Ilmu dan Mantra Pelet Bujang Gadis dari Lampung
Sementara untuk jasa paket pembelajaran museum hanya Rp 2.500 per orang untuk tiga jam pelajaran.
Dua suku asli Lampung ditampilkan di ruang pameran yang berada di lantai dua. Pepadun merupakan suku di pedalaman, sedangkan Saibatin di daerah pesisir. Dalam ruang pameran, pengunjung bisa melihat tradisi dua suku tersebut mulai dari kelahiran sampai kematian.
Salah satu yang menarik adalah tradisi serah sepi bilah atau asah gigi. Baik dari suku Pepadun maupun Saibatin menerapkan tradisi tersebut. Serah sepi bilah merupakan tradisi meratakan gigi yang memiliki makna pengendalian diri terhadap enam musuh dalam diri manusia.
Enam musuh yang dimaksud adalah hawa nafsu berlebihan, sifat rakus, amarah, mabuk, kebingungan, dan iri hati. Upacara tersebut diadakan saat si anak memasuki masa remaja. Tradisi serah sepi bilah sudah ada sejak masa Hindu di Lampung.
Koleksi menarik lainnya adalah kain tapis. Ya, kain tapis memang lekat pada masyarakat Lampung. Kain tapis merupakan tenun ikat yang diberikan sulaman dengan motif-motif tertentu. Pada suku Saibatin, kain tapis disebut sebagaik kain inuh.
Motif-motif yang hadir bisa berupa pohon, lajur, riak gelombak dan binatang laut, tunas dan sulur daun, hingga motif kapal. Masyarakat sekitar pantai barat Lampung atau daerah Krui menyebut kain tenun dengan motif kapal sebagai istilah pelepal atau taber.
Rumah tua
Tepat di bagian depan
museum terdapat rumah panggung tradisional khas Lampung. Rumah tua
tersebut berasal dari Desa Kenali, Lampung Barat. Oleh karena itu, rumah
tersebut disebut sebagai Rumah Kenali.
“Usianya sudah 325 tahun. Rumah itu kita datangkan langsung dari Desa Kenali. Sebagian kayunya yang sebagai fondasi kami ganti, tapi sisanya masih asli,” kata Oki.