Siswa Sekolah Elit Cari Bocoran UN

Hanya Dianggap Isu Semata

Menurut dia, pengakuan siswa maupun pihak-pihak yang pernah terlibat dalam pencarian kunci jawaban soal hanyalah isu.

Editor: Soegeng Haryadi

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Untuk menjamin keamanan paket soal Ujian Nasional (UN) tahun ini, jalur distribusi dari percetakan PT Temprina, Surabaya menuju Provinsi Sumsel dirahasiakan. Demikian diktakan Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Widodo saat dikonfirmasi Sripoku.com, Minggu (16/3/2014).

Widodo menjelaskan, pihaknya menyerahkan urusan distribusi kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk menentukan apakah melalui jalur darat, laut atau udara. Menurut dia, kerahasiaan itu penting untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk terjadinya kebocoran soal.

Widodo tak percaya jika soal UN yang sudah dikawal ketat bisa bocor. Menurut dia, pengakuan siswa maupun pihak-pihak yang pernah terlibat dalam pencarian kunci jawaban soal hanyalah isu. Apalagi ada pihak sekolah yang sengaja membentuk tim untuk "menyukseskan" UN di sekolah tertentu.

"Kabar orangtua yang ikut membantu anaknya memperoleh soal juga tidak mungkin. Sudahlah, itu tak perlu dibesar-besarkan," ujarnya.

Dia menegaskan, paket soal dikawal ketat aparat kepolisian, pihak percetakan, perguruan tinggi (Universitas Sriwijaya) dan Disdik Sumsel sendiri. Selama perjalanan, paket soal disimpan di tempat yang aman, kuncinya di satukan dan dipegang oleh satu orang dari petugas yang mengawal. Kemudian, setelah tiba di Sumsel, paket soal akan diamankan dalam sebuah gudang selama 10 hari yang tempatnya juga dirahasiakan.

"1 April soal dijadwalkan sudah kita terima. Setelah disimpan 10 hari, sekitar tanggal 11 April soal baru akan didistribusikan ke seluruh kabupaten/kota di Sumsel. Di sana mereka juga bertanggung jawab mendistribusikan soal ke seluruh sekolah sehari sebelum pelaksanaan ujian," jelasnya.

Dijelaskan, tahun ini, master soal sudah diserahkan dua bulan sebelum pelaksanaan ujian. Berbeda dengan tahun lalu yang hanya menggunakan 45 hari dimulai dari masa percetakan hingga pendistribusian, yang akhirnya membuat UN sempat tertunda untuk beberapa daerah di wilayah timur Indonesia.

Mengenai alasan percetakan dipusatkan di Surabaya untuk regional II, karena tidak ada percetakan yang memenuhi standar dalam Prosedur Operasional Standar (POS) UN 2014 di provinsi dalam regional II.

"Yang memenuhi standar tidak ada di Sumsel, Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, dan Lampung. Sehingga Kemendikbud menetapkan untuk regional II soal dicetak di Surabaya," jelasnya.

Mengenai kemungkinan siswa berbuat curang ketika pelaksanaan ujian, Widodo mengatakan hal tersebut tentunya harus diantisipasi. Bahkan, siswa yang ketahuan melakukan kecurangan dalam ujian, pihaknya tak akan segan untuk menyatakannya tidak lulus ujian.

"Tentu harus diberikan tindakan tegas bagi siswa yang ketahuan melakukan kecurangan dalam pelaksanaan ujian nanti, tidak ada toleransi," tegasnya. (cr4)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved