'Broken Strings' Aurelie Moeremans Viral, Psikolog : Bahaya Membaca Kisah Trauma Saat Mental Rapuh
Viral buku Broken Strings Aurelie Moeremans ungkap masa lalu kelam. Psikolog ingatkan bahaya trigger bagi pembaca trauma.
Penulis: Siti Umnah | Editor: Refly Permana
SRIPOKU.COM - Belakangan ini, jagat literasi dan media sosial tengah ramai membicarakan buku memoar terbaru karya aktris Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings.
Buku ini mendadak menjadi perbincangan hangat lantaran keberanian Aurelie membongkar sisi kelam masa lalunya yang penuh luka.
Namun, di balik gelombang simpati dan rasa penasaran publik, muncul sebuah peringatan penting dari para ahli kesehatan mental.
Ternyata, buku bertema trauma berat seperti ini tidak bisa dikonsumsi secara sembarangan oleh semua orang di waktu yang bersamaan.
Baca juga: Cinta Laura Puji Keberanian Aurelie Moeremans pasca Buku Broken Strings Viral Pulih dan Bertahan
Membedah Luka Aurelie Moeremans dalam 'Broken Strings'
Buku Broken Strings bukan sekadar catatan harian biasa.
Di dalamnya, Aurelie secara terbuka memaparkan pengalaman personalnya yang sangat kelam, mulai dari praktik grooming, manipulasi emosional yang ekstrem, hingga terjebak dalam pernikahan di bawah ancaman sejak usianya masih sangat remaja.
Memoar ini banyak dicari karena memberikan perspektif jujur tentang "relasi beracun" (toxic relationship) yang jarang dibuka ke publik oleh figur ternama. Banyak pembaca merasa terinspirasi oleh kekuatan Aurelie untuk bangkit.
Namun, di sisi lain, tidak sedikit pembaca yang melaporkan munculnya rasa sesak, gelisah, dan ketidaknyamanan emosional yang tiba-tiba saat menyerap setiap kata dalam buku tersebut.
Peringatan Psikolog: Risiko 'Reopening Wounds'
Menanggapi fenomena ini, Psikolog Klinis Rumah Sakit Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., memberikan pandangan kritis.
Menurutnya, membaca kisah trauma orang lain secara mendalam bisa menjadi pemicu (trigger) yang sangat kuat bagi kesehatan mental pembaca.
"Buku bertema trauma bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi memberikan pemahaman, tapi di sisi lain bisa membuka kembali pintu ingatan emosional lama yang belum sepenuhnya pulih," ujar Yustinus dalam keterangannya yang dikutip dari Kompas.com, Rabu (13/1/2026).
Ia menegaskan bahwa munculnya perasaan tidak nyaman saat membaca bukan berarti si pembaca lemah, melainkan sebuah sinyal biologis bahwa kondisi mental mereka sedang dalam keadaan rentan atau belum siap menghadapi narasi serupa dengan luka pribadinya.
Sinyal Tubuh: Kapan Anda Harus Berhenti Membaca?
| Deraian Derita Clara Shinta Alami Trauma pasca Pergoki Suami VCS, Akui Mental Hancur Butuh Psikolog |
|
|---|
| Sosok Psikolog Pertemukan Ressa Dengan Denada, Bikin Putri Emilia Contessa Bisa Selfie Bareng Anak |
|
|---|
| Reza Arap Akhirnya Jujur Ungkap Kondisi Mental pasca Ditinggal Lula Lahfah Selamanya, Akui Hancur |
|
|---|
| Bukan Pemerasan, Rektor Unsri Klaim Mahasiwi PPDS Korban Perundungan Diminta Sumbangan Rp 100 Ribu |
|
|---|
| Mulut Kasar Roby Tremonti Tuding Buku Aurelie Moeremans Karya AI, Kelakuannya Dicibir 'Hati-hati' |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Broken-Strings.jpg)