Buya Menjawab

Berwasilah kepada Nabi Muhammad SAW

apa alasan ulama yang tidak membolehkan berwasilah kepada Nabi Muhammad SAW. setelah wafatnya, sedangkan ada yang berpendapat bahwa berwasilah

Tayang:
Editor: Bedjo
mtf-online.com
Nabi Muhammad SAW. 

SRIPOKU.COM - Assalamualaikum.Wr.Wb.
BUYA, apa alasan ulama yang tidak membolehkan berwasilah kepada Nabi Muhammad SAW. setelah wafatnya, sedangkan ada yang berpendapat bahwa berwasilah kepada Nabi Muhammad SAW setelah wafatnya dibenarkan dalam pandang hukum Islam. Mohon penjelasannya Buya. Terimakasih.
08235224XXXX

Berita Lainnya:  Subhanallah, Ini Keutamaan serta Bacaan Doa untuk Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Jawab:
Assalamualaikum.Wr.Wb.
TAWASSUL (membuat perantara) adalah menjadikan sesuatu sebagai perantara agar suatu do'a dan permohonan yang dimaksudkan terkabul.

Menurut pendapat ulama Wahabi; Bertawassul kepada Allah SWT dengan amal saleh dibolehkan, juga bertawassul dengan meminta doa kepada orang-orang shaleh yang masih hidup mengacu pada Riwayat Anas bin Malik ra. menuturkan bahwa: ketika kaum muslimin ditimpa kemarau panjang, Umar bin Khattab ra. bertawassul dengan meminta doa dari 'Abbas bin Abdul Muthallib, seraya berkata: "Ya Allah, dahulu kami bertawassul kepadaMu dengan doa Nabi kami, maka Engkau turunkan hujan untuk kami. Setelah Nabi kami wafat, kami bertawassul dengan doa paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami. Lalu Allah pun menurunkan hujan untuk mereka".(HR.Bukhari)

Menurut ulama Ahlussunnah, bahwa bertawassul kepada Nabi Muhammad SAW. dan orang-orang shaleh baik ketika masih hidup maupun setelah mereka meninggal dianjurkan, Rasulullah SAW. bersabda; "Jangan jadikan rumah kalian (seperti) pemakaman, jangan jadikan makamku seperti hari raya dan bersholawatlah kepadaku, karena dimanapun kalian berada shalawat kalian akan sampai kepadaku." (HR.AbuDawud).

Dari hadits di atas ada tiga hal; Pertama, jangan jadikan rumah sebagai pemakaman, artinya sepi dan sunyi, artinya perbanyak shalat sunnat dan zikir di rumah. Kedua, jangan jadikan makam Nabi seperti hari Raya, yang diramaikan sekali setahun. Maksudnya datangi makam Rasulullah SAW sesering mungkin. Meramaikannya dengan bershalawat dan berzikir. Ketiga, sesungguhnya Nabi SAW. hidup di makamnya, dan kita yang penuh dosa ini dianjurkan untuk senantiasa mendatangi Nabi SAW. sebagaimana Allah SWT. berfirman dalam surah An-Nisa' ayat 64: "Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu mereka memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang." (An-Nisa':64)

Dari ayat di atas, jika seorang Muslim berbuat dzalim kepada dirinya sendiri dengan melakukan beberapa perbuatan dosa, maka dianjurkan untuk mendatangi Rasulullah SAW. (baik ketika beliaumasih hidup ataupun setelah wafat) dan meminta beliau memohonkan ampun kepada Allah SWT.

Seperti diceritakan di dalam Tafsir Ibnu Katsir, bahwa ada seorang Badwi berziarah ke makam Rasulullah SAW. Dia berkata: "Salam sejahtera bagimu wahai Rasulullah (utusan Allah) Aku mendengar Allah mewahyukan (dibacakannya ayat 64 surah An-Nisa). Selanjutnya orang Badwi itu berkata: "Sekarang aku telah datang kepadamu, mengharap syafaatmu agar Allah mengampuni dosaku. "Selanjutnya Badwi itu mengucapkan beberapa bait syair; "Duhai sebaik-baik manusia yang jasadnya terkubur di bumi karena keharumannya." Setelah itu Badwi itu pergi meninggalkan makam Rasulullah SAW. 'Attabi yang saat itu berada disitu, tak kuasa menahan kantuk, lalu tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Dan beliau memerintahkannya untukmengejar Badwi tersebut dan supaya menyampaikan kabar gembira kepada Badwi itu bahwa Allah telah mengampuninya. (Ismail bin Umar bin Katsir Ad-Dimsyqi, Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, DarulFikr, Beirut, 1401, hlm.521)

Dari keterangan di atas bahwa setelah wafatnya pun Rasulullah SAW. masih dapat memberikan syafaat, dan mimpi 'Attabi bertemu dengan Rasulullahllah SAW. tersebut adalah Ru'yahshadiqah (mimpi yang benar) karena kata Rasulullah SAW. Bahwa Iblis tidak bisa menyerupai Rasulullah SAW.

Demikian untuk dijadikan pedoman dalam berwasilah kepada Rasulullah SAW. (*)

Keterangan:
Konsultasi agama ini diasuh oleh Buya Drs H Syarifuddin Yakub MHI.
Jika Anda punya pertanyaan silahakan kirim ke Sriwijaya Post, dengan alamat Graha Tribun, jalan Alamasyah Ratu Prawira Negara No 120 Palembang. Faks: 447071, SMS ke 0811710188, email: sriwijayapost@yahoo.com atau facebook: sriwijayapost

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved