Ratusan Bangunan di Muba Tanpa Izin

Sebagian Besar Digunakan untuk Sarang Walet

Kondisi geografis Kecamatan Lalan yang yang merupakan daerah perairan memang menjadi berkah tersendiri bagi pengusaha walet.

Sebagian Besar Digunakan untuk Sarang Walet
SRIPOKU.COM/TOMMY SAHARA
Ilustrasi bangunan yang menjadi sarang walet 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Fajar baru saja menyingsing, namun Tri Setyo sudah bangun dari tidurnya. Setelah membasuh muka di kamar mandi, dia nampak bergegas menuju samping halaman rumahnya. Di sana matanya melihat ke bagian atas sebuah gedung bertingkat tanpa cat.

Tak lama, dia menghampiri seutas tali yang terhubung ke sebuah pintu kecil di atas gedung tersebut. Cukup sekali tarik, pintu seketika terbuka dan nampak ratusan burung berhamburan keluar sambil mengeluarkan kicauan nyaring.

"Beginilah kalau ternak walet. Pagi-pagi kita harus bukakan pintu agar mereka bisa keluar mencari makan," kata Tri Setyo yang tak lain adalah Camat di Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Minggu (7/9/2014).

Menurut Tri Setyo, Lalan, kini sudah menjadi "kota walet". Sebab sejak 2006, hampir di seluruh desa berdiri puluhan bangunan tempat walet bersarang. Ada yang permanen dan juga semi permanen. Dia pun yakin, Lalan juga satu-satunya kecamatan di Muba yang paling banyak menghasilkan sarang walet.

"Sayangnya gedung-gedung itu tidak memiliki IMB (izin mendirikan bangunan). Termasuk punya saya itu, belum ada IMB atau sejenisnya," kata Tri Setyo.

Kondisi geografis Kecamatan Lalan yang yang merupakan daerah perairan memang menjadi berkah tersendiri bagi pengusaha walet. Berdasarkan data pihak kecamatan, gedung untuk walet, baik yaang dibuat permanen maupun semi permanen berjumlah 786 bangunan. Rata-rata bangunan memiliki lebar empat meter dengan ketinggian sekitar 10 hingga 15 meter.

Menurut dia, para peternak atau pengusaha walet sudah lama ingin mengurus izin, namun belum sempat karena jarak dari Lalan ke Sekayu (ibukota Muba) terbilang jauh. "Rencananya kami akan mengumpulkan teman-teman lain jadi satu lalu mengurus izin
tersebut," katanya.

IMB atau sejenisnya, menurut Tri Setyo sangat penting. Selain bisa menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), para pengusaha juga bisa dapat jaminan jika suatu saat ingin
pinjam uang ke bank.

Yadi, salah seorang pengusaha walet lainnya mengatakan, saat ini harga sarang walet memang jauh menurun dibanding beberapa tahun sebelumnya. Jika sebelumnya bisa mencapai puluhan juta rupiah per kilogram, saat ini yang bersih putih hanya Rp 15 juta dan Rp 7 juta untuk kategori kotor. Sebenarnya, walet tidak perlu banyak perawatan. Cukup sediakan tempat yang gelap dan agak lembab, sebagaimana habitat aslinya. (cr10)

Editor: Soegeng Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved