Pemburu Beraksi di Bukit Barisan

Perangkap Harimau Diberi Mantra

Lokasi berburu ada di wilayah hutan Bukit Barisaan di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Lahat (Sumsel), Bengkulu Selatan dan Seluma di Provinsi Bengkulu

Editor: Soegeng Haryadi

SRIPOKU.COM, LAHAT -- Hutan lindung dan marga satwa di kawasan Bukit Barisan menjadi lokasi favorit untuk berburu binatang langka. Setidaknya bagi empat kelompok pemburu yang tinggal di suatu desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lahat (Sumsel)-Bengkulu Selatan (Bengkulu).

Selain menjadikan harimau Sumatera sebagai buruan utama, mereka juga menangkap hewan langka lainnya seperti orangutan, rusa, trenggiling dan ular sanca. Hasil buruan dijual ke para penadah dengan harga berkisar Rp 8 juta untuk harimau, Rp 2 juta untuk seekor orangutan, Rp 500 untuk trenggiling.

Tidak mudah menemukan keberadaan para pemburu ini. Selain wilayah domisilinya yang jauh dari pusat kota, tempat berburunya juga jauh di dalam hutan. Hanya proses jual belinya saja yang dilakukan di kota, karena hewan yang berhasil ditangkap dibawa ke penadah dalam kondisi hidup atau mati.

Setelah melakukan investigasi ke sejumlah kecamatan yang terdapat hutan lindung, Sripo berhasil menemui Man, seorang yang kerap terlibat dalam perburuan, Kamis (1/5/2014). Dia dan kelompoknya cukup dikenal warga sekitar, dan menetap di suatu desa di kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Menurut pengakuannya, terdapat lebih dari empat kelompok pemburu di wilayah itu. Masing-masing terdiri dari dua hingga empat orang.

Dilihat dari usianya, Man memang tak muda lagi. Namun karena dia punya keahlian sebagai pawang harimau, jasanya dimanfaatkan kelompok pemburu untuk membantu menjinakkan buruan. Pria 72 tahun itu pun selalu menyertai para pemburu ke dalam hutan.

Disebutkan Man, lokasi berburu ada di wilayah hutan Bukit Barisaan di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Lahat (Sumsel), Bengkulu Selatan dan Seluma di Provinsi Bengkulu. Lokasinya terbilang jauh dan memakan waktu lama, karena tidak ada akses transportasi kecuali dengan berjalan kaki.

"Tempat berburu itu banyak. Tapi kami lebih sering ke hutan Bukit Raja Mandala (terletak di perbatasan hutan lindung Kabupaten Lahat dan Bengkulu Selatan) dan Kecamatan Semidangalas (Bengkulu)," kata Man.

Dijelaskan, untuk sampai ke lokasi perburuan, mereka harus berjalan kaki sekitar delapan jam. Bahkan kalau ke Semidangalas, waktu tempuh bisa satu hari. Mereka cukup melacak dari jejak yang ditinggalkan harimau Sumatera di dalam hutan. Bila jejak masih baru di kawasan hutan yang sudah pernah dilewati, maka bisa dipastikan tempat bersembunyiannya tidak berada jauh. Perangkap pun disiapkan termasuk umpan untuk memancing Raja Hutan itu datang.

Mereka juga membuat perangkap berukuran sedang, yang bisa memuat seekor harimau Sumatera dewasa. Bahan yang dipilih tidak sembarangan, karena harus kayu yang benar-benar kuat dan kokoh untuk mengantisipasi satwa buas tersebut berontak. Biasanya mereka menggunakan rusa atau babi hutan sebagai umpan. Namun sebelumnya umpat tersebut dibacakan semacam mantera. Perangkap itu kemudian ditinggalkan, dan akan dicek sekitar dua hari kemudian. Terkadang bisa saja gagal karena harimau berhasil kabur, namun selama ini sering berhasil dan bisa menangkap dalam keadaan hidup.

Bila perangkap pertama gagal, maka mereka akan menggunakan cara lain, yakni menggunakan umpan beracun. Babi hutan atau rusa yang dijadikan umpan diberi ramuan racun, yang diolesi di seluruh bagian tubuh. Kemudian diletakkan begitu saja di tanah, dan bila ada harimau yang memangsanya akan mati dalam hitungan jam. (iko)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved