Pempek Wong Kito Laris di Amsterdam

Pempek Wong Kito Laris di Amsterdam

Faridah Triana (kiri) dan temannya saat membuka stan pada acara Family Dag, di Amsterdam, Belanda, Sabtu (2/10).

Sripo/Dok

SEPERTI kegiatan Gong Festival pada bulan Juni 2010, kali ini orang-orang Indonesia yang bermukim di Negara Belanda kembali menggelar kegiatan amal sekaligus silaturahim. Acara dinamai Family Dag, berlangsung Sabtu (2/10) lalu di Burgemeester Hogguerstraat 2 1064 EB 64 EB Amsterdam.

 Saya sendiri sangat semangat mengikuti kegiatan ngumpul-ngumpul WNI di Belanda. Meski tidak sepopuler acara KBRI seperti pasar malam, namun kegiatan ini tetap ramai didatangi WNI. Sedikitnya 400 orang hadir.

 Kegiatan diisi dengan acara kesenian menampilkan kesenian Lenggong dari Bali. Ada juga penampilan Karina Band, pencak silat, Ronggeng Gajen dari Jakarta, Cakalele, dll.

 Setiap acara pertemuan seperti ini, yang seru adalah adanya stan-stan makanan khas Indonesia. Salah satunyo Pempek Duo Uilenstede, makanan khas wong kito yang singgah di Negeri Kincir Angin. Saya sendiri yang membuatnya. Di Belanda Pempek Cek Ida --begitu orang menyebutnya-- lumayan cukup dikenal masyarakat Indonesia, terutama mahasiswa dari Jawa, Sumatera atau Kalimantan yang sedang studi di Belanda.

 Selain pempek, saya juga membuat nasi kuning, urapan, spekoek. Alhamdulillah jualan saya laris. Dari 100 kotak pempek, hanya tersisa lima kotak untuk makan sendiri. Pempek, saya jual 5 Euro (satu Euro = Rp 11.000) per porsi terdiri dari pempek kapal selam, mie dan cuko).

 Membuat pempek di Belanda bukan perkara susah. Bahan-bahan mudah ditemukan di Toko Oriental, toko Asia terbesar di Eropa. Semuanya ada mulai dari bahan ikan untuk pempek dan bahan lainnya.

Harapan kita makanan khas Palembang, dapat diterima dan lebih dikenal di Belanda. Tidak hanya untuk orang Indonesia tapi juga buat orang-orang bule tentunya.

 Odhie Mano--salah satu mahasiswa asal Palembang di Belanda-- yang selalu aktif dalam setiap kegiatan orang-orang Indonesia mengharapkan jangan hanya makanan saja tetapi kain songket Palembang juga bisa dikenal orang-orang di sana.

 Saya sendiri bernama Faridah Triana. Tinggal di Belanda sejak Agustus 2008 memboyong dua buah hati saya Masayu Siti Nabila dan Masayu Putri Salsabila dalam rangka ikut suami Masagus Muhammad Ridhwan menuntut ilmu. Suami sedang mengambil S3 jurusan Ekonomi di Vrije University Amsterdam Grad Student.

(faridah triana)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved