Berita Luibuk Linggau

Diserang Hama Tikus dan Burung Pipit Bersamaan, Petani Padi di Lubuk Linggau Sumsel Merugi

Petani di Kelurahan Tabah Jemekeh, Lubuklinggau, merugi akibat serangan hama burung pipit pada siang hari dan tikus pada malam hari secara bersamaan.

Tayang:
Penulis: Eko Hepronis | Editor: tarso romli
Sripoku.com/Eko Hepronis
KONDISI PADI - Kondisi padi milik petani di Kelurahan Tab Jemekeh Lubuk Linggau Timur 1 karena diserang hama tikus dan burung Pipit secara bersamaan, Minggu (17/5/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Petani di Kelurahan Tabah Jemekeh, Lubuklinggau, merugi akibat serangan hama burung pipit pada siang hari dan tikus pada malam hari secara bersamaan.
  • Dari kapasitas normal 6–7 kuintal beras per hektare, hasil panen musim ini diprediksi anjlok hingga hanya menyisakan 1,5 kuintal beras akibat kerusakan tanaman.
  • Petani mempertanyakan kinerja Dinas Pertanian Lubuklinggau dan mendesak adanya bantuan darurat berupa obat hama, perangkap, serta pendampingan teknis di lapangan.

Baca juga: Hilal Tidak Terlihat di Palembang, Lebaran Iduladha Diperkirakan Jatuh Pada Tanggal 27 Mei 2026

SRIPOKU.COM, LUBUK LINGGAU – Para petani padi di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan (Sumsel), kini tengah dirundung kecemasan. Hasil panen padi mereka pada musim ini terancam anjlok drastis akibat serangan masif dari hama burung pipit dan tikus yang terjadi secara bersamaan, Minggu (17/5/2026).

Serangan dualisme hama ini dilaporkan melanda area persawahan di Kelurahan Tabah Jemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur I.

Kondisi ini membuat para petani setempat terancam mengalami gagal panen (puso) sebagian.

"Separuh lebih tanaman padi kami sudah habis dirusak tikus dan burung. Sisa yang bisa diselamatkan dan dipanen sekarang nyaris tinggal seperempatnya saja," keluh Sahlin, salah seorang petani setempat, Minggu.

Sahlin menceritakan, serangan hama ini mulai menggila sejak bulir padi memasuki fase menguning sekitar sebulan yang lalu.

Pola serangan terjadi tanpa henti sepanjang hari; hama burung pipit merusak tanaman pada siang hari, sementara kawanan tikus melanjutkan perusakan pada malam hari.

"Berbagai upaya mandiri sudah saya lakukan, mulai dari penyemprotan kimia, memasang jaring pelindung, hingga menebar racun tikus. Tapi populasi hamanya terlalu banyak dan seperti tidak takut lagi dengan manusia," jelasnya.

Akibat dampak kerusakan tersebut, produktivitas lahan milik Sahlin menurun tajam. Dari total luasan satu hektare lebih yang biasanya mampu menghasilkan 6 hingga 7 kuintal beras, musim ini ia memperkirakan hanya bisa mengantongi maksimal 1,5 sampai 2 kuintal beras saja.

Melihat skala serangan yang kian meluas, Sahlin secara terbuka mempertanyakan sejauh mana kepekaan dan peran nyata dari Dinas Pertanian Kota Lubuklinggau dalam merespons keluhan di tingkat bawah.

Menurutnya, penanganan secara manual oleh petani sudah tidak lagi efektif dan membutuhkan intervensi teknis dari pemerintah daerah.

“Kami sudah maksimal pasang jaring hingga alat pengusir suara, tetapi hama tetap datang. Kalau begini terus, kami bisa gulung tikar. Kami ingin bertanya, ke mana peran Dinas Pertanian? Apakah ada solusi atau bantuan nyata untuk kami?” cetus Sahlin.

Para petani berharap Dinas Pertanian Kota Lubuklinggau segera turun ke lapangan untuk melakukan pendataan menyeluruh serta meluncurkan program gerakan pengendalian hama terpadu.

Mereka sangat membutuhkan stimulus bantuan berupa perangkap tikus, obat pengusir burung yang aman, serta pendampingan teknis dari penyuluh pertanian lapangan (PPL).

 Simak berita menarik lainnya di sripoku.com dengan mengklik Google News.

Baca juga: Oknum Anggota TNI Tembak TNI di Palembang, Kabar Terkini Sertu MMR di Tangan Penyidik Denpom

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved