Tujuh Peringkat Nafsu dalam Islam
Al-Imam Al-Ghazali mengibaratkan nafsu itu sebagai anjing, yang bila dilatih dia akan dapat menjadi baik.
Penulis: Aminudin | Editor: Sudarwan
NAFSU dapat kita jadikan kendaraan untuk menuju surga jika kita dapat mengendalikannya. Nafsu itu adakalanya jahat, adakalanya baik. Nafsu akan jadi baik bila dilatih.
Al-Imam Al-Ghazali mengibaratkan nafsu itu sebagai anjing, yang bila dilatih dia akan dapat menjadi baik.
Berikut tujuh peringkat nafsu dalam Islam:
1. Nafsu Ammarah
2. Nafsu Lawwamah
3. Nafsu Mutmainnah
4. Nafsu Mulhamah
5. Nafsu Radhiah
6. Nafsu Mardhiyah
7. Nafsu Kamilah
A. Nafsu Ammarah
Nafsu ammarah adalah dorongan untuk melakukan pelanggaran, kejahatan dan kemaksiatan. Karena itu tidak ada manusia yang steril dari dosa.Nafsu ammarah meliputi sifat-sifat seperti banyak makan, banyak tidur, banyak kawin, yang diistilahkan nafsu kebinatangan manusia, nisca ya gerak hidupnya seperti binatang, sifat-sifatnya selaku cenderung berbuat maksiat baik lahir maupun batin. Maksiat batin adalah kekejian yang tersembunyi di dalam jiwa. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS 12:53)
B. Nafsu Lawwamah
Tak lain dan tak bukan adalah nafsu setan yang mendekam pada diri manusia. Ia selalu membi sikkan dan mengajak untuk berbuat keji. Ciri-ciri yang jiwanya dikuasai nafsu lawwamah ialah watak dan jiwanya dikuasai kefasikan, yaitu nafsu yang suka mengoreksi ketika ia melakukan dosa atau kemaksiatan tapi berkhianat atau berbohong pada dirinya sendiri. Misalnya, mengetahui dan menyesali perbuatannya salah tapi masih mengulangi lagi perbuatan salahnya itu. Siapa yang pertama kali mengingatkan bahwa perbuatan itu salah? Tentunya diri kita sendiri. “Dan Aku bersumpah dengan jiwa (nafsu) yang amat menyesali (dirinya).” (QS 75:2).
C. Nafsu Muthmainnah