15 Cara Mendapatkan Jodoh dalam Islam
“Ciumlah bau mulut dan bau ketiaknya; dan perhatikanlah urat kakinya.” (HR Thabrani dan Baihaqi).
Penulis: Aminudin | Editor: Sudarwan
ADA 15 cara untuk mendapatkan jodoh dalam Islam. Bagaimana, ini penjelasannya:
1. Memiliki Gambaran tentang Suami/Istri yang Baik.
Allah SWT berfirman (QS Ar-Ruum ayat 21): “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu sendiri agar kamu sakinah bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang berpikir.”
Setiap laki-laki dan perempuan yang hendak menempuh perkawinan harus mempelajari secara benar ciri-ciri laki-laki atau perempuan yang baik untuk menjadi pasangannya menurut ketentuan Islam. Dengan bekal inilah merek akan dapat memilih dan menentukan mana calon yang baik dan mana calon yang tidak baik bagi dirnya. Dengan memiliki gambaran yang pasti seperti digariskan oleh Islam, insya Allah kehidupan suami isteri akan mencapai sasaran yang dikehendaki Allah SWT dan Rasul-Nya.
2. Mencari Informasi.
Disebutkan dalam salah satu hadist: “Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Hasan bin Ali: “Saya mempunyai seorang putri. Siapakah yang patut menjadi suaminya menurut anda?” Jawabnya: “Seorang laki-laki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika ia senang, ia akan meng hormatinya; dan jika ia sedang marah, ia tak suka berbuat zalim kepadanya.” (Fiqhus Sunnah II, Bab Nikah).
“Dari Aisyah berkata: “Kawin berarti perbudakan. Oleh karena itu, hendaklah seseorang mem perhatikan kepada siapa ia lepaskan anak perempuannya.” (Fiqhus Sunnah II, Bab Nikah).
Kedua hadist ini memberi pelajaran kepada kita bahwa sebelum mencari jodoh atau menjo dohkan, seseorang harus terlebih dahulu mencari informasi tentang seluk-beluk orang yang akan menjadi pasangannya atau pasangan orang yang djodohkannya. Informasi yang lengkap tentang calon pasangan sangat diperlukan, baik oleh orang yang hendak melakukan perkawinan maupun oleh walinya.
Informasi tentang calon suami atau calon isteri harus teruji kebenarannya. Seseorang yang mencari informasi tidak boleh tergesa-gesa mempercayai suatu informasi. Ia sebaiknya menampung lebih dulu informasi yang datang dari berbagai pihak sambil menyelidiki dan menguji kebenarannya. Jika ternyata masih ragu akan kualitas calon suami atau calon isteri, lebih baik menunda keputusan untuk menerimanya.
Ringkasnya, muslim dan muslimah harus aktif mencari informasi tentang calon pasangannya agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang merugikan diri sendiri setelah hidup berumah tang ga. Nasehat Hasan bin Ali dan Aisyah, isteri Rasulullah SAW, hendaklah selalu diperhatikan agar pembentukan keluarga sakinah, penuh kasih sayang dan kebahagiaan seperti yang dianjurkan oleh Islam dapat tercapai.
3. Meneliti.
Dari Mughirah bin Syu’bah, ia pernah meminang seorang perempuan, lalu Rasululah SAW ber sabda kepadanya: “Sudahkah kamu lihat dia?” Jawabnya: “Belum.” Sabdanya: “Lihatla dia lebih dahulu agar nantinya kamu berdua bisa hidup bersama lebih langgeng (dalam keserasian berumah tangga).” (HR Nasa’I, Ibnu Majah dan Tirmidzi. Hadist Hasan).
Penelitian kepada pasangan hanya bisa dibenarkan dengan cara-cara islami sebagaimana terurai dalam hadist berikut ini:
- Rasulullah SAW (bila hendak menikahi seseorang perempuan) biasanya mengutus seorang perempuan untuk memeriksa aib yang tersembunyi (pada yang bersangkutan). Sabdanya kepada perempuan tersebut: “Ciumlah bau mulut dan bau ketiaknya; dan perhatikanlah urat kakinya.” (HR Thabrani dan Baihaqi).
- “Jangan sekali-kali seorang lelaki menyendiri dengan perempuan yang tidak halal baginya karena orang ketiganya nanti adalah setan, kecuali kalau ada mahramnya. “ (HR Ahmad).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/pasangan-suami-istri_20151120_212234.jpg)