Jangan Budayakan Menjiplak

Salah satu penerima beasiswa dari Surya Akademi Jakarta ini mengaku, mayoritas orang

Editor: Sudarwan

SRIPOKU.COM - Minimnya kesadaran untuk melakukan terobosan dan riset ilmu pengetahuan akhir-akhir ini, membuat Jessica Carlen (17) merasa prihatin.

Ditambah dengan budaya 'jiplak' yang nyaris mengakar, membuat orang Indonesia malas untuk melakukan terobosan terbaru yang harus dicontoh negara lain.

Salah satu penerima beasiswa dari Surya Akademi Jakarta ini mengaku, mayoritas orang cenderung mempatenkan budaya luar.

"Ironinya, kita keseringan menjiplak tanpa mau berupaya bagaimana caranya menjadi penemu," katanya kepada Sripoku.com.

Siswa kelas XII SMA Methodist 1 Palembang ini mengaku, kurangnya hak paten di Indonesia, diakibatkan kurangnya orang melakukan riset.

Padahal, menurutnya, semua teknologi dan ilmu pengetahuan itu akan semakin berkembang.

"Jika kita tidak berupaya mencari hal-hal baru, khususnya dalam ilmu pengetahuan, kita akan jauh tertinggal dari bangsa lain. Ujung-ujungnya hanya bisa menjiplak, bahkan berani melakukan plagiat," ucapnya.

Penyuka warna hijau ini juga menambahkan, selain kurangnya kesadaran diri individual, faktor eksternal juga menjadi penyebab kurangnya minat masyarakat Indonesia melakukan riset.

"Sangat penting diperhatikan, khususnya pelajar di zaman sekarang untuk didukung dan diajak melakukan kegiatan yang inovatif dan kreatif." katanya. Jessica juga mengharapkan, agar pemerintah terus memperhatikan generasi muda untuk terus berkarya dan menciptakan hal baru.

Semua harus didukung, mulai dari sering mengadakan pelatihan, penelitian, studi banding, penyediaan fasilitas, dan pembinaan dari para ahli.

"Intinya, jangan budayakan menjiplak," ucap gadis yang juga hobi membaca ini. (Yuliani)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved