Isra' Mi'raj - Implikasi Terhadap Ketakwaan dan Karakter
Isra' Mi'raj adalah peristiwa penting baik dalam sejarah maupun keimanan umat Islam. Setiap tahun kaum Muslimin memperingati peristiwa penting ini
Isra' Mi'raj adalah peristiwa penting baik dalam sejarah maupun keimanan umat Islam. Setiap tahun kaum Muslimin memperingati peristiwa penting ini dalam berbagai bentuk kegiatan, khususnya ceramah di berbagai masjid dan musholla dalam rangka mengambil hikmah dan pelajaran penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Salah satu hikmah penting dari Isra' Mi'raj adalah meningkatnya keimanan, ketaqwaan, dan karakter-karakter utama umat baik secara individual maupun kolektif.
• Isra Miraj Nabi Muhammad, 3 Tempat Suci Ini Bukti Kekuasaan Allah. No 1 Terus Diperebutkan
• Fenome Isra Miraj dan Buroq Kendaraan Super Canggih Nabi Muhammad dalam Kajian Para Ahli
Isra' Miraj dan Timbuhnya Iman-Taqwa
Isra' Mi'raj secara umum dimaknai sebagai peristiwa sejarah di mana Nabi SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjid al-Haram di Makkah menuju Masjid al Aqsa di Jerusalem (isra') lalu naik ke langit (mi'raj) dari Qubbah As-Sakhrah menembus langit ketujuh sampai ke Sidrat al-Muntaha (akhir perjalanan).
Peristiwa ini terjadi sebelum Nabi SAW berhijrah ke Yatsrib (Madinah). Dalil yang selalu dirujuk ketika memperingati Isra' Mi'raj adalah firman Allah SWT dalam Al quran surah Al-Isra' ayat pertama yang maknanya: "Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu (potongan) malam dari masjidil haram ke al-masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (Q.S. Al-Israa':1).
Isra' Mi'raj adalah peristiwa spiritual yang tidak cukup didekati secara logika, tetapi perlu pendekatan imani. Hanya orang-orang beriman yang benar-benar yakin akan kebenaran peristiwa ini. Itulah yang ditunjukkan misalnya oleh sahabat Nabi SAW Abu Bakar Siddiq ra. ketika Nabi pertama kali menceritakan peristiwa ini sesaat setelah beliau kembali ke Mekkah dari perjalanannya. Lalu apa relevansi Isra' Mi'raj dengan ketaqwaan? Agar jelas terlihat relevansinya perlu disimak kembali beberapa ciri penting orang yang bertaqwa (muttaqun). Pertama, seorang muttaqun itu senantiasa beriman kepada yang ghaib, yaitu Allah SWT para malaikat, dan sebagainya yang tercakup dalam Rukun Iman.
Dalam Isra' Mi'raj ditegaskan bahwa Nabi SAW naik sampai ke langit ke-tujuh, sampai ke Sidratul Muntaha, melihat dengan mata kepala dan bertemu dengan Allah SWT untuk mendapatkan perintah shalat lima waktu secara langsung dari-Nya. Ini membuktikan bahwa Allah SWT itu benar-benar ada dan nyata karena Nabi SAW melihat dengan mata kepala sendiri. Itu artinya tidak ada keraguan sedikitpun bahwa Allah SWT itu ada.
Bagi mukmin yang taqwa, Allah SWT tidak hanya ada tetapi juga maha mengetahui, maha mencatat amal perbuatan manusia, dan maha memperhitungkan serta membalasi perbuatan baik dan buruk manusia selama di dunia. Dalam Alquran Allah menegaskan hal ini dengan firman-Nya yang artinya: "Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi" (Q.S. Thaha (20):7).
Mufassir dan sahabat Rasul SAW Ibnu Abbas menyatakan, "Perkara yang lebih tersembunyi dari rahasia adalah sesuatu yang disembunyikan dalam hati dan tidak dibicarakan kepada siapapun, karena rahasia itu adakalanya hanya rahasia di antara dua orang. Adapun perkara yang disembunyikan seseorang dalam hatinya pasti lebih tersembunyi dari pada rahasia". Jadi Allah Maha Tahu apapun yang dilakukan makhluk-Nya. Termasuk di antara yang ghaib yang diyakini mukmin taqwa adalah malaikat.
Para malaikat adalah balatentara Allah SWT yang bekerja sesuai tugas masing-masing. Di antara mereka ada yang bertugas mencatat pikiran perkataan, dan tindakan setiap manusia, yang besar maupun kecil.
Kedua, ciri mukmin yang taqwa adalah iman kepada hari akhir. Apa yang dicatat para malaikat tentang perbuatan kita di dunia pada hari kiamat akan diperlihatkan kepada kita kelak di akhirat. Di situlah dirinci secara jelas segala yang diperbuat manusia selama di dunia. Allah SWT berfirman yang maknanya "Dan diletakkan kitab, lalu kamu melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya dan mereka berkata, "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencataf semuanya?" Mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun" (Q.s al-Kahfi (181):49).
Catatan amal baik dan buruk manusia akan berkonsekuensi pada apa yang akan diterimanya di akhirat kelak. Amal baik akan menghasilkan kenikmatan kubur dan surga, amal buruk akan bermuara ke siksa kubur dan neraka. Nabi SAW melalui Isra Mi'raj membuktikan langsung adanya akhirat, hidup sesudah mati, dan kenikmatan surga dan siksa neraka. Dalam perjalanan Isra', misalnya, Nabi SAW diperlihatkan siksaan terhadap para pamakan harta anak yatim secara zhalim. Beliau juga melihat siksaan untuk para pezina dan pemakan riba.
Dalam mi'raj beliau melihat surga dan neraka beserta penghuninya. Jadi, mengimani Isra' Mi'raj akan meningkatkan keyakinan akan adanya akhirat, surga, dan neraka karena pengetahuan tentang hal ini tidak hanya diperoleh dari informasi dalam Alquran, tetapi juga melalui kesaksian Rasulullah yang melihat dengan mata kepalanya dalam perjalanan Isra Mi'raj.
Taqwa dan Pembentukan Karakter yang Baik
Dengan menghayati dan mengimani Isra Mi'raj akan muncul ciri-ciri ketaqwaan sebagaimana di atas. Lalu apa kaitannya dengan tumbuhnya karakter yang baik dalam kehidupan? Karakter taqwa yang tumbuh melalui pemahaman, penghayatan dan keyakinan terhadap Isra Mi'raj kongruen (sama dan sebangun) dengan karakter-karakter yang baik dalam diri seseorang.
Pertama, karakter jujur dalam hati, lisan, dan tindakan. Jujur adalah buah dari keyakinan akan adanya eksistensi, pengawasan, dan hisab Allah SWT. Kejujuran menjadikan seseorang tidak terdorong untuk melakukan tindakan curang, zalim, dan merugikan orang lain. Mungkin ada kesempatan dan peluang untuk melakukan perbuatan kecurangan/tidak jujur, tetapi karena yakin Allah itu ada dan selalu mengawasi, yakin pula malaikat selalu merekam semua perbuatannya ia akan menahan diri.
Orang jujur lebih mengikuti suara hati nurani untuk bertindak benar sesuai aturan. Baginya ini jauh lebih bernilai ketimbang kenikmatan materi yang bersifat sementara tetapi membuat dirinya hina baik dalam pandangan Tuhan maupun manusia.