Petani Karet Obral Kebun
Satu Hektar Dihargai Rp 35 Juta
Di OKU Timur, 1 hektare kebun karet dilepas Rp 120 juta, di Muaraenim, untuk 10 hektare dilego Rp 600 juta, bahkan di Muba Rp 35 juta.
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Hingga pertengahan Oktober 2014, harga karet tak kunjung membaik. Di wilayah Sumsel, khususnya, per kilogram karet hanya dihargai Rp 5.000 saja. Petani yang menggantungkan hidup dari tanaman ini pun menjerit. Beberapa di antaranya, bahkan terpaksa menjual kebun karet produktif yang dimiliki dengan harga yang sangat murah.
Di OKU Timur, 1 hektare kebun karet dilepas Rp 120 juta, di Muaraenim, untuk 10 hektare dilego Rp 600 juta, bahkan di Muba ada yang terpaksa menjual Rp 35 juta untuk 1 hektare kebun karet yang masih produktif.
Di OKU Timur misalnya, saat harga karet masih di kisaran Rp 13 ribu-Rp16 ribu, nilai tawar kebun seluas 1 hektare bisa mencapai 170 juta. Namun dengan harga rata-rata Rp 5.000, harga jual kebun pun praktis turun hingga Rp 120 juta saja per hektare-nya.
Berbagai cara pun dilakukan para petani karet di OKU Timur untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seperti beberapa petani karet di wilayah Kecamatan Bungamayang yang memilih menebang seluruh batang karet dan menggantinya dengan komoditi lain. Padahal, umur batang karetnya baru tujuh tahun atau mulai menghasilkan getah.
"Biaya operasional tidak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari. Tidak ada pilihan selain mengganti tanaman. Memang berat untuk menebang seluruh batang karet ini. Namun jika tidak memiliki keberanian, maka tidak akan ada perubahan," ujar Baswan (37), pemilik kebun karet di wilayah Bungamayang kepada Sripoku.com pekan lalu.
Menurut Baswan, perkebunan karet hingga saat ini memang masih menjanjikan dan sebagian masyarakat masih tergiur untuk memiliki kebun karet. Namun, bagi petani karet, harga saat ini tidak bisa menutupi kebutuhan sehari-hari ditambah lagi dengan tagihan sejumlah barang yang dibeli secara kredit.
"Memang sayang kalau ditebang. Namun jika ingin hidup berubah harus mengambil keputusan ini," ujarnya.
Berbeda dengan wilayah Bungamayang, petani karet yang berdomisili di Kecamatan Madang Suku II bukan memutuskan untuk menebang batang karet mereka. Namun mereka menawarkan kebun karet untuk dijual. Mereka lebih memilih menjual kebun dibandingkan menebang batang karet dan mengganti dengan komoditi lain.
"Kalau ditebang dan diganti tanaman lain biayanya akan bertambah membengkak. Pilihan satu-satunya adalah dengan menjualnya," ungkap Irul (38) warga Mahyakin.
Menurut Irul, harga jual kebun karet pasca anjloknya harga getah karet mengalami penurunan menjadi Rp 120 juta per hektare, dari sebelumnya Rp 150-170 Juta per Ha saat kejayaan getah karet.
Berbeda lagi, para petani karet di wilayah Semendawai Suku III dan Semendawai Timur lebih memilih mempertahankan kebun karet mereka. Meskipun harga karet mengalami penurunan, mereka tidak menjual dan tidak mengganti tanaman karet. Meskipun mereka menjual kebun karet, namun harga jual tidak mengalami penurunan masih diatas Rp 170 juta per hektare.
"Sementara kami menggarap sawah. Jadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari diambil dari karet, sementara untuk bulanan dari karet," kata Narto (33) petani Karet asal Kecamatan Semendawai Timur. (hen/cr10)