Jalan 3,5 Km Ribuan Warga Antar Abah

KH Zen Sukri memang betul-betul dicintai umat Islam

Tayang:
Penulis: admin | Editor: Bejoroy
zoom-inlihat foto Jalan 3,5 Km Ribuan Warga Antar Abah
Sripo/Sts
JALAN KAKI — Ribuan warga kota Palembang rela berjalan kaki mengantar Almarhum Ustadz KH Zen Syukri dari rumah duka menuju Masjid Agung Palembang untuk dishalatkan hingga dimakamkan di samping Masjid Nurul Hidayah, Jl Letnan Jaimas, Cinde, Jumat (23/3).

PALEMBANG, SRIPO — KH Zen Sukri memang betul-betul dicintai umat Islam Sumatera Selatan. Untuk mengantarkan jenazah Abah ke tempat peristirahatan terakhir, ribuan warga rela jalan kaki 3,5 Km, Jumat (23/3) siang. Saat itu suhu di Palembang diperkirakan 38 derajat Celsius.

Secara bergantian, warga mengusung keranda dari rumah duka di Jl Letnan Yasin menuju Masjid Agung untuk disalatkan lalu akhirnya menuju Masjid Nurul Hidayah, Cinde. Ribuan warga lainnya sudah tumpah ruah di Jl Letnan Jaimas. Mereka menyambut jenazah almarhum dengan pekik takbir dan tasbih.

Tidak sedikit warga dan murid-murid Abah Zen menangis dan berebut membawa keranda ke dalam masjid untuk kembali disalatkan begitu juga saat pemakaman.

Kgs KH Syafei Yunus, salah satu murid Abah, memimpin prosesi pemakaman dan selama itulah kalimat zikir bergema tanpa putus hingga pukul 14.30.

“Siapa yang mendoakan orang soleh maka Allah pasti akan mengabulkan,” kata Syafei Yunus yang langsung diaminkan ribuan jamaah yang hadir.

Syafei Yunus juga mengajak umat Islam untuk hadir di rumah duka pukul 20.00 hingga tujuh hari ke depan untuk bertakziah dan menghibur keluarga almarhum.

Abah Zen dimakamkan di samping halaman Masjid Nurul Hidayah. Di masjid yang didirikannya inilah, setiap minggu pagi, almarhum mengajarkan ilmu agama dan tauhid kepada murid dan jemaah.

“Dipilihnya halaman masjid Nurul Hidayah, sesuai dengan wasiat Abah,” kata Ibnu Athoillah, salah satu anak almarhum.

Beberapa tokoh masyarakat Palembang, seperti Kemas H Muhammad Halim, Sultan Raden Iskandar Mahmud Badaruddin dan para habib serta aparatur pemerintahan kota Palembang dan Pemprov Sumsel membaur bersama warga ikut pengantar pemakaman warga.

“Abah Zen seorang ulama yang sangat dihormati karena ilmu dan pribadinya yang lembut dan santun. Ia menjadi panutan dan tempat untuk bertanya. Kita semua kehilangan,” kata Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.

Karangan Bunga
Sementara pagi harinya, sebelum jenazah Abah Zen diantarkan ke Masjid Agung, Ketua DPR RI H Marzuki Alie yang baru tiba di Palembang langsung menuju rumah duka Jl Letnan Yasin. Marzuki berdoa untuk Abah Zen yang sangat dekat dengannya. Ia juga ikut salat jenazah.

Marzukie Alie mengatakan, KH Zen Syukri merupakan sosok yang tidak terlepas dari dakwa, untuk mengajarkan akidah dan tauhid.

“Beliau selalu mengajarkan akidah dan tauhid, yang melekat pada kita bagaimana kita mampu, menghadirkan Allah dalam setiap tindak tanduk kehidupan kita sehari-hari. Apakah dalam salat, makan, minum dan lainnya sehingga kita menghadirkan kebaikan,” ungkap Marzuki.

Selain itu, juga terlihat Walikota Palembang H Eddy Santana Putra dan mantan Gubernur Sumsel Syahrial Oesman. Sedangkan dari kalangan ulama dan ustaz sudah tidak terhitung lagi jumlahnya yang hadir dan memberikan doa. Misalkan ada Ketua Umum Forum Pondok Pesantren Sumsel H Hendra Zainuddin, H Solihin Hasibuan, KH Sarifuddin Yakuf, dan KH Mudaris.

Sementara ratusan karangan bunga sebagai tanda bela sungkawa dari berbagai tokoh masyarakat, Ormas dan pemerintahan terus berdatangan. Bahkan tidak kebagian tempat lagi. Ucapan duka dalam bentuk karangan bunga datang dari Presiden RI SBY, Ketua MPR RI H Taufik Kiemas, Menko Kesra Hatta Radjasa dan terlihat juga karangan bunga dari Hj Megawati Seokarno Putri. Sedangkan dari pemerintahan juga terlihat ucapan duka dari Gubernur Sumsel H Alex Noerdin SH dan para walikota/bupati se-Sumsel, termasuk tokoh lintas agama di Sumsel.

Pantauan Sripo, warga yang sedang berada di jalan saat dilintasi almarhum tampak memberi doa, dan pengendara berhenti sebagai penghormatan terakhir. Sedangkan begitu jenazah melewati di bawah jembatan penyeberangan, warga dengan sendirinya berhenti menaiki jembatan sebagai tanda penghormatan terhadap jenazah ulama tersebut.

Untuk mengamankan arus lalulintas agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aparat Polantas dari Polresta Palembang menurunkan puluhan personilnya, dengan menempatkan setiap personil di setiap jalan lorong yang dilintasi iring-iringan jenazah.(sin/mg15)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved