Menjamu Tamu
TAMU terdiri dari dua suku kata, yaitu ta dan mu, yang pendek dan sangat berarti,
Penulis: admin | Editor: Bejoroy
Seperti dikatakan Anas ra, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabila tamu telah masuk ke rumah seseorang, maka ia masuk dengan membawa rezekinya, dan jika ia keluar keluarlah dengan membawa pengampunan dosa orang-orang rumah itu (ahlil bath).”
Bayangkan apabila seseorang ahlil bath, yang suka dengan tamu (menjamu tamu), semisal orang yang suka menggelar acara-acara yang baik, seperti Maulid Nabi SAW, Isra Mikraj, sedekah ruwah, dan lainnya mengundang banyak tamu, sungguh banyak rezeki yang datang dan banyak pula pengampunan yang didapatkan. Apalagi disertai dengan jamuan or hidangan (al-maidah), subhanallah, sungguh mulia orang tersebut.
Seperti dikatakan Siti Aisyah ra, Nabi Muhammad SAW bersabda.
“Sesungguhnya para malaikat tetap mendoakan seseorang selama hidangan (al maidah) makanannya masih terhampar (yakni untuk tamu-tamu).”
Mungkin kita tahu orang-orang yang sering berbuat demikian di lingkungan kita, fulan atau fulan, kita lihat ada rezekinya malah bertambah naik, bahkan sampai kapanpun nama mereka tetap melegenda dari turun menurun, subhanallah!
Seperti diceritakan Abu Hurairah ra. Pada suatu hari seseorang datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Aku sungguh lapar, maka Nabi SAW menyuruh orang itu pergi menanyakan ke rumah istrinya, lalu dijawab: demi Allah yang mengutus engkau dengan hak, kami tidak mempunyai apa-apa kecuali air.”
Lalu disuruh pergi ke lain istrinya (isteri Nabi) dan jawabannya tidak berbeda, sehingga semua istrinya menjawab: “Demi Allah yang mengutus kamu dengan benar, tidak ada sesuatu pada kami kecuali air.”
Maka Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat: “Siapakah yang bisa menjamu orang ini (tamuku) pada malam ini)?”
Seorang sahabat Anshar menjawab: “Akulah ya Rasulullah,” katanya. Maka dituntunlah tamu itu ke rumahnya.
Sahabat Anshar tadi berkata kepada istrinya: “Hormatilah tamu Rasulullah SAW ini.”
Kedua suami istri ini rela memberikan roti kepada sang tamu. Pada hal makanan itu buat anak-anak mereka. Sang suami berkata kepada istrinya: “Hiburlah mereka jika akan makan hingga tertidur dan bila waktu makan padamkan lampu. Kita pura-pura makan, biar tamu tersebut menghabiskan makanannya.”
Kemudian mereka (suami isteri tadi) bersama-sama duduk dengan tamu Rasulullah SAW. Tanpa terasa jamuan pun selesai. Sang tamu makan dengan lahapnya hingga kenyang perutnya. Sedangkan si penerima tamu kelaparan sepanjang malam itu.
Pada pagi harinya, Nabi SAW berkunjung ke rumah sahabat Anshar tersebut dan menegurnya ramah sembari berkata: “Allah kagum dan suka pada perbuatan kalian (suami istri) semalam itu sehingga Allah SWT menurunkan ayat:
“Wa yu’tsiruuna ‘alaa anfusihim, walaukaana bihim khashashah” (Dan mereka telah mengutamakan lain orang dari diri mereka, meskipun diri mereka sedang lapar). (QS Al-Hasyr ayat 9).
Alangkah mulianya orang yang menghormati dan memuliakan tamu. Siapapun tamu dan dari golongan mana mereka berasal, jangan sampai tebang pilih atau dibeda-bedakan. Semua sama di mata Allah. Apalagi tamu negara (terhormat). Subhanallah!
Kalau untuk Indonesia (negeri kita tercinta) sangat terkenal dengan menjamu tamu. Kita lihat sendiri persiapan anak-anak bangsa dalam menghormati tamu-tamunya. Yang telah lalu, misalnya jamuan terhadap Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan lain-lain.
Sungguh hebat persiapan negeri kita, semua direncanakan dengan matang, sehingga tamu-tamu negara tersebut sangat bahagia dan merasa puas dengan jamuan kita. Walaupun situasi dan kondisi negeri kita morat-marit, tidak menyurutkan semangat dalam menghargai dan menjamu tamunya.
Itulah kelebihan orang Timur, tak kalah deh dengan Timur Tengah (Arab). Itulah negeri kita Indonesia yang kian hari kian kaya nuansa budaya. Insyaallah, sampai kapan pun tetap berjaya dan terus menjamu tamu-tamunya, laksana raja. Subhanallah!