Tujuh Peringkat Nafsu dalam Islam
Al-Imam Al-Ghazali mengibaratkan nafsu itu sebagai anjing, yang bila dilatih dia akan dapat menjadi baik.
Penulis: Aminudin | Editor: Sudarwan
Nafsu Muthmainnah adalah dorongan untuk berbuat kebaikan. Jiwa merasa tenang dan tentram kalau melaksanakan aturan-aturan Allah SWT dan berbuat berbagai kebajkan. Manusia yang paling bejat sekalipun memiliki Nafsu Mutmainnah. Hakikatnya manusia itu hanif (cenderung pada kebaikan), karena itu manusia akan merasa tenang, tentram dan bangga kalau sudah berbuat kebaikan. Sebaliknya ia merasa gelisah dan menyesal bila melakukan pelanggaran dan dosa. “”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS 89:27-30).
D. Nafsu Mulhamah
Yaitu berupa murah hati, suka terima adanya takdir ilahi, ramah, beradab (sopan santun), tobat, sabar (tahan uji), suka menanggung beban berat pada suatu kepentingan agama. Firman Allah SWT: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu, jalan kejahatan dan ketakwaannya.” (QS Asy-Syams 8).
Bagaimana rasa hati orang yang memiliki Nafsu Mulhamah ini? Apabila hendak berbuat amal kebajikan terasa berat. Dalam keadaan bermujahadah dia berbuat kebaikan karena sudah mulai takut akan kemurkaan Allah SWT dan neraka. Bila berhadapan dengan kemaksiatan, hatinya masih rindu dengan maksiat, tetapi hatinya dapat melawan dengan mengenangkan nikmat surga.
Dalam hatinya masih banyak sifat-sifat mazmumah. Dia sudah dapat mengenali penyakit yang ada dalam dirinya. Cuma tidak dapat dilawan. Di mencoba beribadah dengan sabar. Rasulullah SAW bersabda kepada orang ini yang artinya: “Beribadahlah kepada Allah dalam dirinya, Cuma tidak boleh rasa syukur dengan rasa sabar.”
E. Nafsu Radhiah
Bijaksana, zuhud, ikhlas, wara’ (menjaga dari haram, makruh), bersemangat (pantang menyerah) dalam beribadah, menunaikan kewajiban. Sifatnya Nafsu Radhiah, walau sekecil apapun lara ngan, ia akan tinggalkan sungguh-sungguh. Bila dia makruh, dia anggap macam haram, yang sunat dia anggap macam wajib. Kalau tidak buat yang sunnat seolah-olah rasa berdosa. Mereka akan (rasa) menderita bila sahabatnya terjerumus kepada maksiat. Mereka akan doakan khusus untuk sahabatnya itu di malam hari agar terselamatkan dari maksiat.
Mereka ini banyak mendapat pertolongan dari Allah, di antaranya firasat yang Allah berikan, mereka mudah kenal dengan orang yang berbuat maksiat atau tidak. Mereka mudah memimpin masyarakat, sebab mengenali sifat-sifat hati. Orang yang dia didik nasihat-nasihatnya tepat. Bila mereka dihalau dari masyarakat, tunggulah bala Allah SWT akan turun. Banyak lahir karamah-karamah dari mereka. Mulutnya masin, apa yang disebut insya Allah akan terjadi.
F. Nafsu Mardhiyah
Maqam ini adalah yang tertinggi dari maqam radhiah karena percakapan ata kelakuan mereka diridhai Allah SWT. Jiwa mereka, perasaan mereka, lintasan hati mereka, gerak gerik mereka, penglihatan, pendengaran,pancaindra, penumbuk penerajang mereka, kesemuanya diridhai-Nya.
Mereka yang tel ah sampai ke peringkat Nafsu Mardhiah kelihatan lebih tenang dan tentram. Hati dan jiwanya benar-benar sebati (menyatu, pen) dengan Allah SWT. Rasulullah SAW ber sabda: “Apabila kamu sekalian melihat seseorang mukmin itu pendiam dan tenang, maka dekatilah dia. Sesungguhnya dia akan mengajar kamu hikmat.” (HR Ibnu Majah).
Orang yang berada di peringkat nafsu ini apa saja yang mereka lakukan mendapat keridhaan Allah SWT. Mereka inilah yang disebut dalam hadist Qudsi: “Mereka melihat dengan pandangan Allah, mendengar dengan pendengaran Allah, berkata-kata dengsn kata-kata Allah.”
Perilakunya, kata-katanya, diamnya semua dengan keridhaan dan keizinan Allah SWT belaka. Af’al diri mereka sudah dinafi dan dinisbahkan secara langsung kepada af’al Allah semata. Jiwa mereka betul-betul sebati. Ingatan mereka terhadap Allah SWT tidak sesaat pun berpisah dari-Nya.
Peringkat ini sudah tenggelam dalam fana baqabillah. Pada peringkat inilah suka mengasingkan diri, tidak suka bergaul lagi dengan makhluk. Namun begitu ia mempunyai kesadaran dua alam sekaligus. Zahir dan batin. Dia akan kembali normal seperti biasa.
Zikirnya adalah zikir rahasia, tidak ada lagi lafaz dengan lidah dan hati, tapi seluruh anggota zahir dan batin mengucapkan dengan zikir rahasia yang didengar oleh telinga batin di maqam tanaf fas. Zikirnya tidak pernah terganggu dengan alam zahir walaupun dia tengah bercakap.