Ilmu dan Mantra Pelet Bujang Gadis dari Lampung
Sementara untuk jasa paket pembelajaran museum hanya Rp 2.500 per orang untuk tiga jam pelajaran.
Mantra bujang-gadis hanya satu dari koleksi-koleksi menarik lainnya di museum ini. Di lantai satu sebelah kiri, pengunjung dapat melihat sejarah alam dengan binatang-binatang langka yang hidup di Lampung lengkap dengan efek suara suasana hutan.
Masih di ruangan yang sama, tampak diorama letusan Gunung Krakatau di tahun 1883 yang menjadi legenda dunia. Selanjutnya adalah ruang koleksi berupa menhir, arca, hingga fosil manusia purba. Setelah itu beranjak ke ruangan sebelah kanan dari pintu masuk museum tersebut.
Ruang sejarah klasik Hindu Buddha mengawali pameran koleksi museum. Di sini, pengunjung bisa melihat prasasti bungkuk dan prasasti Palas Pasemah yang merupakan tertua dan berasal dari abad ke-7 Masehi pada masa Kerajaan Sriwijaya dan dipercaya sebagai cikal bakal berkembangnya tradisi tulis.
Belanjut kemudian adalah ruangan sejarah Islam yang menampilkan aneka koleksi bernuansa Islam seperti kalirafi, prasasti, dan keramik. Islam diperkirakan masuk ke Lampung di abad ke-16 Masehi. Selanjutnya adalah ruangan filologika yang berisikan naskah-naskah kuno, salah satunya mantra bujang-gadis.
Selanjutnya adalah ruang sejarah zaman kolonial yang menampilkan beragam senjata perang baik dari pihak Belanda maupun berbagai senjata di nusantara. Salah satunya adalah pedang milik Radin Inten II, pahlawan asal Lampung yang berjuang melawan kolonial.
Keramik-keramik dari China, Eropa, maupun Jepang, ditampilkan di ruang kramalogika. Sementara di ruang numismatika dan heraldika, pengunjung bisa melihat uang kertas kuno hingga surat berharga dan stempel yang pernah digunakan di Lampung.
Terakhir adalah ruang jalur sutra yaitu jalur perdagangan dunia di abad empat sampai tujuh belas masehi. Jalur ini melintasi Lampung sebagai penghasil kopi dan lada. Hingga kini, Lampung masih menjadi pengekspor kopi terbesar di Indonesia.
Pepadun dan Saibatin