Mimbar Jumat
Manfaat dan Keutamaan Belajar Tahsin Alquran
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran adalah seperti bunga utrujjah, baunya harum
Penulis: admin | Editor: Bedjo
Munirul Ihwan, S.Ag, M.Si
Anggota Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Sumsel
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran adalah seperti bunga utrujjah, baunya harum dan rasanya lezat. Sebaliknya orang mukmin yang tidak suka membaca Alquran adalah seperti buah korma, baunya tak begitu harum, tetapi manis rasanya. Sedangkan orang munafik yang membaca Alquran ibarat sekuntum bunga, berbau harum tapi pahit rasanya dan orang munafik yang tidak membaca Alquran tak ubahnya laksana buah hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit sekali.” (HR Bukhari dan Muslim).
SETIAP yang bernama mukmin yakin bahwa membaca Alquran saja sudah termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala berlipat ganda, sebab yang dibacanya itu adalah Kitab Suci Ilahi.
Alquran adalah sebaik-baik bacaan bagi orang mukmin, baik di kala senang maupun susah, di saat gembira atau di saat sedih. Malahan membaca Alquran itu bukan cuma amal dan ibadah, tapi juga menjadi opbat dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya.
Pada suatu ketika datanglah seseorang kepada sahabat Rasulullah SAW yang bernama Ibnu Mas’ud, meminta nasehat. Katanya: “Wahai Ibnu Mas’ud, berilah nasehat yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang gelisah. Dalam beberapa hari ini aku merasa tidak tentram, jiwaku gelisah, pikiranku kusut; makan tak enak, tidur pun tak nyenyak.”
Maka Ibnu Mas’ud menasehatinya. Katanya: “Kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat yaitu ke tempat orang membaca Alquran, engkau baca Alquran atau engkau dengar baik-baik orang yang membacanya; atau engkau pergi ke majelis pengajian yang mengingatkan hati kepada Allah; atau engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana engkau berkhalawat; menyembah Allah. Umpama di waktu tengah malam buta, di saat orang sedang tidur nyenyak, engkau bangun mengerjakan salat malam, meminta dan memohon kepada Allah ketenangan jiwa, ketentraman pikiran dan kemurnian hati. Seandainya jiwamu belum juga terobati dengan cara ini, engkau minta kepada Allah, agar diberinya hati yang lain, sebab hati yang kamu pakai itu bukan lagi hatimu.”
Setelah orang itu kembali ke rumahnya, diamalkannyalah nasehat Ibnu Mas’ud itu. Dia pergi mengambil wudhu kemudian diambilnya Alquran, terus dibaca dengan hati yang khusyu’. Selesai membaca Alquran berubahlah kembali jiwanya, menjadi jiwa yang aman dan tentram, pikirannya tenang, kegelisahnya hilang, lenyap sama sekali.
Tentu, kata M Humaidi S.pd.I, mengutip pendapat para ulama ahli qiraat, dalam bukunya Pelajaran Tajwid dari Teori Sampai Praktek, saat membaca ayat suci Alquran kita harus memperhatikan masalah kesopanan alis etika, sebagaimana terangkum berikut ini:
w Pembaca Alquran hendaklah bersungguh-sungguh dalam mengagungkan Alquran.
w Sebelum membaca Alquran diharuskan melakukan wudhu’ (jika memegang Alquran).
w Membaca doa sebelum memulai membaca Alquran.
w Disunnahkan membaca isti’adzah dan basmalah sebelum memulai memnaca ayat-ayat suci Alquran.
w Disunnahkan memilih tempat-tempat yang bersih untuk membacanya.
w Diwajibkan menggunakan tajwid. Tanpa menggunakan tajwid hukumnya haram. Sebab, membaca Alquran dengan tajwid itu hukumnya fardhu ‘ain.
w Dianjurkan membaguskan suaranya, sebab suara yang bagus dan merdu bisa menambah keindahan uslubnya Alquranulkarim.
w Diwajibkan berniat dengan ikhlas karena Allah SWT semata-mata agar mendapat keridhaan dan pahala-Nya, dan berusaha menghindari maksud-maksud untuk mencari keuntungan dunia dan kemenangan dalam musabaqah.
w Pembaca Alquran wajib tawadhu’.
w Disunnahkan membacanya dengan tartil.
w Disunnahkan membersihkan mulut dengan wangi-wangian dan paling utamanya adalah memakai siwak.
w Disunnahkan untuk memperhatikan arti dan kandungan Alquran, sehingga apabila sampai kepada ayat tasbih, dibacalah tasbih dan tahmid serta bila sampai kepada ayat azab, mohonlah perlindungan kepada-Nya.
w Disunnahkan untuk mendengarkan dan memperhatikan bacaan Alquran dengan khidmat dan khusyu’ agar mendapat rahmat dari Allah SWT.
w Disunnahkan bersedih hati (menangis) bagi para pembaca dan yang mendengarkan apabila sampai kepada ayat-ayat azab.
w Disunnahkan membaca salawat kepada Nabi SAW bagi pembaca dan yang mendengarkan bacaan Alquran, ketika sampai kepada ayat-ayat yang menyebutkan nama Nabi Muhammad SAW.
w Hindari memutus ayat hanya karena mau bicara dengan orang lain.
w Disunnahkan berpakaian rapi dan bagus serta menutup aurat dan memakai wangi-wangian.
w Disunnahkan membaca doa Khatmil Alquran baik sesudah maupun sebelum khatam 30 juz.
Perihal keutamaan dan kelebihan membaca Alquran, Rasulullah SAW telah mengatakan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: “Ada dua golongan manusia yang sungguh-sungguh orang dengki kepadanya, yaitu orang yang diberi oleh Allah SWT kitab suci Alquran ini, dibacanya siang dan malam; dan orang yang dianugerahi Allah kekayaan harta, siang dan malam kekayaan itu digunakannya untuk segala sesuatu yang diridhai Allah SWT.”
Khalid bin Basyir dari al-Husain bin Ali dari Nabi SAW bersabda: “Siapa yang membaca Alquran dalam sembahyang sambil berdiri maka ia mendapat pahala untuk tiap huruf seratus hasanat dan siapa yang membaca Alquran sembahyang sambil duduk maka ia mendapat pahala untuk tiap huruf lima puluh hasanat, dan siapa membaca Alquran bukan dalam sembahyang, ia mendapat pahala untuk tiap huruf sepuluh hasanat, dan siapa yang mendengar bacaan kitab Allah benar-benar ingin mendapat pahala dari-Nya, maka akan dicatat untuknya pada tiap huruf satu hasanat, dan siapa yang membaca Alquran hingga khatam maka ia mendapat kesempatan doa mustajab yang adakalanya segera di dunia atau kelak di akherat.”
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS Faathir 29).
Dari Aisyah ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang membaca Alquran dan ia pandai (hafal) dalam membacanya, ia akan bersama para malaikat yang menjadi utusan yang mulia lagi suci. Sedangkan orang yang membaca Alquran tetapi ia terbata kesulitan serta kesukaran dalam membacanya, ia akan memperoleh dua pahala.” (HR Bukhari dan Muslim, at-Tirmidzi Abu Daud dan Al-Darimi).
****
TAHSINUL Quran atau memperbaiki bacaan Alquran adalah indikasi dari keimanan seorang muslim. Seorang muslim yang tidak berusaha memperbaiki bacaan Alqurannya -- membaca seadanya saja --, maka keimanannya terhadap Alquran sebagai kitabullah patut diragukan. Karena bacaan yang bagus adalah cerminan rasa keyakinannya kepada wahyu Allah yang agung ini.
Tentang hal ini, Allah SWT berfirman dalam QS Surat Al-Baqarah 121 yang artinya kurang lebih begini: “Orang-orang yang diberikan al-Kitab (Taurat dan Injil) membacanya dengan benar. Mereka itulah orang-orang yang mengimaninya. Dan barangsiapa yang ingkar kepada al-Kitab, maka merekalah orang-orang yang merugi.”
Walaupun ayat ini menyinggung kaum Ahlul Kitab yang terdiri dari kaum Yahudi dan Nasrani, tetapi sebagian besar para mufassirin menyebutkan bahwa khitob (seruan) ayatnya bersifat umum. Termasuk di dalamnya juga ditujukan kepada umat Islam yang berkitab sucikan Alqiranulkarim. Hal ini juga diperkuat oleh kaidah ushul fiqh: “Ibrah (pelajaran) itu dilihat dari umumnya lafaz, bukan dari sebab yang khusus.”
Maka itu wajib hukumnya bagi setiap muslim dan muslimah untuk memperhatikan bacaan Alqurannya. Ini dikarenakan tilawah yang baik akan mempengaruhi kualitas ibadah kita di sisi Allah SWT. Contohnya, dalam salat jamaah bagi kaum laki-laki muslim. Bacaan Al-Fatihah yang tidak baik dan berantakan dapat menyebabkan salat jamaah menjadi tidak sempurna yang pada gilirannya akan mempenga ruhi kualitas salat kita di sisi Allah SWT. Diterimakah atau ditolak? Bisa dipastikan dengan tilawah yang tidak beres dan buruk itu ibadah salat kita menjadi cacat dan berpeluang besar tidak diterima di hadapan Allah SWT.
Dengan kata lain, menurut tinjauan ilmu ushul fiqh, mereka yang tidak mau memperbaiki tilawah Alquran menjadi lebih baik dan sesuai dengan kaidah tajwid, maka akan dimasukkan kategori orang-orang yang lalai dan tidak memperdulikan kitabullah ini. Sebagai seorang muslim tentu kita tak ingin dimasukkan ke dalam golongan orang merugi seperti halnya kedua Ahlil Kitab tadi hanya karena lalai dan tidak memiliki ihtimam (perhatian) terhadap kitab suci kita ini.