Siswa Sekolah Elit Cari Bocoran UN
Sekolah Hanya Mengejar Kelulusan 100 Persen
Tidak heran jika banyak sekolah menempuh segala cara untuk membantu kelulusan siswanya, termasuk mencari soal dan menyiapkan kunci jawabannya.
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Keberhasilan siswa dalam Ujian Nasional (UN) menjadi salah satu indikator kesuksesan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Karena itu, tidak heran jika banyak sekolah menempuh segala cara untuk membantu kelulusan siswanya, termasuk mencari soal dan menyiapkan kunci jawabannya pada saat ujian.
Seperti diberitakan sebelumnya, tidak hanya siswa yang berusaha mencari soal dan mendapatkan kunci jawaban UN. Tidak sedikit kepala sekolah juga menginstruksikan sejumlah guru untuk mencari, membuat serta menyebarkan kunci jawaban kepada peserta ujian di sekolahnya. Guru-guru yang ditunjuk pun seolah tak kuasa menolak. Meski tak sependapat dengan cara curang itu, sejumlah guru mengaku terpaksa melaksanakan karena menyangkut tingkat kelulusan siswa di sekolah mereka.
EA, salah seorang guru Bahasa Indonesia SMP Negeri di Palembang mengaku sudah beberapa tahun ditugaskan sebagai tim sukses UN di sekolah tempat dia mengajar. Bersama lima rekan guru lainnya, mereka berkumpul di satu rumah yang sudah ditentukan kepala sekolah sehari sebelum pelaksanaan UN mata pelajaran Bahasa Indonesia.
"Kami diminta menjawab soal dengan cara dibagi. Paling parah itu tahun 2013 di mana jumlah paket soalnya mencapai 20 buah. Jelas menyusahkan kami," kata EA kepada Sripo, Minggu (16/3/2014).
Hal serupa tidak hanya terjadi di Palembang. Di Ogan Ilir (OI), sejumlah guru juga diminta terlibat dalam menyukseskan UN. FF, salah seorang guru SMP Negeri di Pemulutan, OI, mengaku ditugaskan menyelesaikan kunci jawaban mata pelajaran Matematika. Menurut dia, materi soal Matematika itu relatif mudah dijawab. Namun karena jumlah variaso soal ada 20, itu memakan waktu seharian.
"Kepala sekolah mengumpulkan kami dua minggu sebelum ujian untuk menjawab soal ujian. Katanya itu instruksi dari atasannya juga (Diknas), jadi kami tak bisa membantah," terangnya.
Dijelaskan, setelah mendapatkan jawaban, ada beberapa guru muda yang bertugas memperbanyak jawaban tersebut. Mereka pula yang bertugas menyebarkan kunci jawaban tersebut pada siswa menjelang pelaksanaan ujian.
"Kalau tahun lalu itu, pagi-pagi siswa mendapatkan kunci tersebut dalam bentuk kopelan kertas kecil. Ada pula yang bertugas menyebarnya melalui SMS. Saya berharap UN tahun ini saya tidak dilibatkan lagi," harapnya.
Karena sudah akrab dengan praktik kecurangan ini, FF merasa malas mengajar siswanya.
Menurut dia, kegiatan belajar mengajar yang dipersiapkan dengan berbagai perencanaan terasa tak ada gunanya, karena siswa pun sudah mengetahui bakal ada bantuan saat ujian.
"Siswa jadi tidak serius mengikuti pelajaran. Sekolah hanya mengejar kelulusan 100 persen, sehingga segala cara ditempuh. Siswapun jadi malas belajar, jadi kami sebagai guru pun begitu, toh kami juga yang akan menjawab soal ujian mereka," katanya.
Lantas dari mana pihak sekolah mendapatkan soal tersebut? FF enggan menanggapinya. Menurut dia, itu urusan kepala sekolah.
"Sepertinya memang sudah dilindungi atasan atau pejabat setempat. Pokoknya siswa harus lulus 100 persen," tambahnya. Dijelaskannya pula, setelah mendapatkan jawaban, ada pula beberapa guru muda yang bertugas memperbanyak jawaban tersebut melalui fotocopy di sekolah mereka. Mereka pulalah yang bertugas menyebarkan kunci tersebut pada siswa menjelang pelaksanaan ujian berlangsung.
"Kalau tahun lalu itu, pagi-pagi siswa mendapatkan kunci tersebut dalam bentuk kopelan kertas kecil. Ada pula yang bertugas menyebarnya melalui sms. Tahun ini Allahualam, rasanya tak ingin lagi diikutkan. Tetapi mata pelajaran saya tetap diujikan, saya yakin akan tetap diajak menjadi tim sukses," tuturnya. (tim)