Buta, Tuli, dan Bisu tak Jadi Penghalang
Bahkan penderita tuna rungu dan tuna wicara hampir tidak dapat ditebak.
Penulis: Tarso | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Tak ada manusia yang ingin lahir ke dunia ini dalam keadaan cacat. Tapi manusia tidak bisa menolak takdir hidupnya.
Untuk itulah pemerintah terus memberikan kemudahan bagi mereka penyandang cacat atau berkebutuhan khusus (inklusif) untuk menikmati pendidikan agar dapat hidup lebih baik di tengah masyarakat.
Hari ini, Selasa (26/11/2013), menjadi hari yang bahagia bagi para anak yang berkebutuhan khusus.
Pasalnya Pemerintah Provinsi Sumsel bersama kabupaten dan kota menandatangani deklarasi pendidikan inklusif.
Dengan deklarasi ini tidak ada lagi diskriminasi terhadap penyandang inklusif. Mereka bisa menikmati pendidikan di sekolah-sekolah negeri manapun untuk menimba ilmu.
Pantauan Sripoku.com, untuk memeriahkan deklarasi yang dihadiri langsung Wamen Dikbud Musliar Kasim ini, ratusan penyandang masalah inklusif ikut ambil bagian.
Ada yang membawakan tari tanggai menyambut Wamen. Ada pula yang menyanyikan lagu Indonesia Raya hingga bermain orgen tunggal dan lain sebagainya.
Bahkan penderita tuna rungu dan tuna wicara hampir tidak dapat ditebak.
Tetapi ketika mereka berkomunikasi dengan gerakkan jari dan tangan barulah diketahui jika mereka penyandang masalah Inklusif.
Meskipun mereka ini ada yang buta, tuli dan bisu bahkan keterlambatan mental tapi mereka mampu berprestasi.