Jembatan Musi II Rapuh

Mulai dioperasikannya angkutan batubara

Jembatan Musi II Rapuh
pu.go.id
Jembatan Musi II
PALEMBANG, SRIPO —Mulai dioperasikannya angkutan batubara menggunakan tongkang yang ditarik tugboat, dikhawatirkan menjadi ancaman serius bagi Jembatan Musi II. Pasalnya, jembatan rangka baja ini tidak didisain menahan benturan tongkang dengan bobot 15.000 ton.

Sementara untuk Jembatan Ampera, dipastikan aman karena sudah dipasang fender dengan bobot dan disain sesuai dengan saran yang diberikan konsultan yang ditunjuk PT Bukit Asam.
“Mudah-mudahan tongkang batubara tidak melintas di Musi II. Sebab, kalau masih dilintasi, siapa yang bisa menjamin kalau fender jembatan tidak tertabrak. Kalau bisa jangan sampai melalui Musi II,” pinta Kepala Satkes Jalan dan Jembatan Metropolis Kementerian PU Ir Aidil Fikri MT, Senin (9/1).

Menurutnya, di Jembatan Musi II memiliki bentangan dari tiang penyangga yang satu ke lainnya dengan jarak 40-50 meter, sedang bentangan terpanjang ada di tangah jembatan, yakni 100 meter.
Bentangan ini menjadi alur lalu lintas kapal baik dari hulu dan hilir. Di tiang penyangga antara bentangan terdapat dua fender (tiang pengaman jembatan) yang hanya didisain untuk menahan tiang jembatan dari tertabrak tugboat kecil dan menahan arus sampah. Berbeda dengan fender yang dibangun di Jembatan Ampera, yang sengaja didisain untuk menahan benturan berat seperti tongkang batubara.

Aidil justru khawatir jika tongkang batubara melintas di Musi II, dipastikan jembatan alternatif yang menghubungkan Palembang Ulu dan Palembang Ilir sisi barat ini akan bernasib sama dengan Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) yang ambruk beberapa waktu lalu. “Jembatan Kukar mengalami enam kali tertabrak tongkang batubara karenanya banyak baut jembatan yang tertarik. Hanya saja, dalam perbaikannya ada kesalahan teknis sehingga ambruk. Kita tidak mau Musi II terjadi seperti itu,” katanya.

Dikatakan Aidil, ia mengemukakan hal ini bukan dengan maksud menghambat laju kegiatan pertambangan batubara, tetapi lebih mengingatkan agar semua pihak berhati-hati dan melakukan antisipasi secara cepat sehingga tidak berdampak buruk bagi Musi II dan Jembatan Ampera.

“Untuk Ampera, saya tidak begitu khawatir, terlebih saat ini sudah dibangun fender yang dirancang sesuai hasil konsultan PTBA dengan bobot tongkang 15.000 ton. Tapi kalau Musi II, ia tidak didisain untuk menahan benturan berat,” katanya.

Walikota Palembang, Eddy Santana Putra kepada wartawan, Senin (9/1) mengatakan dari dulu pihaknya sudah menyiapkan dermaga khusus untuk lintasan tongkang pengangkut batubara. Tongkang ini disiagakan di dermaga Kertapati, namun tidak dimanfaatkan maksimal. “Mereka malah tetap pilih jalur darat, ya terserah,” ucap Walikota.

Di dermaga Kertapati, tongkang bisa mengangkut muatan kesemua tujuan, Lahat, Muaraenim melalui Sungai Musi atau langsung ke Palembang dari lokasi tersebut. Dari sisi ekonomis justru kapasitas angkut tongkang lebih besar dibanding muatan truk. Menurut Eddy, muatan truk hanya mampu mengangkut 6 ton, namun tongkang dalam sekali jalan bisa 6.000 sampai 10 ribu ton. “Ini kapasitas angkut maksimal, malah sejak dulu kita sudah dorong mereka memanfaatkan dermaga Kertapati,” kata Eddy.

Dia setuju jika angkutan batubara dialihkan ke jalur sungai. Moda transportasi sungai  akan lebih ramai dan secara tidak langsung akan menghidupkan perekonomian sepanjang jalur sungai musi. Kedepan, lanjut Eddy, pihaknya siap membuat aturan khusus untuk pemanfaatan jalur angkut batubara sungai ini untuk menambah pendapatan asli daerah.

Sementara jajaran Dinas Perhubungan dan Infokum (Dishub-Infokom) Sumsel melalui Kasubdin Pelabuhan dan Angkutan Sungai Dimyati Lipur dan Kasubdin LLAJ Sidueman HN, keduanya tidak dan belum mengetahui jenis tongkang dan lalu lintas yang dipakai untuk jalur angkutan batubara.
Bahkan menurut Dimyati, ia belum mengetahui, bahkan sedikit terkejut saat Sripo menanyakan rute perjalanan kapal. “Nah soal itu, saya belum tahu apakah melintas di jalur Sungai Musi II atau tidak,” katanya.

Sementara Sudirman memastikan tongkang batubara melintas di bawah Jembatan Musi II karena memang tidak ada alternatif jalur sungai lain, terlebih terhitung 1 April mendatang, kendaraan truk Colt Diesel jenis PS kapasitas di bawah 12 ton juga dilarang melintas di jalur jalan umum sehingga dipastikan angkutan tongkang menjadi alternatif hingga menunggu pembangunan rel KA double track rampung.

“Mau tidak mau melintas di bawah Jembatan Musi II, tetapi mungkin perlu dilakukan antsipasi dan pengawasan. Kami akan rapat lagi di 12 Januari ini, membahas angkutan batubara,” katanya. (sin/sta)

Penulis: admin
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved