Kayu Gelam Pinang Banjar Terancam Punah
Dulu Dianggap Limbah Sekarang Bernilai Rupiah
Namun dengan semakin tingginya nilai kayu gelam dari sisi pemanfaatannya dan ekonomis, kayu yang semula tak berharga itu terancam punah.
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Selain kaya sumber daya alam, Kabupaten Musi Banyuasin ternyata juga kaya flora. Dengan kondisi alam rawa dan mengandung gambut membuat banyak kayu dengan komoditas tinggi tumbuh subur di hutan lindung dan hutan tanah masyarakat. Misalnya kayu jati, ulin, meranti, termasuk kayu gelam yang dinilai sebagai kayu limbah dengan kualitas sedikit di atas kayu racuk.
Di sepanjang Jalan Lintas Timur Palembang-Jambi, dalam wilayah Desa Pinang Banjar Kecamatan Sungai Lilin, Muba, dapat disaksikan di kiri dan kanan jalan terdapat hutan kayu gelam yang berada di atas rawa. Hutan yang awalnya tak bertuan itu, kini lambat laun dikuasai warga berikut segala macam tanaman yang tumbuh.
Namun dengan semakin tingginya nilai kayu gelam dari sisi pemanfaatannya dan ekonomis, bahkan ada yang telah dikirim ke Pulau Jawa, kayu yang semula tak berharga itu terancam punah. Apalagi, warga kini lebih memilih mengubah bekas hutan kayu gelam menjadi sawah agar cepat menghasilkan keuntungan.
Dikhawatirkan, jika kayu gelam yang berada di tanah warga habis, perambah kayu gelam akan mulai masuk lebih dalam dan melakukan pembalakan liar dengan menebangi kayu gelam di hutan lindung milik negara.

Tumpukan kayu gelam disalah satu lokasi hutan kayu gelam di Kabupaten Muba. (SRIPOKU.COM/FAJERI ROMADHONI)
"Kalau kayu gelam itu memang tumbuh di hutan, tapi berada di tanah masyarakat. Dia tumbuh sendiri tanpa ditanam. Dulu tidak ada harganya bahkan siapapun boleh menebang. Tapi, sekarang sudah ada harga, sudah jadi bisnis, dan menjadi sumber kehidupan," ujar Kades Pinang Banjar, Piromli, Sabtu (27/2/2016).
Bahkan menurut Piromli, dirinya sempat beberapa kali mendamaikan warganya lantaran mau memperkarakan pencurian gelam di tanah mereka. Namun sengketa itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan tidak sampai ke ranah hukum.
"Kalau dulu bebas, mau ambil silahkan. Tapi sekarang tidak bisa main-main. Bisa jadi perkara di pengadilan kalau mengambil gelam tanpa izin tuan tanah," tuturnya.
Namun ironis, kian berharganya kayu gelam itu tidak lantas membuat masyarakat mencari tahu cara membudidayakan kayu gelam. Mereka cuma bisa menebang dan menjual, tanpa berusaha menanam kembali. Dengan kondisi demikian, Piromli mengkhawatirkan gelam Pinang Banjar yang dinilai berkualitas baik kian lama kian musnah. Apalagi jika sumber bahan bakunya habis.
Dibagian lain, Andi, pemilik lahan dan penjual kayu gelam di tepi Jalintim Palembang-Jambi mengakui, kualitas gelam Desa Pinang Banjar dikenal bagus. Dengan bentuk kayu yang relatif lurus, ditambah terletak di daerah perlintasan membuat kayu gelam daerah itu laris manis.
Andi mengungkapkan, hampir setiap hari ribuan batang kayu gelam dari lahanya dikirim ke Pulau Jawa. Harga beragam sesuai ukuran, mulai dari Rp 2.500, Rp 3.000, Rp 5.000, Rp 7.500, Rp 10.000, Rp 15.000 hingga Rp 25,000 ada ia jual.
"Cukup laris, tidak hanya di Pulau Sumatera tapi juga di Jawa. Apalagi kayu gelam ini lebih banyak digunakan untuk penunjang pembangunan, dan daerah paling banyak membangun itu di Jawa, jadi cukup banyak ke arah sana," ungkapnya.
Untung besar pun ia raup berkat ribuan batang gelam yang dikirim. Belum lagi orang yang sengaja datang ke kebunnya membuat Andi kebanjiran rezeki. Meski demikian Andi mengakui jika kondisi ekonomi sulit saat ini kayu gelamnya tidak terlalu menghasilkan seperti tahun-tahun belakang.
"Tapi lumayanlah bisa dapat untung satu juta sehari itu kalau lagi ramai," ucapnya.
Namun demikian, Andi mengakui jika sampai saat ini kayu gelam itu belum ada yang ia tanam ulang. Hutan kayu gelam yang berada ditanahnya, kini memang semakin menipis. "Belum ada, semua masih tumbuh sendiri. Saya lebih buat sawah dari pada ke kayu gelam yah, lebih cepat dapat hasilnya," katanya. (cr10/cr13)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/kayu-gelam-di-desa-pinang-banjar-muba_20160229_070144.jpg)