Sukhoi Maut

Black Box Ditemukan di Jurang

Setelah dilakukan pencarian panjang selama beberapa hari, kotak hitam

Tayang:
Penulis: admin | Editor: Bejoroy
zoom-inlihat foto Black Box Ditemukan di Jurang
Antara
BLACK BOX SUKHOI — Ketua Tim SAR Gabungan Danrem 061 Surya Kencana Kol Inf AM Putranto (kanan), menerima Black Box pesawat Sukhoi Super Jet 100 dari perwakilan Komando Kopassus, Letkol Taufik Sobri, di Pos Pusat Evakuasi Balai Embrio Ternak Kementerian Pertanian, Desa Cipelang, Cijeruk, Bogor, Jabar, Selasa (15/5).
JAKARTA, SRIPO — Setelah dilakukan pencarian panjang selama beberapa hari, kotak hitam atau black box pesawat Sukhoi Superjet 100 ditemukan di jurang oleh Kopassus, Selasa (15/5) sore.
Kemudian kotak hitam tersebut dibawa ke Posko Cimelati, Sukabumi, sampai akhirnya disampaikan ke posko utama di Cipelang, Kabupaten Bogor pada pukul 21.30 WIB.

Letkol Shobri yang memimpin tim Kopassus dalam pencarian kotak hitam pesawat tersebut langsung menyerahkan kotak hitam yang ada di dalam ransel hijau kepada Danrem 061 Surya Kencana Kolonel Infantri Anton Mukti Putranto di Pos Pusat Evakuasi Balai Embrio Ternak Kementerian Pertanian, Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Black box ditemukan oleh lima anggota Kopassus yang tergabung dalam Tim C dengan pemimpin Letnan Satu (Lettu) Infanteri Taufik.

Setelah diserahkan, benda yang berada dalam ransel tersebut dibawa ke ruangan untuk dipastikan apakah black box atau bukan. Setelah diperiksa KNKT ternyata benar benda tersebut black box Sukhoi.

Serahkan Diri
Dua jasad tergeletak dalam kondisi tragis. Dua-duanya pria mengenakan pakaian mirip seragam pilot, tergeletak terbaring di bawah pepohonan dan dengan latar belakang puing-puing pesawat terbang.

Foto itu disebar dengan kredit, foto pilot dan co-pilot Sukhoi Superjet 100 melalui akuin Twitter milik Yogi Samtani, sejak Kamis lalu. Pihak keluarga korban pun marah besar karena informasi itu ternyata bohong, lalu Yogi menyerahkan diri kepada kepolisian.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Saud Usman Nasution, mengatakan Yogi, Selasa (15/5) pagi, merasa resah melihat reaksi masyarakat terhadap ulahnya.

“YS merasa resah dan ketakutan, karena mendapat perlawanan publik yang sedemikian gencar, setelah pengunggahan foto-foto korban kecelakaan pesawat di luar negeri, yang ditulis YS sebagai korban Sukhoi di Gunung Salak, Jawa Barat. Oleh karena itu mereka datang melapor,” katanya.

Lebih lanjut Saud mengatakan, YS yang datang dengan ditemani ibu dan anaknya itu, menjelaskan kepada petugas bagaimana proses foto tersebut bisa tersebar.

“Kalau dia salah kita proses, tapi kita akan lihat apa asal muasalnya, kita akan periksa kebenarannya,” terang Saud, mantan Komandan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri.
YS diantarkan keluarga ke Mabes Polri. Saat ini YS masih menjalani pemeriksaan di Bareskrim Mabes Polri.

“Dia sendiri belum tentu dipidana, polisi terlebih dahulu akan memeriksa,” kata Saud.
Saud juga mengatakan, polisi akan menelusuri motif YS menyebarkan foto palsu korban pesawat yang jatuh di kawasan Gunung Salak, Jawa Barat, Rabu (9/5). Pelaku bisa dijerat dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informatika dan Transaksi Elektronika.

Kabareskrim Komjen Pol Sutarman, dalam kesempatan terpisah mengatakan akan melihat sampai sejauh apa kebohongan itu.

“Sejauh mana dampak dari berita bohong ini terhadap pelanggaran-pelanggaran yang mungkin terjadi. Kalau ada pelanggaran-pelanggaran kita lakukan penyidikan,” katanya.

Hoax
Belakangan ketahuan, informasi itu bohong alias hoax, ternyata foto itu bukanlah pilot Alexander Yablontsev dan co-pilot Alexander Kochetkov. Dilihat dari ciri jenazah, sangat berbeda jauh dengan ciri sang kapten pilot yang memiliki rambut putih yang khas. Jenazah yang diabadikan gambarnya memiliki rambut yang botak dan mengenakan kemeja putih.

Berdasarkan penelusuran Polri, foto tersebut ternyata jenazah korban kecelakaan pesawat Air India Express, 22 Mei 2010. Kecelakaan nahas itu mengakibatkan sebanyak 160 dari 169 penumpang tewas, setelah pesawat Boeing 737-800 gagal mendarat di Bandara Bajpe Mangalore, India

Foto jenazah pria yang berwajah bule di foto hoax tadi, adalah pilot asal Serbia, dan yang berada di sebelahnya adalah co-pilot, warga India.

Juru bicara Mabes Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, mengatakan sudah mengetahui penyebar foto palsu korban Sukhoi Superjet 100. Hingga saat ini polisi masih menyelidikinya.
“Terkait dengan penyelidikan gambar-gambar di sosial media, saat ini masih berlangsung,” kata Boy.

Menurutnya, tim penyidik cyber Polri telah menginvestigasi beredarnya foto korban kecelakaan pesawat.

Boy membenarkan penyebar foto palsu itu berinisial YS.
“Belum jadi tersangka,” ujarnya.
Boy mengisyaratkan sudah tahu keberadaan YS tapi enggan menyebut lokasinya. Yang jelas, “Dia orang Indonesia.”

Ia menegaskan, foto korban berlumur darah yang beredar lewat BlackBerry Messenger serta situs jejaring sosial soal korban Sukhoi tidak benar.

“Terkait dengan gambar korban kecelakaan yang digunakan adalah gambar yang bukan tejadi di Gunung Salak,” ujarnya.

Boy mengimbau masyarakat umumnya, serta keluarga korban khususnya tidak terpengaruh oleh peredaran foto-foto tersebut.

“Masyarakat dan keluarga (korban) agar tidak terpengaruh apabila ada pihak-pihak yang merilis (foto) secara tidak bertanggung jawab baik melalui akun sosial media maupun website,” kata Boy.
Ia juga mengimbau masyarakat tidak menyebarkan foto-foto itu. “Dilarang keras untuk distribusikan gambar-gambar dan info yang tidak sesuai dengan fakta,” ucap Boy.

Sebelumnya, anggota Komisi I DPR Roy Suryo mengklaim dirinya telah mengetahui identitas dari penyebar foto palsu korban kecelakaan pesawat Sukhoi di Gunung Salak, Bogor. Namun Roy tidak bersedia untuk menjelaskan secara langsung identitas orang tersebut.

Roy yang juga pakar telematika ini belum dapat memastikan apa motif dari penyebaran foto tersebut. Kepolisian menindaklanjuti perbuatan yang dilakukan YS. Roy menyarankan agar YS secepat mungkin segera melakukan klarifikasi terkait perbuatannya tersebut.

“Yang saya sayangkan, YS ini malah menghapus akunnya dan tidak mengklarifikasi. Kalau dia ksatria, dia ya harus mengklarifikasi,” tegasnya. (tribunnews/rek/eri/yog)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved