Ilmu dan Mantra Pelet Bujang Gadis dari Lampung

Sementara untuk jasa paket pembelajaran museum hanya Rp 2.500 per orang untuk tiga jam pelajaran.

Editor: Hendra Kusuma
zoom-inlihat foto Ilmu dan Mantra Pelet Bujang Gadis dari Lampung
Kompas.com/Ni Luh Made Pertiwi F.
Kertas berisikan mantra bujang-gadis yang berbentuk memanjang, koleksi dari Museum Negeri Provinsi Lampung "Ruwa Jurai", Bandar Lampung, Provinsi Lampung.

SRIPOKU.COM-“Lamun anak Sulaiman, kasihini aku Siti Fatimah,” demikian kira-kira bunyi sepenggal lantunan mantra bujang-gadis seperti diungkapkan Oki Laksito, staf di Museum Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai”.


Secarik kertas usang bergambar dan bertuliskan aksara Lampung yang sudah uzur. Kertas ini menarik perhatian karena bentuknya yang memanjang dan terdiri dari gambar maupun aksara Lampung. Berbeda dengan kertas-kertas kuno lainnya.


“Ini dipakai sebagai mantra kuno, yah semacam pelet, supaya orang yang  kita sukai juga suka dengan kita,” cerita Oki.


Naskah itu terdiri dari enam halaman. Empat halaman pertama tergambar sosok laki-laki. Menurut Oki, si pembuat naskah itu adalah perempuan. Ia harus menggambarkan kesukaan laki-laki yang diincarnya ke kertas tersebut.


Maka, tergambarlah sosok laki-laki itu empat halaman pertama yang menunjukkan si laki-laki hobi memancing, senang berpesta, hingga pandai  bergaul. Baru kemudian di dua sisa halaman dituliskan mantra dalam aksara Lampung.


“Ini ditemukan di Desa Hanakau, Lampung Barat,” tutur Oki.


Namun, ini bukan sekadar mantra. Ada makna mendalam di baliknya. Baik naskah mantra bujang-gadis, maupun naskah kuno lainnya yang ditulis di media kulit kayu, bambu, hingga daun lontar, banyak yang menggunakan aksara Lampung. Ini membuktikan Lampung menjadi salah satu suku dari sembilan suku di Indonesia yang memiliki aksara.


Dari harimau sampai jalur sutera

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved