap hari akan membawa barokah apabila disambut dengan ibadah yang ikhlas kepada Allah Swt. Begitu terbit matahari (syuruq) apabila disambut dengan sholat sunnat israq dua rakaat, maka akan memperoleh pahala haji dan umrah dengan sempurna, akan tetapi syaratnya; sholat subuh berjama'ah, diteruskan dengan zikir sampai syuruq/terbit matahari dan sholat sunnat israq dua rakaat.

Cara melaksanakan Sholat sunnah Isyroq, pada saat Iqomah sudah dilantunkan oleh Mu'azzin, ikutilah sholat Subuh berjamaah dua rakaat, zikir panjang dan ketika selesai berdoa. Pada saat masuk waktu Syuruq (terbit Matahari), sholatlah dua rakaat sunnat Isyroq. Niscaya mendapat pahala Haji dan Umroh dengan sempurna. Berdasarkan sabda Rasulullah saw; Artinya: "Barang siapa sholat Subuh berjamaah kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga terbit matahari, kemudian shalat dua raka'at, niscaya dianugerahi seperti pahala haji dan umrah dengan sempurna, dengan sempurna, dengan sempurna. (HR. At-Tirmidzi, Hasan gharib, at-Targhib wa tarhib)

Setelah selesai sholat dua rakaat; rakaat pertama sesudah al-Faatihah, baca surah al-Kaafirun, rakaat kedua sesudah al-Faatihah baca surah al-Ikhlas, setelah salam membaca do'a; yang Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan hari ini sehat wal'afiyat, dan menyinari dengan sinar matahari dari tempat terbitnya. Ya Allah anugerahkanlah rezeki yang baik kepadaku pada hari ini, dan hindarkanlah kejahatan daripadaku. Ya Allah sinarilah hatiku dengan hidayah Engkau, sebagaimana Engkau menyinari bumi dengan sinar matahariMu selamanya dengan rakhmat Engkau wahai zat yang Maha Penyayang."

Setelah Matahari naik sepenggalah, laksanakan shalat Dhuha; berdasarkan Hadis dalam Shahih Muslim; Artinya: "Tiap pagi, setiap ruas tulang persendian kalian membutuhkan sedekah. Dan itu bisa dipenuhi dengan dua raka'at shalat Dhuha." (HR.Muslim)

Sholat Dhuha dilaksanakan setidaknya dua raka'at, empat atau enam raka'at dan afdlal sebagaimana yang lazim dilakukan Rasulullah saw. sebanyak delapan raka'at, empat kali salam. Dalam Hadist yang diriwayatkan Ummu Hani' binti Abi Thalib ra. sebanyaknya dua belas raka'at menurut khabar dari Abu Daud; Artinya: "Jika engkau shalat dua raka'at Dhuha ditulis dalam kelompok orang-orang yang tidak ghoofilin (lalai), jika empat raka'at, dia termasuk dalam kelompok orang-orang mukhsinin (baik), jika enam raka'at dicatat dalam kelompok Al Qoonitin (istiqomah), jika delapan raka'at ditulis dalam kelompok Al Faaizin (mendapat kemenangan), jika sepuluh raka'at maka dosa-dosanya tidak ditulis pada hari tersebut, jika dua belas raka'at Allah bangunkan baginya gedung di Surga." (HR. Al Baihaki)

Apabila setiap hari ananda sambut dengan ibadah tersebut di atas, maka tidak ada hari yang sial. Selain itu ada empat hari yang mulia; Pertama Hari Jumat adalah hari yang paling baik dari sekian hari yang ada dan sebaik-baik hari yang disinari matahari. Di hari Jumat Allah Swt. mengampuni enam ratus ribu penghuni Neraka. Siapa yang meninggal dunia di hari Jumat, niscaya Allah akan mencatat baginya pahala syahid di jalan Allah dan dijaga dari siksa kubur. Dalil keutamaan hari Jumat disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan secara marfu'; Artinya:"Hari jum'at adalah penghulu semua hari, dan hari yang paling agung. Di mata Allah, hari Jum'at lebih agung dari hari Idul Fitri dan Idul Adha."

Selanjutnya di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah ra., Menurutnya hadits ini derajatnya hasan shahih. Rasulullah Saw. Bersabda: "Sebaik-baik hari yang disinari matahari adalah hari Jumat. Pada hari itu, Adam as. diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke Surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya. Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali pada hari Jumat. "

Kedua Hari Arafah juga hari yang baik (9 Zulhijjah) karena dihari itu Allah Swt. berbangga kepada para Malaikat; "Hai para MalaikatKu saksikan kedatangan hambaKu dalam keadaan rambut kusut dan berdebu, harta mereka dan tenaganya dikorbankan demi AKU dan saksikan pula bahwa; AKU telah mengampuni mereka.

Maka anada, bercita-citalah dalam hidupmu sekurang-kurangnya satu kali saja wukuf di Arofah. Jangan berkali-kali ke Eropa tapi tidak pernah sekali saja ke Arofah.

Ketiga Hari Raya Idul Adlha; karena jika seseorang menyembelih (korban) Domba maka tetesan darah pertama adalah sebagai penebus dosa-dosa yang telah ia lakukan.

Keempat Hari Raya Idul Fitri; karena habis melakukan puasa Ramadhan lalu melakukan sholat hari raya, maka Firman Allah; Hai Malaikat, bahwa setiap pegawai itu minta gajihnya, sedangkan hamba-hambaKU baru selesai melakukan sholat Idul Fithri mengharapkan gajih (upah)nya, maka saksikan olehmu bahwa; AKU mengampuni mereka. Dan diserukan; "Hai Ummat Muhammad kembalilah kerumahmu dan dosa-dosamu telah berubah menjadi kebaikan. (Hadis Ibnu Masud).

Adapun bulan Zul Qaidah (Apit) adalah salah satu bulan dari empat bulan-bulan harom; Zul Qaidah, Zul Hijjah, Muharram dan Rajab. Berpuasa satu hari dibulan-bulan harom tersebut sama dengan 30 hari berpuasa dibulan-bulan lain, kecuali bulan Ramdhan. Puasa satu hari dibulan Ramadhan sama dengan 30 hari berpuasa dibulan-bulan harom. Begitu penjelasan Rasulullah Saw.

Kenapa masyarakat Islam di Sumatera Selatan tidak mau menikahkan (resepsi-walimah) pada bulan tersebut? Itu hanya mithos (kepercayaan lama). Padahal bulan Zul Qaidah adalah bulan harom yang dimuliakan. Bangsa Arab memuliakan bulan Zul Qaidah ini dengan masa istirahat, tidak melakukan peperangan, serta bersiap-siap untuk melaksanakan Ibadah Haji. Masyarakat Sumatera Selatan juga di bulan Zul Qaidah ini sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti Manasik Haji, makanya apabila ada rencana menikahkan, mereka merancang waktunya setelah pulang kembali dari menunaikan Ibadah Haji. Demikian jawaban atas pertanyaan ananda.

Keterangan:
Konsultasi agama ini diasuh oleh Buya Drs H Syarifuddin Yakub MHI.

Jika Anda punya pertanyaan silahakan kirim ke Sriwijaya Post, dengan alamat Graha Tribun, jalan Alamasyah Ratu Prawira Negara No 120 Palembang. Faks: 447071, SMS ke 0811710188, email: sriwijayapost@yahoo.com atau facebook: sriwijayapost

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved