Renovasi Bukit Siguntang Hal Fatal

sebagai peninggalan bersejarah, sudah seharusnya dilakukan pelestarian bukan malah melakukan renovasi sehingga merubah nilai sejarah Bukit Siguntang.

Renovasi Bukit Siguntang Hal Fatal
net
TAMAN ARKEOLOGI BUKIT SIGUNTANG

Laporan Wartawan Sripoku.com, Rahmaliyah

SRIPOKU.com, PALEMBANG -- Banyaknya perubahan yang terjadi di bukit Siguntang pasca dilakukannya renovasi dua tahun terakhir, cukup disayangkan oleh Arkeolog asal Inggris Mckinnon. Ia pun meminta agar bangunan yang penuh nilai sejarah tersebut dapat kembali seperti asalnya.

Terlebih sebagai peninggalan bersejarah, Bukit Siguntang sudah seharusnya dilakukan pelestarian bukan malah melakukan renovasi sehingga merubah nilai sejarah Bukit Siguntang.

Bahkan, menurut Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumsel Farida R Wargadalem renovasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan saat ini dinilai sebagai hal yang fatal. Sebab, telah melanggar UU Cagar Budaya No 11 tahun 2010.

"Bukit Siguntang itu situs yang sangat penting, karena inilah situs yang tidak terputus sejak jaman Sriwijaya sampai sekarang dan penghancuran paling berat terjadi saat ini, sudah pasti menyalahi UU Cagar Budaya. Coba kurang apa untuk menempatkannya sebagai cagar budaya, dari segi usia, nilai historis dan arkeologis tak terbantahkan dan tak ternilai," jelasnya, Kamis (9/8/2018).

Lanjut Farida, kondisi Bukit Siguntang saat ini juga sangat disesalkan tak hanya dari pihak Sejarawan, namun juga arkeolog hingga antropolo asal Jerman. "Bahkan seorang ahli Filologi Cina sangat sedih melihatnya, apalagi arkeolog McKinnon ikut ekskapasi tentang Sriwijaya jadi jelas betapa nestapa perasaannya. Yang kemarin datang itu bukan sembarang orang," ujarnya.

Dan sebagai salah satu cagar budaya, Bukit Siguntang tak seharusnya dilakukan renovasi seperti menambah bangunan baru di area situs. Bahkan, kegiatan apapun itu dilokasi situs tak ternilai tidak boleh ada alat berat.

"sebuah situs tak ternilai seperti itu harus dilakukan kajian dan dilakukan oleh ilmuan yaitu arkeolog. Caranya pun harus ekspasi satu-satu menggunakan sekop kecil, tak usah alat berat penggunaan parang saja tak boleh. Memberi pot bunga atau memindahkan pot bunga bahkan sudah merubah nilai sejarah,"tegas Farida.

"sebuah kehancuran tidak ada titik temu, tidak mungkin bisa kembali. Dan yang harusnya tidak dilakukan kenapa itu dilakukan. Ibaratnya kalau ranting patah apa bisa dikembalikan," tambah Farida

Ia mengaku, dirinya sendiri sejak awal adanya alat berat dilokasi Bukit Siguntang beberapa tahun lalu, sempat mencoba untuk mengambil foto dan masuk agar bisa didokumentasi, namun tak bisa karena penjagaan. Namun, barulah di 28 Oktober ia baru bisa lihat itupun bersama rombongan.

Dirinya hanya bisa berharap, Pemerintah Sumsel bisa menjadikan hal ini sebagai pembelajaran dalam hal bagaimana melestarikan sebuah cagar budaya tak ternilai di Bumi Sriwijaya

Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin mengaku pembangunan yang saat ini sudah dilakukan telah melibatkan ahlinya. Jadi tak asal merenovasi saja. "biar ahlinya saja yang ngomong jangan saya. Tapi mudah-mudahan enggak sebab pembangunan saat ini itu melibatkan ahlinya," tutup Alex.(cr26)

Penulis: Rahmaliyah
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved