Petani di OKU Timur Pilih Jual Gabah Ketimbang sudah Jadi Beras, Ini Sebabnya

"Harga gabah saat ini ditingkat petani mencapai Rp. 4.500 per kilogram. Sedangkan harga beras Rp. 8.700 per kilogram," katanya.

Petani di OKU Timur Pilih Jual Gabah Ketimbang sudah Jadi Beras, Ini Sebabnya
SRIPOKU.COM/EVAN HENDRA
Pembeli sedang menimbang gabah milik salah seorang petani padi di OKU Timur. 

SRIPOKU.COM, MARTAPURA - Sejumlah petani lahan sawah yang ada di Kabupaten OKU Timur mengaku lebih memilih menjual hasil panen dalam bentuk gabah dibandingkan beras.

Hal itu disebabkan karena menurut mereka menjual gabah lebih menguntungkan dibandingkan dengan menjual beras. Hal itu diungkapkan petani asal Kecamatan Belitang Wibowo (27) Jumat (9/3).

Menurut Wibowo, selain harga yang lebih tinggi keuntungan menjual gabah tersebut dibanding beras juga disebabkan karena kondisi cuaca yang tidak menentu sehingga membuat petani enggan untuk memproses gabah menjadi beras baru kemudian dijual.

Dikatakan Wibowo, harga gabah saat ini ditingkat petani mencapai Rp. 4.500 per kilogram. Sedangkan harga beras Rp. 8.700 per kilogram.

Selisih harga penjualan beras dengan gabah kata dia tidak berbeda terlalu jauh jika dihitung seluruh pengeluaran mulai dari saat menjemur hingga upah buruh angkut hingga gabah menjadi beras.

Hal itu juga diungkapkan Toro salah satu pemilik pengglingan padi. Menurutnya petani saat ini lebih memilih menjual gabah setelah dipanen dibandingkan menjual ketika sudah diolah dan menjadi beras.

Akibatnya kata dia, membuat pabrik penggilingan padi menjadi sepi.

"Masih ada masyarakat yang memproses gabah menjadi beras dipabrik. Namun jumlahnya berbeda dan tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya," jelasnya.

Faktor cuaca yang saat ini lebih sering hujan kata dia, menjadi alasan petani untuk memilih menjual gabah dibandingkan mengolahnya menjadi beras terlebih dahulu.

Karena kata dia, jika cuaca tidak menentu dan terus menerus hujan maka gabah akan lama kering dan akan berdampak pada kualitas gabah.

"Jika kualitas gabah kurang baik maka beras yang dihasilkan juga akan buruk, kemudian nilai jualnya juga akan turun," jelasnya.

Penulis: Evan Hendra
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help