Masyarakat Gaptek
ADA seorang sahabat saya dalam account
Penulis: admin | Editor: Bejoroy
(Dosen IAIN Raden Fatah dan Mahasiswa Program Doktor Komunikasi UNPAD)
ADA seorang sahabat saya dalam account jejaring sosialnya menuliskan, “Zaman gini hari masih menggunakan FB untuk sekedar memaki, memfitnah, dan berkata jorok, apa kata dunia? Kesel deh...”. Statusnya ini kemudian mendapat respon dari beberapa temannya yang lain dengan berbagai macam pendapat. Ada yang kemudian mengusulkan supaya dibuat saja buku tentang etika penggunaan situs jejaring sosial. Perbincangan jadi ramai hingga kemudian berhenti dengan sendirinya dan beralih pada isu lain.
Contoh di atas mungkin hanya sedikit dari sekian banyak kasus lain dalam penggunaan media baru yang mengandalkan kecanggihan teknologi informasi. Pada kasus lain bisa pula dilihat seorang pengendara sepeda motor yang dengan santainya mengemudikan kendaraan sambil menelpon pakai telpon selular. Tak peduli tindakannya mengganggu pengguna jalan yang lain, ia tetap asyik dengan obrolannya. Atau pada kasus lain, orang begitu mudahnya merekam dan mengunggah adegan porno ke internet, seolah ingin “mengaktualisasikan” dirinya ke publik. Publikpun dengan mudahnya pula menonton adegan itu.
Kasus di atas bisa sedikit mencerminkan bagaimana realitas penggunaan teknologi komunikasi di masyarakat. Dari sekian banyak efek positif yang dihadirkan teknologi ini, efek negatif juga tidak sedikit muncul ke permukaan. Pertanyaan mendasar adalah apakah memang masyarakat kita telah siap dengan segala kecanggihan ini ataukah justru kita masih berada pada taraf orang-orang yang gaptek (gagap teknologi), bingung dengan dunia virtual yang hadir begitu cepat.
Situs jejaring sosial (facebook, twitter, dsb), adalah satu fenomena. Selain menampilkan sisi positif pertemanan, ekses negatif juga terjadi. Mulai dari ajang saling caci maki, tempat curhat, mencari kawan, hingga kasus penculikan. Di lain sisi, internet dengan kelengkapan data dan kemudahan mengaksesnya menjadi bank data bagi banyak pihak. Alhasil, tak sedikit kasus plagiat muncul dengan cukup melakukan copy data dari berbagai situs penyedia informasi.
Dari sekian banyak kasus miring, yang cukup menarik dicermati adalah fenomena penggunaan telepon selular/handphone (HP). Alat ini hakekatnya adalah sarana komunikasi untuk berhubungan dengan orang lain. Kalaupun kemudian dilengkapi dengan berbagai fitur yang membuatnya bagaikan komputer berjalan, fungsi dasar tetap sebagai alat menelpon. Jika fungsinya untuk menelpon, tentu harusnya berlaku pula etika-etika umum dalam menelpon. Etika yang akan menunjukkan bagaimana kualitas masyarakat dalam menyerap kemajuan TI tersebut.
Sebuah pemandangan biasa pengendara sepeda motor ataupun mobil asyik menelpon sambil menyetir, tanpa peduli dengan keadaan sekitar dan pengguna jalan lainnya. Padahal ini jelas beresiko fatal. Logikanya, menelpon sambil menyetir, sudah bisa dipastikan konsentrasi akan terpecah. Kehilangan konsentrasi akan berefek pada rentannya terjadi kecelakaan yang tidak saja membahayakan si penelpon, tetapi juga orang lain. Tak heran, jika beberapa daerah (seperti Pemprov DKI Jakarta) pernah mengeluarkan larangan menelpon sambil menyetir mobil.
Untuk Palembang dan kota-kota besar lainnya, fenomena sesat pikir dalam pemanfaatan teknologi ini, sepertinya sudah jadi hal biasa. Analisis apa yang bisa diberikan terhadap hal itu? Saya lebih cenderung menyebutnya sebagai masyarakat “gaptek” (gagap teknologi), imbas dari politik globalisasi di bidang teknologi informasi. Kemajuan teknologi informasi yang tidak berbanding lurus dengan kemajuan pola pikir masyarakat. Maka jadilah, masyarakat kita penikmat atau sekedar latah. Menjadi konsumen TI tapi tak paham hakekat dan etika dalam pemanfaatan teknologi tersebut.
Meminjam pandangan Alvin Tofler yang membagi peradaban masyarakat dalam tiga gelombang (Third Wave) yaitu, era pertanian, era industri, dan era informasi, maka potret terhadap masyarakat saat ini sedikit banyak menyerupai hal itu. Tofler berasumsi bahwa peradaban manusia itu saling meniadakan antara era yang ada. Pada saat berada di era informasi, era industri sudah harus dilewati. Dalam proses tersebut ada proses pematangan terlebih dahulu, baru kemudian memasuki era berikutnya. Sudah ada kesiapan sebuah masyarakat sebelum menempuh tingkatan yang lebih lanjut.
Kondisi yang berbeda justru dialami masyarakat kita. Masyarakat tanpa kejelasan berada di gelombang yang mana. Secara faktual kita berada di era informasi dengan berbagai instrumen kemajuan teknologi. Tapi mentalitas dan prilaku masyarakat masih menunjukkan kaum agraris yang tradisional. Prilaku melek teknologi dimaknai sebagai euforia belaka, asal mengikuti trend dan sekedar gaya hidup. Tipologi seperti ini menempatkan kehidupan masyarakat yang tergagap-gagap oleh kemajuan TI. Akibatnya, pilar-pilar budaya dan norma-norma etika dan moral menjadi kabur bahkan dianggap sebagai sesuatu yang kuno.
Gayung bersambut dengan tipe masyarakat seperti itu, TI semakin merangsek masuk dan memberikan berbagai fasilitas dan kemudahan. Bertemulah masyarakat yang tidak memiliki basis perpindahan antar masing-masing era dengan gempuran teknologi.
Membebankan kesalahan kepada kelompok masyarakat yang tidak siap, bisa dijadikan satu sisi pembenahan yang harus dilakukan. Hal ini harus dimulai dengan pemahaman mendasar bahwa kemajuan teknologi tidaklah berdiri sendiri.
Kekuatan kemajuan TI dan menjadikan Indonesia sebagai pangsa pasar dan kelompok konsumen terbesar, tak lepas dari mekanisme hegemoni global dari kelompok negara-negara yang sudah menamatkan era industrialisasi mereka. Buah dari kemajuan era industri itulah yang kemudian dilemparkan pada masyarakat dunia ketiga, kelompok yang tidak menamatkan masa-masa industri.
Pada titik inilah kekuatan global bermain, karena itu tak usah heran bahwa kemajuan TI yang sekarang dinikmati tak lebih dari semakin mensejahterakan kekuatan global dan memanjakan kelompok negara berkembang sebagai pasar paling potensial. Hal ini terbukti dari sekian banyak merek-merek simbol TI, tak satupun yang murni dari Indonesia. Yang terjadi adalah pabrikan, buruh, tenaga kerja, dan ekses negatif dirasakan oleh orang Indonesia. Modal, keuntungan, dan setumpuk sisi positif lari ke negara lain.
Jika tak ada upaya pembenahan dan persiapan untuk penguatan akan hakekat TI, maka kita akan senantiasa menjadi komunitas masyarakat Gaptek, Gagap Teknologi. Indikatornya gampang, selagi masih menelpon sambil menyetir, selagi masih gemar “bermain” video porno, atau sekedar terlena oleh program sejuta laptop untuk biasa bermain facebook, maka itulah orang-orang Gaptek.