Berita Nasional

Prabowo Heran Dikritik Kerap ke Luar Negeri, Tegaskan Undangan dari Pemimpin Dunia Harus Dihadiri

Presiden RI Prabowo Subianto menanggapi sorotan publik terkait intensitas kunjungan kerjanya ke luar negeri.

Tayang:
Editor: Odi Aria
Tribunnews.com
PRABOWO KETEMU PUTIN- Prabowo Tiba di Moskow untuk Bertemu Putin Bahas Kerjasama Energi pada, Senin (13/4/2026). Prabowo Subianto mengaku heran karena sering disorot akibat banyak melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. 

Ringkasan Berita:
  • Presiden RI Prabowo Subianto mengaku heran karena sering disorot akibat banyak melakukan kunjungan kerja ke luar negeri
  • Prabowo menegaskan kunjungan ke berbagai negara merupakan bagian dari pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif Indonesia
  • Menurutnya, undangan dari pemimpin dunia seperti Donald Trump, Vladimir Putin, dan Xi Jinping harus dihadiri sebagai bentuk penghormatan dan upaya menjaga hubungan baik dengan semua negara

SRIPOKU.COM, JAKARTA- Presiden RI Prabowo Subianto menanggapi sorotan publik terkait intensitas kunjungan kerjanya ke luar negeri yang dinilai terlalu sering dalam beberapa bulan terakhir.

Saat menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) XVIII di Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026), Prabowo mengaku heran karena apa pun yang dilakukan seorang presiden kerap menjadi bahan kritik publik.

Menurut Prabowo, kondisi tersebut juga pernah dialami Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang saat menjabat justru sering dikritik karena dinilai jarang menghadiri undangan negara-negara sahabat.

"Jadi ada presiden seperti Pak Jokowi yang jarang ke luar negeri disalahkan, dibilang tidak peduli politik luar negeri. Saya sering ke luar negeri juga dipersoalkan. Aneh," kata Prabowo.

Prabowo menegaskan bahwa kunjungan luar negeri yang dilakukannya merupakan bagian dari pelaksanaan politik luar negeri Indonesia yang menganut prinsip bebas aktif.

Menurutnya, Indonesia harus menjaga hubungan baik dengan semua negara tanpa memihak blok tertentu dalam percaturan geopolitik dunia.

Karena itu, jika mendapat undangan dari pemimpin negara-negara besar dunia, Indonesia perlu hadir sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjaga kepentingan nasional.

"Kalau Presiden Amerika Serikat mengundang Presiden Indonesia, masa tidak datang. Presiden Rusia mengundang juga harus hadir. Presiden China mengundang juga harus hadir," ujarnya.

Prabowo mengatakan Indonesia saat ini memiliki posisi strategis di dunia internasional. Selain menjadi negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia juga aktif dalam berbagai organisasi internasional seperti G20, APEC, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), hingga BRICS.

Menurutnya, kehadiran Indonesia dalam berbagai forum internasional merupakan bagian dari upaya memperjuangkan kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia.

"Ini risiko negara yang sahabatnya banyak. Kita diundang ke berbagai forum dunia dan harus hadir untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia," katanya.

Sorotan terhadap frekuensi kunjungan luar negeri Prabowo sebelumnya disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal melalui video yang diunggah di media sosial.

Dalam video tersebut, Dino meminta Presiden Prabowo mempertimbangkan untuk mengurangi perjalanan luar negeri dan memperhatikan kritik masyarakat yang menilai kunjungan tersebut berpotensi membebani anggaran negara di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Menanggapi hal itu, Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa kunjungan luar negeri Presiden merupakan bagian dari implementasi politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dianut Indonesia.

Menurut Sugiono, Indonesia harus aktif membangun komunikasi dengan seluruh negara dan hadir dalam berbagai forum internasional guna memperkuat posisi diplomasi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.

Ia juga memastikan setiap kunjungan Presiden ke luar negeri telah direncanakan secara matang dan mempertimbangkan kepentingan nasional serta perkembangan situasi dunia yang terus berubah.

"Kita harus berkawan dengan semua pihak dan hadir di berbagai forum internasional. Itu bagian dari amanat konstitusi dan peran Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia," ujar Sugiono.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved