Hadiah untuk Gyan

GAGAL meraih medali emas di nomor butler

GAGAL meraih medali emas di nomor butler putra dan hanya meraih perak beberapa hari yang lalu menjadi cambuk bagi pasangan Robert P Tobing dan Taufik G Asbi. Terwujud dengan menjadi yang terbaik dalam kategori Men’s Open Pairs dengan total poin 283 atau 58,96% dari point maksimal 480 pada SEA Games XXVI 2011 di Hotel The Jayakarta Palembang, Minggu (20/11).

“Kira-kira begitulah. Targetnya memang kita mesti menang. Karena memang permainannya ketat sekali. Dari awal pemain Filipina Francico Alquiros dan George Soo leading. Mereka ini yang dapat emas di butler putra. Kemudian tadi kita kejar,” ungkap Taufik G Asbi usai memenangkan pertandingan.

Posisi kedua ditempati pasangan Singapura Poon Hua/Loo Choon Chou dengan total point 265, sedangkan medali perunggu dengan total point 257 diambil Kridsadayut/Terasak Jitngamkusol dari Thailand dan Kelvin Ng/Fong Kien Hoong dari Singapura.

Medali emas yang diraihnya ini, selain dipersembahkan untuk negara. Taufik juga ingin menjadikan sebagai hadiah terindah untuk putranya Gyan (6) yang sedang menggandrungi belajar catur.
Keberhasilan Taufik G Asbi berpasangan dengan Robert Tobing memetik medali emas ketiga Indonesia ini menyusul emas pertama yang dipersembahkan istrinya Lustje Olha Bojoh yang bermain di nomor tim putri.

“Kita bersyukur sama-sama sudah dapat emas. Istri saya, Lustje juga dapat emas di nomor tim putri. Memang untuk pemain bridge harus cukup istirahat. Kita sekamar bertiga. Saya Robert Tobing dan Noldy,” ucap pria berdarah Minangkabau, kelahiran Balikpapan, 30 September 1966.

Bapak dua anak bernama Gyan dan Axel (4) buah pernikahannya dengan pebrigde putri, Lustje Olha Bojoh pada 2005 lalu ini rupanya selain mengajar privat bridge juga senang menulis bridge dan novel.

“Banyak buku-buku saya di Gramedia. Saya juga investment manager, usaha kecil, dan nulis. Untuk mengajar bridge sekarang ini  stop dulu karena konsentrasi Pelatnas jangka panjang,” terang pebridge yang pernah meraih juara Asia di China 2010 dan juara II Kejuaraan Dunia di Montreal Kanada 2002.

Makanan pempek bukanlah makanan yang asing di lidah anak keempat dari lima bersaudara pasangan Ab Idris dan Ardiani. Pasalnya di akhir tahun 1970-an ayahnya pernah bertugas di Pertamina Prabumulih.

Taufik berharap ke depan, pebridge muda bisa lebih berkiprah dan mudah-mudahan pemerintah maupun pengurus PB Gabsi (Gabungan Bridge Seluruh Indonesia) lebih memperhatikan atlet berprestasi.
“Sekarang ini yang main seumur saya, kedepan ada regenerasilah. Di Indonesia belum bisalah dikatakan perhatian untuk sejahtera atlet bridge. Tapi kalau di luar negeri sudah ada yang profesional,” kata pria yang berdomisili di Kelapa Dua Depok.   

Robert/Taufik tanpa kesulitan berarti dapat mengalahkan peserta lain pada putaran 11 yang merupakan putaran terakhir sekaligus memastikan diri menambah perolehan medali emas Indonesia.
(fiz)

Penulis: admin
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved