Warga Blokade Tol dengan Perahu, Tuntut Akses Jalan Dibuka

Penggunaan tol Kapal Betung untuk arus mudik lebaran nanti terancam tak bisa dilintasi. Beberapa warga yang berada di desa perlintasan tol yakni Desa

Warga Blokade Tol dengan Perahu, Tuntut Akses Jalan Dibuka
Sriwijaya Post edisi cetak
Warga Blokade Tol dengan Perahu, Tuntut Akses Jalan Dibuka Dibuka 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Penggunaan tol Kapal Betung untuk arus mudik lebaran nanti terancam tak bisa dilintasi. Beberapa warga yang berada di desa perlintasan tol yakni Desa Sri Geni dan Tanjung Alai OKI melakukan blokade di jalan tol menuntut untuk dibukakan akses warga untuk melintas, Senin (13/5).

Sebab jalan yang ditutup akibat pembangunan jalan tol menyebabkan warga tak bisa mencari ikan. Dimana profesi nelayan mayoritas di Desa Sri Geni dan Tanjung Alai.

Pembangunan Jalan Tol Kapal Betung Bakal Terhambat, Ukuran Tanah dari Tim BPN Berubah-ubah

Mudik Lebaran Tahun Ini (2018) Tol Kapal Betung Belum Bisa Dilintasi

Warga pun membawa perahu diangkat di atas jalan. Sehingga truk truk yang akan bekerja melakukan penyelesaian tol terganggu dan sempat menimbulkan antrean panjang akibat kendaraan proyek tak bisa melintas.

"Kami lima bulan tak bisa mencari ikan, padahal sesuai perjanjian seharusnya jalan yang meskinya perahu kami melintas sudah dibuka, nyatanya sampai hari ini jalannya tidak dibuka," kata salah seorang warga Sudarmadi.

Puluhan warga menyetop setiap truk yang lewat, untuk tidak melintas di lokasi jalan yang mereka tuntut untuk dibuka. Warga hanya mengizinkan kendaraan pribadi yang kebetulan melintas.

Sudarmadi mengatakan, mayoritas warga setempat bekerja sebagai nelayan. Dimana lebak lebong yang berada di lokasi pembangunan tol merupakan di lelang.Menurut dia, warga sudah membayar sejumlah uang untuk bisa mencari ikan namun karena akses tertutup oleh tol sehingga mereka tak bisa mencari ikan.

"Kami sebelumnya sudah membuat kesepakatan pada April lalu seharusnya jalan dibuka, tapi pihak perusahaan hingga sekrang tak membuka jalan kami," kata dia.

Warga menuntut jika jalan tak dibuka maka pihaknya akan melakukan blokade terhadap jalan tersebut setiap hari. Sehingga kendaraan tak bisa melintas.

"Kami akan larang terus kendaraan yang lewat, sampai tuntutan kami dipenuhi," kata dia.

Tak lama berselang langsung ada petugas yang mendatangi warga, namun terjadi perdebatan alot mengenai lokasi jalan yang ditutup. Karena tak ada solusi, petugas tersebut nampak menghubungi seseorang petugas lainnya untuk melaporkan kejadian terserbut. "Saya akan lapor dulu ya bapak bapak karena ini bukan kewenangan saya," ujar petugas tersebut.

Kepala Proyek I Tol kapal Betung, Arif mengatakan, dirnya akan melaporkan kejadian tersebut kepada yang bertanggung jawab. Mengingat lokasi pembangunan bukan merupakan lokasi kewenangannya. "Untuk lokasi blokade warga bukan wewenang saya," kata dia.

Arif mengatakan, H-7 lebaran tol Trans Sumatera akan dioperasionalkan. Mulai dari Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung terbagi menjadi dua seksi, yaitu Seksi I ruas Terbanggi Besar-Pematang Panggang sepanjang 112 Km.

Saat ini, progress konstruksinya sudah mencapai 91,24 persen. Kemudian, pada Seksi II ruas Pematang Panggang-Kayu Agung sepanjang 77 Km saat ini progress konstruksinya telah mencapai 95,23 persen.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya telah berkoordinasi dengan Korps Lalu Lintas (Korlantas) untuk mengatur arus lalu lintas kendaraan di jalan tol dan antisipasi kemacetan karena penyempitan jalur tersebut. (axl)

===

Penulis: Yandi Triansyah
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved