Penembakan di Banyuasin

Terkuak Alasan Hadi Tembak Sopir Angkot di Banyuasin hingga Tewas

Tragedi berdarah di antrean Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Desa Limau

Penulis: Ardiansyah | Editor: Yandi Triansyah
Dokumen Polisi
PELAKU - Pelaku Hadi saat menjawab pertanyaan Kapolres Banyuasin AKBP Ruri Prastowo terkait kronologis kejadian penembakan yang dilakukannya, Rabu (22/10/2025). 

SRIPOKU.COM,BANYUASIN – Tragedi berdarah di antrean Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Desa Limau, Banyuasin ternyata dipicu oleh perselisihan kecil. 

kejadian itu mulanya dipicu oleh saling serobot antrean saat pelaku dan korban terlibat antre untuk mengisi BBM. 

Akibat kejadian itu, seorang sopir angkot Oberta meninggal dunia dan seorang korban lainnya mengalami luka tembak. 

Sedangkan pelaku Hadi Siswanto kini telah diamankan Polres Banyuasin. 

Baca juga: Sosok Hadi Siswanto Eksekutor Penembak Sopir Angkot hingga Tewas, Pemilik OYO di Banyuasin

Pengakuan pelaku membuka tabir betapa tipisnya batas antara kesabaran dan ledakan amarah yang berujung fatal.

Di hadapan Kapolres Banyuasin AKBP Ruri Prastowo saat konferensi pers pada Rabu (22/10/2025), Hadi Siswanto (31) mengaku didorong oleh rasa kesal yang tak terbendung. 

Titik awal insiden yang menewaskan Oberta (35) dan melukai Dwi (27) adalah perebutan posisi antrean.

"Saat maju, pertama saya dilarang dan malah menyuruh mobil angkot yang maju. Aku mengalah dan mau masuk lagi, tetapi tidak disuruh, jadi ribut," kata Hadi.

Pengakuan "Aku mengalah" itu menyiratkan betapa kecilnya pemicu yang menyulut emosi Hadi. 
Antrean BBM yang bercabang dua menjadi panggung awal perseteruan. 

Ketika Hadi berupaya memajukan kendaraannya, ia mendapat larangan dan malah dipersilakan agar angkot yang maju terlebih dahulu. 

Kekesalan atas larangan dan penolakan untuk masuk antrean lagi itulah yang memicu keributan.

Rupanya, cekcok di SPBU tidak lantas mereda. Merasa kesal, Hadi, bersama dua rekannya, mengejar korban Dwi hingga ke Desa Tanjung Agung, Jalan Lintas Palembang–Betung KM 41.

Setibanya di lokasi, menurut pengakuan Hadi, mereka sudah ditunggu oleh Dwi dan Oberta beserta tiga orang lainnya. Situasi memanas karena, sebut Hadi, salah satu dari kelompok korban membawa kayu dan lainnya membawa obeng.

Keributan pun tak terhindarkan. Merasa kalah tenaga, Hadi mengakui mengambil keputusan fatal. Ia mengambil senjata api jenis FN yang telah ia simpan di dalam mobilnya selama lebih dari empat tahun.

"Senjata itu sudah 4 tahun lebih di saya. Senjata itu saya peroleh dari kawan," pungkasnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved