Sulit Disembuhkan, Ini Risiko Yang Akan Terjadi Akibat Suka Membentak Anak

Banyak orangtua yang mengaku harus membentak untuk membuat Si Kecil kapok dan tak lagi mengulangi kesalahannya. • WhatsApp Bisa Mem

Editor: ewis herwis
SRIPOKU.COM/HERWIS
Emosi orangtua seringkali tidak terkontrol hingga berujung membentak anak. Ada risiko buruk yang menimpa anak akibat sering dibentak hingga sulit disembuhkan. 

SRIPOKU.COM-- Di masa pertumbuhan dan perkembangannya, tentu anak akan belajar banyak tentang hal yang dibenarkan dan tidak boleh dilakukan.

Dalam masa tersebut, peran orangtua menjadi hal yang sangat penting untuk mendukung daya serap yang dimiliki anak.

Namun apa jadinya, bila saat masa pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi, anak justru kerap mendapat perlakuan yang justru berbahaya bagi masa depannya?

Salah satu hal yang kerap dilakukan orangtua yakni memberi label pada anak dan membentaknya tanpa sadari.

Banyak orangtua yang mengaku harus membentak untuk membuat Si Kecil kapok dan tak lagi mengulangi kesalahannya.

WhatsApp Bisa Memantau Keberadaan Seseorang Menjadi Lebih Mudah, Begini Caranya

Lekat Dengan Keseharian Kita, Kenali Penyebab Penyakit Kanker, Dan Inilah Faktor Utamanya

Hasil Kualifikasi Liga Champions, PSV Eindhoven Vs FC Basel, Tendangan Back-Heel Menangkan PSV

Padahal, setelah dibentak belum tentu anak mau melakukannya.

Melansir dari Nakita.id, menurut Dr Justin Coulson, pakar parenting di Kidspot.com.au dan pengajar psikologi di University of Wollongong, Australia, riset menunjukkan bahwa sebenarnya orangtua tidak suka membentak anak-anaknya.

Namun surveinya, banyak orangtua yang membentak anak disertai melakukan kekerasan dan bahkan labeling, seperti mengatakan anak 'nakal' dan menjewer telinganya, atau melakukan hal lain.

Tapi tahukah Anda, hal tersebut sangat berpengaruh pada kondisi mental anak lho.

Dalam studi selama dua tahun, para peneliti di University of Pittsburgh dan University of Michigan, Amerika, mendapati bahwa disiplin secara verbal yang parah terbukti memberi pengaruh negatif pada ketentraman anak.

Anak-anak praremaja dan remaja yang orangtuanya kerap membentak untuk mendisplinkan akan mengalami peningkatan masalah perilaku, seperti melakukan kekerasan dan vandalisme.

Tingkah laku anak seringkali membuat emosi orangtua menjadi tidak terkontrol.
Efek dari suka membentak anak akan sulit disembuhkan. (SRIPOKU.COM/HERWIS)

Efek dibentak terus-menerus sama seriusnya dengan jika anak dipukul.

Membentak anak tepat di depan wajahnya adalah tindakan yang parah, khususnya ketika diikuti dengan labeling (menyebut anak dengan sebutan nakal, kurang ajar, bodoh, dan lain-lain) dan berbagai kata-kata ancaman, kata-kata penghinaan, dan sebagainya.

Kata-kata semacam itu hanya akan menyakiti anak, sementara perubahan perilaku yang Mama harapkan belum tentu terjadi.

Honor 9X Pro dan Honor 9X Resmi Meluncur, Ini Spesifikasi Dan Harganya

Detik-Detik Jalan di Underpass Kentungan Yogja Ambles, Kendaraan Roda Empat Terperosok, Ini Videonya

Tak Perlu Khawatir, Ini 7 Cara Mudah dan Efektif Agar Bayi Cepat Tidur

Penelitian lain menunjukkan bahwa membentak sedikitnya 25 kali dalam periode 12 bulan bisa memberikan efek negatif pada kepercayaan diri anak.

Halaman
12
Sumber: Nakita
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved