Mimbar Jumat

Marhaban Ya Sya’ban

SEJAK bulan Sya’ban Rasulullah SAW menganjurkan umatnya agar mempersiapkan diri menyambut

Penulis: admin | Editor: Bedjo
zoom-inlihat foto Marhaban Ya Sya’ban
Sripo/Dok
Drs H Umar Sa’id Da’i Domisili di Kota Palembang

Drs H Umar Sa’id
Da’i Domisili di Kota Palembang

SEJAK bulan Sya’ban Rasulullah SAW menganjurkan umatnya agar mempersiapkan diri menyambut kedatangan “tamu mulia” ini yaitu dengan memperbanyak ibadah terutama ibadah shaum. Yang belum terbiasa shaum pada hari Senin dan Kamis diharapkan pada bulan Sya’ban sudah mulai menjalankannya. Jika belum mampu cukup dengan berpuasa tiga hari di tengah bulan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mempersiapkan mental dan fisik guna menghadapi bulan yang disucikan tersebut.

Dari Ummi Salamah ra, bahwa Nabi SAW tidak pernah berpuasa sebulan penuh dalam satu tahun kecuali pada bulan Sya’ban yang bersambung dengan bulan Ramadhan. (HR Imam Lima). Dari Ayub ra, ia berkata bahwa Nabi SAW tak pernah puasa sunat lebih banyak melainkan di bulan Sya’ban yaitu ia berpuasa pada bulan itu seluruhnya.

Dalam lafadh yang lain disebutkan bahwa tidaklah Rasulullah SAW berpuasa sunat dalam satu bulan seperti puasanya pada bulan Sya’ban, bahkan ia pernah puasa hampir sebulan hanya tinggal beberapa hari, malah ia pernah puasa satu bulan penuh. (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim).    
Saat-saat menanti Ramadhan, para sahabat tak ubahnya seperti calon pengantin yang merindukan hari “H”-nya. Mereka sudah memikirkan hal-hal yang sekecil-kecilnya. Mereka berpikir gaun apa yang akan dikenakan pada saat yang penting itu, apa yang diucapkan, sampai bagaimana menata jalan dan menata senyumnya.

Tradisi di masa Rasulullah SAW, pada saat akhir bulan Sya’ban para sahabat berkumpul di masjid untuk mendengar khutbah penyambutan Ramadhan. Saat itu dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk saling meminta maaf di antara mereka. Seorang sahabat kepada sahabatnya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang adik kepada kakaknya dan begitulah seterusnya. Mereka ingin berada dalam suasana Ramadhan yang disucikan itu dalam keadaan suci dan bersih.

Kebiasaan Rasulullah SAW beserta para sahabatnya ini perlu dihidupkan lagi tanpa harus mengubah tradisi yang sudah ada dan eksis sampai saat ini. Biarlah hari raya Idul Fitri tetap dalam tradisinya, tetapi pada akhir bulan Sya’ban perlu ditradisikan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan Nabi, yaitu dengan memperbanyak silaturrahim, saling meminta maaf dan bertahniah, selain menyambutnya dengan ceramah yang dikhususkan untuk itu.

Sedekah
Ada satu fenomena menarik di kalangan umat Islam Indonesia, pada bulan Sya’ban terutama pertengahan hingga akhir bulan yang telah begitu mentradisi, yaitu ruwahan. Tradisi ini diwarnai dengan kegiatan kenduri, baca yasin bersama, doa dari rumah ke rumah, ziaran ke kuburan keluarga yang telah meninggal dunia dan lain-lain.

Pada satu sisi apa-apa yang mereka lakukan adalah suatu perbuatan yang positif. Namun di sisi lain perbuatan mereka masih terjebak pada bentuk atau format tradisi tanpa dipahami asal usulnya dan belum sampai pada tahapan pemahaman nilai untuk apa mereka melakukan kegiatan tersebut.

Apabila nilai-nilai agama dari kegiatan yang dilakukan itu lebih menonjol daripada nilai tradisinya maka itu sebuah keberhasilan dakwah yang luar biasa tanpa melukai perasaan umat. Namun apabila nilai tradisinya lebih menonjol ketimbang nilai-nilai agama maka itu sebuah kerusakan. Karena ternyata agama hanya dijadikan kedok untuk menutupi praktek mistik yang dekat kepada kemusyrikan. Pada gilirannya terjadilah pencampuradukan antara yang hak dengan yang batil.

Selain shaum, rangkaian kegiatan pada bulan Sya’ban khususnya per tengahan, ditandai dengan kegiatan bersedekah dan sejenisnya. Ini menunjukkan adanya satu kesadaran umat menjelang tibanya bulan penuh maghfirah wa rahmah ini. Tak berlebihan jika bulan Sya’ban disebut sebagai pintu gerbang memasuki bulan Ramadhan.

Seluruh umat Islam menaruh harapan yang sangat kuat agar mereka diberi kesempatan memasuki Ramadhan karena di sanalah mereka akan dapat menanamkan kebaikan dan menuai hasil berlipat dibandingkan bulan-bulan yang lain. Mereka tak ingin membuang peluang emas yang tinggal beberapa saat dengan melakukan beragam kegiatan positif di akhir Sya’ban agar Allah SWT mengabulkan harapannya menuju Ramadhan.

Seperti melakukan sedekah di bulan Sya’ban, agar dengan sedekah itu dia mendapat perlindungan Allah SWT, dan dijauhkan dari bala’ bencana, sehingga mereka siap lahir dan batin menghadapi puasa Ramadhan. Dalam hadist riwayat Hakim, Nabi SAW bersabda: “Setiap orang itu dalam naungan sedekahnya, sehingga saat diputuskan antara seluruh manusia.” (HR Hakim). Nabi SAW menambahkan: “Bahwasanya sedekah itu dapat menjauhkan bala’ bencana.”

Rafi’ bin Khadij ra mengungkapkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah dapat menutup 70 pintu keburukan.” (HR Thabrani). ‘Amr bin Auf mengungkapkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah seorang muslim dapat menambah umur, menolak kematian buruk dan dengannya Allah akan menghilangkan rasa sombong dan angkuh.” (HR Thabrani, Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah). (Dikutip dari kitab Kasyful Gummah Fishtimaa’il Ma’rufi Warahmatil Ummah karya Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Malik, al-Hasanil Makki, terbitan Darusy Syuruq 1407 H, Jeddah, Saudi Arabia).

Sedekah (shadaqah) sebagai amal nyata yang membawa pengaruh sosial terhadap orang lain (fakir miskin) diharapkan membawa dampak kesehatan jasmani maupun rohani bagi yang melakukannya. Tentu apabila sedekah itu dilakukan secara proporsional yaitu menolong/membantu fakir miskin dengan membagikan paket sembako untuk modal puasa bukan hanya dalam bentuk acara makan-makan bersama.

Yasinan
Kegiatan membaca Alquran (Yasinan) dan doa juga merupakan upaya batiniah yang memiliki harapan agar supaya dengan membaca ayat suci Alquran, Allah SWT berkenan melimpahkan rahmat-Nya, dan dijadikan-Nya pula sebagai obat sebagaimana janji Dia: “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Tuhan kalian (Alquran) sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada di dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yunus 57).

Mengenai pahala membaca Alquran, Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa tiap-tiap orang yang membaca Alquran dalam sembahyang akan mendapat pahala lima puluh kebajikan untuk tiap-tiap huruf yang diucapkannya. Membaca Alquran di luar sembahyang dengan berwudhu’ pahalanya dua puluh lima kali kebajikan bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya dan membaca Alquran di luar sembahyang tanpa berwudhu’ pahalanya sepuluh kebajikan bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved